Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Proyek Gas JTB Berdasarkan Amdal

Jum'at, 23 Agustus 2019, Dibaca : 1268 x Editor : nugroho

d suko nugroho
Site Manajer RJJ, Zainal Arifin menyampaikan perkembangan penyerapan tenaga kerja di Proyek EPC-GPF JTB.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Perekrutan tenaga kerja lokal proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Proyek Engineering, Procurement and Constructions - Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran-Tiung Biru (J-TB) didasarkan pada area terdampak atau analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal).

"Baik itu tenaga skill, semiskill maupu unskill," kata Site Manager RJJ, Zainal Arifin saat rapat koordinasi subkontraktor lokal proyek GPF di Kantor Representativ PT Rekind Jalan Raya Bojonegoro - Cepu KM 19, Perempatan Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Jumat (23/8/2019).

Baca Lainnya :

    Ada sejumlah desa di lima kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang terdampak proyek EPC-GPF JTB. Yakni Kecamatan Gayam meliputi Desa Mojodelik, Bonorejo, Gayam, Sudu, Katur, Ringintunggal dan Brabowan. Kecamatan Ngasem hanya satu desa yaitu Desa Bandungrejo.

    Di Kecamatan Purwosari ada sembilan desa terdampak yakni Desa Pelem, Kaliombo, Purwosari, Punggur, Tinumpuk, Pojok, Sedahkidul, Tlatah dan Ngrejeng. Kecamatan Tambakrejo dan Kalitidu masing-masing satu desa yakni Dolokgede dan Sumengko. 

    Baca Lainnya :

      Dari sejumlah desa tersebut yang mendapatkan porsi tenaga kerja lokal paling banyak adalah Desa Bandungrejo, sebanyak 47%. Disusul tujuh desa di Kecamatan Gayam sebanyak 33%.

      Porsi pembagian tenaga kerja didadasarkan beberapa faktor. Yakni  proporsi aktivitas pekerjaan, akses jalan, beban karena aktivitas pekerjaan, dan dampak lingkungan.

      "Kenapa Bandungrejo paling banyak, karena desa itu paling terdampak. Kenapa Desa Ngasem, dan desa lainnya di wilayah itu tidak masuk, karena tidak terdampak," ujar Zainal, sapaan akrabanya, menjelaskan.

      Namun demikian, lanjut dia, PT Rekind dan subkontraktornya tetap memberikan porsi bagi tenaga kerja dari lokal Bojonegoro dan luar Bojonegoro. Baik untuk tenaga skill, semiskill dan unskill.

      "Seperti tenaga kerja dari Cengungkulung, dan Pumpungan, karena wilayah tersebut juga dilewati aktivitas proyek," ucap Zainal. 

      Berdasarkan data yang dibeberkan PT Rekind, jumlah pekerja proyek EPC-GPF per Juli 2019 sebanyak 1.634 orang. Rinciannya, tenaga skill 689 orang, semiskill 393, dan unskill 552 orang. 

      Dari jumlah tersebut, tenaga skill didominasi pekerja dari luar Bojonegoro sebanyak 341 orang. Disusul pekerja lokal Bojonegoro 198 orang, dan Desa Mojodelik sebanyak 40 orang. 

      Untuk tenaga kerja semiskill didominasi pekerja lokal Bojonegoro sebanyak 193 pekerja, dari Desa Bandungrejo 57 pekerja, dan luar Bojonegoro 47 pekerja.

      Sementara tenaga kerja unskill paling banyak bukan dari Desa terdampak langsung (Bandungrejo). Melainkan dari lokal Bojonegoro sebanyak 146 orang, dan 117 orang dari Desa Bandungrejo, serta 78 pekerja dari Desa Mojodelik. 

      "Jumlah ini terus berubah menyesuaikan aktivitas proyek yang sedang berlangsung," pungkas Zainal.

      Jumlah tenaga kerja proyek EPC-GPF ini akan mencapai 6.000 orang pada masa puncak konstruksi.

      "Kita rutin setiap bulan menyampaikan ke Dinas  Perindustrian danTenaga Kerja Bojonegoro.

      Perwakilan PT Tunggang Jagad, asal Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Farida menyampaikan, proyek EPC GPF JTB ini telah memberikan kesempatan bagi kontraktor lokal untuk terlibat, dan ikut mengurangi pengangguran di Bojonegoro.

      "Tenaga kerja di kami mayoritas warga sekitar," ujarnya saat ikut rapat koordinasi.(suko)



       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more