SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Lamongan — Upaya meningkatkan pemanfaatan potensi mangrove sekaligus mendorong ekonomi keluarga nelayan dilakukan melalui Pelatihan Pembuatan Olahan Mangrove di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Pantai Tuban dan Lamongan Tahun 2026 tersebut diikuti 30 peserta yang seluruhnya merupakan istri nelayan. Pelatihan berlangsung di Sekretariat RN Sedayulawas, pada Rabu, 09 September 2026.
Pelatihan menghadirkan Soni Muhson dari Kelompok Tani Mangrove Wonorejo, Surabaya, sebagai narasumber. Peserta mendapatkan materi dan praktik pengolahan mangrove menjadi produk yang memiliki nilai tambah, di antaranya pembuatan dawet dan teh dari daun mangrove.
Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan operator lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama para pemangku kepentingan terhadap upaya pemerintah dalam mengembangkan kawasan mangrove. Ekosistem mangrove memiliki fungsi penting dalam mendukung keberlangsungan biota laut, menahan abrasi, serta menyerap dan menyimpan karbon.
PIC Program EMCL, Feni Kurnia Indiharti, menyampaikan, pelatihan olahan produk mangrove ini sangat inspiratif. Kawasan hutan mangrove yang berada di sekitar lingkungan masyarakat Pesisir, khususnya di Sedayulawas tidak hanya sebagai penahan ombak dan abrasi tempat bertumbuhnya ekosistem dan biota laut lainnya.
Namun juga dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi seperti sirup, keripik, dan teh. EMCL bermitra dengan masyarakat melakukan inisiatif kegiatan pelatihan Ini sebagai bentuk nyata pemberdayaan masyarakat pesisir.
”Pelatihan ini tidak hanya melestarikan ekosistem mangrove, tapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga, yang memiliki dampak dua arah: lingkungan terjaga, ekonomi meningkat,” ujar Mbak Feni, sapaan akrabnya.
Sementara itu, Manajer Program LIMA2B, Syaiful Huda mengatakan, selain aspek ekonomi, pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan mangrove secara bijaksana dan berkelanjutan.
Masyarakat didorong memahami bahan mangrove yang dapat dimanfaatkan, teknik pengolahan, hingga peluang pengembangan produk sebagai usaha produktif. Pemanfaatan potensi mangrove diharapkan tidak hanya menghasilkan produk olahan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga nelayan.
”Dengan keterampilan yang diperoleh, peserta diharapkan dapat mengembangkan produk secara mandiri maupun melalui kelompok usaha,” ujarnya.
Dijelaskan, bahwa kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi nelayan dan keluarganya mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Kesadaran masyarakat dinilai penting agar pemanfaatan sumber daya pesisir tetap berjalan seiring dengan upaya konservasi.
”Selain itu, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada nelayan di sekitar Sedayulawas mengenai aturan Zona Terlarang Terbatas Floating Storage Offloading (FSO) Gagak Rimang di sekitar pesisir Lamongan,” ucapnya.
Melalui kegiatan tersebut diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat untuk turut menjaga ekosistem mangrove sekaligus terbentuk kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kalangan keluarga nelayan Sedayulawas.
”Harapannya kelompok usaha tersebut mampu mengelola produk olahan mangrove sehingga memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi keluarga,” pungkasnya.(fin)





