SuaraBanyuurip.com – Ancaman perundungan siber atau cyberbullying mengintai mayoritas remaja di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Survei Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro terhadap 1.282 siswa SMA/SMK mengungkapkan, sebanyak 52,5 persen responden pernah menyaksikan langsung aksi cyberbullying di ruang digital, dengan 25 persen di antaranya masuk dalam kategori berisiko tinggi akibat minimnya pemahaman pemulihan dan penanganan.
Tantangan ini kian mengkhawatirkan seiring maraknya kebiasaan waktu tatap layar berlebihan, di mana 83,5 persen siswa terbiasa berselancar larut malam dan separuh lebih di antaranya menghabiskan waktu dengan gawai melebihi 4 jam sehari.
“Data ini mengonfirmasi bahwa tantangan utama remaja kita bukan lagi masalah akses internet, melainkan bagaimana membentuk perilaku digital yang sehat, aman, dan etis,” tegas Ketua PDPM Bojonegoro, M. Imam Akbar Al Haromein, Kamis (6/8/2026).
Merespon kondisi ini, PDPM Bojonegoro bersinergi dengan berbagai pihak untuk melakukan gerakan bersama. Antara lain mendapat dukungan penuh dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Gerakan ini menjadi bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) EMCL dan SKK Migas. Pada saat yang sama, Dinas Kominfo Kabupaten Bojonegoro juga sepakat untuk terus melakukan peningkatan kesadaran siswa dalam literasi digital.
Sebagai bagian dari sinergi ini, pada Selasa dan Rabu 4-5 Agustus 2026, PDPM Bojonegoro melaksanakan Kampanye Praktik Baik Siswa dan Pendampingan Guru. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Kominfo Bojonegoro, Arif Afandy memberikan pembekalan kepada lebih dari 600 siswa dan guru perwakilan 20 sekolah dari wilayah barat, tengah, dan timur Bojonegoro.
“Kita harus punya bekal untuk bisa menjadi pemenang dalam kemajuan teknologi ini, jangan mau jadi objek,” ucapnya kepada para siswa di aula SMAN Kalitidu.
Menurut Arif, pelajar saat ini merupakan generasi digital native. Mereka lahir dengan kemajuan teknologi digital. Sehingga teknologi yang sudah menjadi keseharian ini tidak bisa dihindari.

Arif meyakini bahwa masyarakat tidak perlu menghindari teknologi informasi dan dunia digital yang terus maju pesat. Sebaliknya, orangtua dan guru harus membekali anak-anak dengan pengetahuan, pemahaman, serta mentalitas untuk memenangkan persaingan di dalamnya.
Hal senada disampaikan perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy. Menurut praktisi komunikasi ini, pembekalan literasi digital bagi pelajar adalah fondasi penting dalam menciptakan generasi pemenang. Oleh karena itu, EMCL mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kapasitas siswa dan guru melalu Program Literasi Digital Cerdas dan Sehat untuk Remaja tahun 2026.
Program yang dilaksanakan sejak April 2026 itu melatih sekaligus mendampingi para guru dan siswa terpilih di 20 sekolah di Kabupaten Bojonegoro. Pelatihan dan pendampingan oleh tim PDPM Bojonegoro tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem kesadaran digital yang cerdas dan sehat bagi para pelajar dan guru. Peserta yang terpilih akan menjadi agen literasi digital bagi sekolah masing-masing. Tidak berhenti pada murid, namun juga guru yang akan terus mendampingi siswa dari tahun ke tahun.
“Ini adalah komitmen industri hulu migas dalam dunia pendidikan untuk menciptakan program yang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Bojonegoro,” ucap pria yang punya banyak pengalaman dalam program pendampingan masyarakat tersebut.
Sementara itu, Devons Defaniel Waruwu, siswa kelas 11 SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi Bojonegoro mengaku antusias dengan program ini. Menurut dia, selama pelatihan, narasumber dan fasilitator program mampu menyampaikan topik-topik kompleks dengan gaya yang santai, lugas, serta mudah dipahami.
“Di sini saya melihat komitmen dan kepedulian ExxonMobil yang tidak hanya berfokus pada industri energi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas SDM melalui literasi digital,” ucapnya mantap.
Selama program, siswa akan didampingi oleh tim PDPM Bojonegoro dan para guru champion yang mewakili masing-masing sekolah. Masing-masing kelompok di setiap sekolah akan membuat karya sebagai materi kampanye digital internet sehat. Karya ini kemudian dilombakan pada puncak festival literasi pada akhir program nanti.
Ketua PDPM Bojonegoro mengapresiasi dukungan dari semua pihak. Keberhasilan program ini bisa dirasakan masyarakat secara luas dengan dukungan dari semua pemangku kepentingan.
“Upaya bersama ini jangan sampai berhenti saat program usai, kita harus terus upayakan agar generasi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud di negeri tercinta ini,” pungkas Akbar.(red)





