Harga Minyak Dunia Melonjak, Bahlil: Ini Seperti Penyakit Malaria, Pagi Sembuh Malam Kambuh

Menteri ESDM Bahlil kunjungi Blok Cepu.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengunjungi lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, usai peresmian peningkatan produksi oleh Presiden Prabowo Subianto dari Bali pada 26 Juni 2025.

SuaraBanyuurip.com – Konflik Timur Tengah dan Eropa Timur yang berlangsung hingga sekarang ini membuat harga minyak dunia melonjak di atas USD 100 per barel. Kondisi tersebut berdampak terhadap membengkaknya subsidi energi. Namun, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi, meskipun harga minyak dunia sekarang ini melebihi asumsi APBN.

“Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan. Ini demi menjaga daya beli masyarakat,” tegas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat memberikan keynote speech pada ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (INTECHSEA) 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah tetap memilih menjaga harga BBM subsidi tetap terjangkau, sambil mencari sumber pasokan minyak mentah dan mendorong hilirisasi agar nilai tambah sumber daya lebih banyak dinikmati di dalam negeri dan daerah penghasil.

Bahlil mengakui, belum meredanya ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menimbulkan ketidakpastian global dan berimbas ke dalam negeri.

“Saya selalu menganalogikan ini seperti penyakit malaria. Pagi sembuh, malam kambuh lagi,” ujarnya.

Baca Juga :   20 Tahun Perjalanan ExxonMobil di Blok Cepu, Berikut 13 Catatan Penting
Harga minyak dunia.
Harga minyak dunia melonjak di atas USD 100 per barel.

Bahlil menjelaskan, kebutuhan BBM nasional sekarang ini kurang lebih mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sementara lifting hanya sekitar 600-610 ribu bph.

“Ada gap sekitar 1 juta barel per hari,” ucapnya.

Menjawab kesenjangan tersebut, Bahlil menegaskan prinsip yang dipegang pemerintah.

“Indonesia adalah negara merdeka, tidak ada satu pun kekuatan asing yang bisa mengintervensi kebijakan pasokan energi kita demi kepentingan nasional,” tegasnya.

Bahlil mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menegosiasikan pasokan minyak mentah (crude oil) jangka panjang guna menutupi defisit dalam negeri.

Selain isu energi, Bahlil menyoroti hasil kebijakan hilirisasi mineral. Ekspor nikel pada 2017-2018, saat masih berupa bahan mentah, hanya 3,3-3,4 miliar dolar AS per tahun. Namun, setelah ekspor nikel mentah ditutup, pada 2023 ekspornya sudah mencapai 33 miliar dolar AS.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait