SuaraBanyuurip.com – Sebagai langkah menggerakkan dunia literasi, Mastumapel bekerjasama dengan Perpustakaan Universitas Bojonegoro (Unigoro) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian, Pengabdian, Jurnalistik (P2J) Unigoro menggelar bedah buku, Jumat (30/10/2026). Kegiatan di ruang Perpustakaan Unigoro tersebut membedah buku “Buruh Perkebunan Tembakau Bojonegoro 1860-1939” karya Siti Mahmudah yang diterbitkan Nuntera.
Sekitar 50 peserta mahasiswa Unigoro mengikuti acara literasi tersebut. Selain Siti Mahmudah, kegiatan ini juga menghadirkan Nanang Fahrudin, founder Mastumapel yang juga penulis buku Bojonegoro Tempo Doeloe (2018). Bedah buku dipandu pustakawan Unigoro Novi Nur Aryanti.
Buku karya Mahmudah ini pertama kali terbit pada akhir 2020 lalu. Kemudian dicetak ulang dengan cover baru pada 2026 ini. Buku ini sejatinya merupakan pengolahan dari penelitian akhir atau skripsi Mahmudah di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada 2016 silam.
Dalam acara bedah buku tersebut, Mahmudah mengawali ceritanya tentang kelahiran buku tersebut. Waktu itu, sekitar 2014, dia dikerjar deadline untuk proposal skripsi. Awalnya dia hendak mengangkat tentang tembakau, akan tetapi itu terlaku umum sehingga akhirnya menjadi lebih fokus pada buruh perkebunan tembakau pada tahun tertentu. Mahmudah menegaskan bahwa menulis sejarah memang punya aturan dasar, yaitu harus ada batasan temporal dan spasial atau waktu dan tempat. Sehingga ia mengambil waktu 1860-1939.
“Hal itu bertujuan untuk memudahkan riset agar tidak tersesat karena terlalu banyak informasi,” kata Mahmudah.
Terkait isi buku, Mahmudah menjelaskan buruh tembakau di masa kolonial mengalami nasib yang tragis. Ia menjelaskan, pada masa itu ada peralihan dari praktik ekonomi dari konservatif menjadi liberal. Hal itu berdampak pada penerapan sistem kerja masyarakat di Bojonegoro. Dari yang awalnya dipaksa, warga pada saat itu kemudian dijadikan karyawan atau buruh. Ada upaya perbaikan nasib buruh, namun pada praktiknya itu untuk kepentingan kolonial sendiri. Mereka mengerjakan semua proses perkebunan tembakau, mulai dari tanam hingga panen untuk kemudian dikirim dengan kereta api menuju pelabuhan.
“Seolah-olah menolong, sejatinya pelaksanaannya tidak sesempurna itu,” kata Mahmudah.
Kondisi alam Bojonegoro juga menjadi tantangan sendiri. Saat kemarau cuaca sangat panas, dan saat penghujan hujan terus menerus sehingga tembakau mudah rusak dan sering gagal panen. Pada era 1930-an, Bojonegoro bahkan mengalami kelaparan, kemiskinan, dan pengangguran yang parah hingga mendapat perhatian dari Gubernur Van der Plas. Kondisi miskinnya warga sampai membuat banyak orang Bojonegoro dikirim ke Suriname, wilayah jajahan Belanda yang kini menjadi bagian dari Amerika.
Mahmudah juga menyampaikan bahwa menulis sejarah sekarang lebih mudah karena akses juga semakin terbuka. Sekarang semua orang, kata dia, bisa menulis sejarah. Karena mudahnya akses memperoleh data.
“Seperti misalnya melakukan tur atau jalan-jalan kemudian menulis caption. Itu juga termasuk menulis sejarah,” tegasnya.
Sementara itu Nanang Fahrudin dari Mastumapel mengulas tentang pentingnya menulis sejarah lokal. Menurut alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini, Bojonegoro punya banyak hal untuk ditulis. Cara mudahnya adalah dengan mengenali alam sekitar. Nama jalan, desa, kuliner, bangunan dan lain sebagainya tentu memiliki cerita untuk bisa digali dan ditulis.
“Kita memang tidak bisa memasuki masa lalu. Bahkan semenit yang lalu saja kita tidak bisa. Yang bisa kita raih adalah perspektif masa lalu untuk kita gunakan untuk masa depan. Menulis sejarah itu juga cara menyelamatkan jejak agar tak hilang,” ujar Nanang.
Ia menambahkan, menulis sejarah juga menjadi cara mengenalkan Bojonegoro di masyarakat nasional. Selama ini Bojonegoro lebih dikenal dengan migas atau banjir, seakan-akan tidak ada manusia dan budaya yang dikenal. Padahal sisi manusia dan budayanya perlu lebih dikenalkan ke kancah nasional.
Nanang juga mengutip sebuah buku yang belum lama dia baca, yaitu tentang seorang bupati Cirebon masa kolonial pada tahun 1860 yang keliling Jawa termasuk ke Bojonegoro. Bupati itu rajin mencatat perjalanannya.
“Kalau sekarang itu seperti ngevlog. Dia punya nama pena Arya Lelana. Dalam catatannya, Arya Lelana menyebut alun-alun Bojonegoro saat itu sangat kumuh hingga tidak betah dan memilih melanjutkan perjalanan ke Ngumpakdalem,” kata Nanang.
Acara bedah buku berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh kedua narasumber. Audina misalnya, yang mengaku penasaran dengan sisa atau peninggalan bangunan terkait buruh tembakau.
Sejumlah peserta nampak aktif mencatat materi yang disampaikan narasumber. Salah satu peserta, Lutfi Wahyu Afrian, mahasiswa Fakultas Hukum Unigoro juga nampak antusias mencatata poin-poin penting pada selembar kertas. Dia mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku banyak hal baru yang dia ketahui, terutama tentang kondisi sosial Bojonegoro masa kolonial.
“Meski saya bukan jurusan sejarah, tetapi ini bagus sekali karena membahas tentang sejarah kota saya,” kata dia.(red)





