SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Meski diterpa kemarau panjang, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mencatat, terdapat potensi luas tambah tanam (LTT) sekitar 19.384,81 hektare dari luas baku lahan sawah 91.660,11 hektare.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani mengatakan, total penggunaan lahan sawah untuk berbagai komoditas tercatat seluas 72.275,30 hektare.
“Selisih antara luas baku lahan dengan total penggunaan lahan sawah sekitar 19.384,81 hektare,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (6/10/2026).
Potensi luas tambah tanam tersebut tersebar di seluruh kecamatan. Beberapa wilayah memiliki selisih cukup besar, diantaranya Ngasem 1.724,30 hektare, Gondang 1.635,40 hektare, Gayam 1.349,40 hektare, Sugihwaras 1.186,10 hektare, dan Kecamatan Dander seluas 1.055,40 hektare.
Kemudian Kalitidu 864,40 hektare, Malo 832,80 hektare, Purwosari 689,70 hektare, Kepohbaru 699,42 hektare, dan Kecamatan Kasiman 722,60 hektare.
Sementara itu, total penggunaan lahan sawah tersebut terdiri atas tanaman padi 23.492,30 hektare, palawija 32.228,54 hektare, tembakau 16.149,06 hektare, serta hortikultura satu hektare.
Pria santun ini menambahkan, potensi luas tambah tanam menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat peluang peningkatan pemanfaatan lahan pertanian.
“Lahan yang belum masuk penggunaan tersebut menjadi potensi untuk menambah luas tanam, dengan tetap menyesuaikan kondisi dan ketersediaan air di lapangan,” ujarnya.
Data tersebut menunjukkan upaya peningkatan luas tanam tidak hanya bergantung pada luas baku lahan. Lebih dari itu juga kondisi lahan, musim, ketersediaan air, dan jenis komoditas yang ditanam petani.
Sedangkan capaian luas tambah tanam pada musim kemarau dipengaruhi kondisi ketersediaan air. Saat memasuki kondisi kurang air, sebagian lahan yang tidak memiliki dukungan irigasi cukup. Akibatnya tidak dapat ditanami padi, sehingga luas tanam cenderung lebih rendah dibandingkan musim penghujan.
“Kemarau saat ini berpengaruh pada LTT, kalau airnya tidak ada, tentu petani tidak bisa menanam,” bebernya.(fin)





