SuaraBanyuurip.com – Kabupaten Bojonegoro berhasil mencatak sejarah baru sebagai daerah penghasil padi tertinggi di Jawa Timur pada 2026 ini. Dewan Pengurus Daerah Lembaga Dakwah Indonesia (DPD LDII) Bojonegoro mengeklaim ikut berkontribusi atas keberhasilan tersebut.
Berdasarkan angka sementara hasil Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 November 2026, produksi padi Bojonegoro mencapai 868,81 ribu ton gabah kering giling (GKG) dan produksi beras sebesar 501.67 ribu ton.
Ketua DPD LDII Bojonegoro, Ediarto mengapresiasi keberhasilan pemerintah kabupaten (pemkab) meningkatkan produksi padi hingga tertinggi di Jatim. Ia menyatakan, keberhasilan tersebut diantaranya dari kontribusi anggota LDII Bojonegoro.
Edi, panggilan akrabnya, mengungkapkan, dari 230 pengurus cabang dan anak cabang LDII Bojonegoro mayoritas adalah petani. Baik petani di daerah irigasi teknis maupun petani penggarap lahan hutan.
“Secara demografisnya, PC dan PAC kami ini 90 persennya rata-rata adalah petani. Mereka rata-rata tinggal di kantong-kantong wilayah selatan, penggarap lahan hutan dan sawah,” jelasnya saat memberi sambutan di musyawarah daerah (Musda) X LDII Bojonegoro, Kamis (5/11/2026) di ruang Angling Dharma Lantai II gedung pemkab.
Artinya, lanjut Edi, pengurus cabang dan anak cabang LDI Bojonegoro ikut berkontribusi dalam keberhasilan Bojonegoro menjadi penghasil padi tertinggi di Jatim.
“Insyaallah 230 PC dan PAC kami ikut berkontribusi,” tegasnya.
Edi menegaskan, LDII Bojonegoro siap berkolaborasi, sinergi dan mendukung cita-cita Pemkab Bojonegoro menjadi penghasil padi tertinggi nasional.
“Mudah-mudahan Bojonegoro kedepan bisa menjadi lumbung pangan nasional.
Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Edi Susanto menyampaikan, produksi padi Bojonegoro pada tahun ini tertinggi di Jatim. Sektor pertanian merupakan salah program prioritas Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah.
Pemkab Bojonegoro, lanjut Edi, sekarang ini telah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan varietas bibit unggul untuk meningkatkan produksi pertanian.
“Namanya, Gamagora atau gadjah mada gogo rancah. Saat ini sudah dilakukan demplot di beberapa tempat, ternyata produksinya lebih baik dibanding bibit lainnya,” ungkapnya.
Edi berharap sinergi dan dukungan dari berbagai elemen masaryarakat untuk bersama-sama memajukan sektor pertanian di Bojonegoro. Sehingga Bojonegoro bisa menjadi kabupaten penghasil padi tertinggi nasional.
“Kalau sekarang produksi padi Bojonegoro sudah tertinggi di Jatim, bapak bupati manergetkan kedepan bisa melebihi Indramayu,” tuturnya.
Edi kemudian membandingan luas lahan persawahan di Indramayu, Jawa Barat, dengan Kabupaten Bojonegoro. Di Kabupaten Indramayu, luas areal sawahnya mencapai lebih dari 125 ribu hektar. Sementara untuk lahan persawahan irigasi teknis di Kabupaten Bojonegoro hanya sekitar 40 an ribu hektar. Jika ditambah dengan luas sawah tadah hujan yang sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sekitar 80 ribu hektar lebih.
“Walaupun luas area sawahnya di bawah Indramayu, tapi nanti dengan dukungan saprodi, bibit unggul dan lainnya, produksi padi Bojonegoro bisa lebih tinggi lagi mengalahkan Indramayu,” pungkas mantan Sekretaris DPRD Bojonegoro itu.(red)





