SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 melalui Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) mengembangkan Program Petani Hutan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar wilayah operasi.
Program ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi hijau. Kemudian berlanjut melalui pengembangan pertanian organik, peternakan, dan kelembagaan koperasi.
Program bertajuk “Transformasi Petani Hutan Menuju Pelopor Ekonomi Hijau dan Berkelanjutan” ini dijalankan melalui kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, diantaranya ALAS Institute, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkop-UM) Bojonegoro, Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bojonegoro, dan Koperasi “Berkah Telur” Blitar.
Head of Communication, Relation and Community Involvement & Development (Comm.Rel & CID) Zona 12, Agung Yunito Yahya, mengatakan, program ini menyasar masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada lahan garapan.
“Melalui program ini, masyarakat didorong menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, meningkatkan keterampilan budidaya, serta mengembangkan usaha produktif yang dapat memperkuat pendapatan keluarga,” kata Agung Yunito Yahya kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (17/10/2026).

Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, namun juga membangun fondasi ekonomi produktif yang mengintegrasikan aspek lingkungan, pertanian, peternakan, dan kelembagaan usaha.
Melalui pendampingan dan kolaborasi multipihak, program ini diharapkan mampu mendorong petani hutan menjadi pelaku ekonomi hijau yang mandiri dan berkelanjutan di sekitar wilayah operasi JTB. Terutama di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Sedangkan Associate Community Relation & CID Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, menjelaskan, pengembangan program dilakukan secara bertahap, mulai dari edukasi pencegahan kebakaran hutan, pelatihan pupuk organik, pembentukan kelompok petani, hingga penguatan kelembagaan koperasi.

Andestara Anggara Putra dari ALAS Institute yang terlibat dalam kolaborasi pengembangan masyarakat tersebut, menyatakan, sinergi multipihak menjadi salah satu pendekatan untuk memastikan kegiatan pemberdayaan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Selama periode 2023–2025, program juga mencatat sejumlah indikator dampak antara lain, penurunan potensi kebakaran hutan sebesar 75 persen, rehabilitasi lahan kritis seluas 2,5 hektare, dan pelibatan 134 orang dalam kelompok masyarakat.
Selain itu, tercatat 837 orang penerima manfaat tidak langsung, dan 36 peserta program pemberdayaan perempuan.
Di bidang ekonomi sirkular, program turut mencatat pengolahan tiga ton limbah pertanian menjadi kompos atau pupuk organik serta produksi 2,1 ton pakan fermentasi. (fin)





