SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia Nafitasari
Keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, PT. Bangkit Bangun Sarana (BBS) dalam proyek migas Blok Cepu semakin kecil. Itu menyusul dicabutnya penawaran dua paket pekerjaan dari lima pekerjaan yang diajukan kepada PT. Tripatra Engineers & Constructor, pemenang tender proyek engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip, Blok Cepu. Dua pekerjaan yang dibatalkan penawarannya itu adalah site preparation work (penyiapan lahan) dan pekerjaan temporary site facilities (kantor lapangan sementara).
Pengunduran diri penwaran dua pekerjaan oleh PT. BBS itu dilakukan dalam waktu berbeda. Untuk penawaran pekerjaan penyiapan lahan dicabut Kamis (16/2) kemarin dan pekerjaan kantor lapangan sementara dibatalkan dua minggu lalu. Sedangkan tiga paket pekerjaan lainnya yaitu fencing work (pekerjaan pagar termasuk supply material), camp and accommodation serta transportation dan terminal masih dalam proses negoisasi.
Proposal penawaran lima paket pekerjaan itu diajukan PT. BBS pada 17 November 2011 lalu. Pengajuan penawaran itu merupakan hasil pertemuan antara BP. Migas Jawa Timur, Papua dan Maluku (Japalu), Pemkab Bojonegoro, Mobil Cepu Limited, Operaor Blokm Cepu, dan Tripatra di Surabaya.
Direktur Utama (Dirut) PT. BBS, Deddy Afidick menjelaskan, alasan dibatalkannya penawaran dua paket pekerjaan EPC 1 itu karena proses negosiasi yang dilakukan dengan Tripatra berjalan lambat dan proyek tidak dapat segera dimulai. Sehingga dinilai akan merugikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro yang ikut menanamkan saham 10 persen dalam participating interest (PI) Blok Cepu. Apalagi, dua paket proyek yang dibatalkan penawarannya itu dianggap kritis karena pada penyiapan lahan ini nantinya akan dibangun bermacam-macam bangunan.
“Itu merupakan keputusan bisnis dan sudah kita laporkan ke Bupati,†tegas Deddy kepada sejumlah wartawan diruang kerjanya, Kamis (16/2) kemarin.
Menurut dia, surat ijin Site Work Preparation yang dikeluarkan Bupati Bojonegoro Suyoto Rabu (15/2) kemarin, dinilai tidak akan membantu menyelesaikan masalah karena terletak pada alotnya negoisasi dengan pemenang tender EPC 1. Deddy mencontohkan, seperti pengajuan proposal meski sudah direvisi namun belum ada tanggapan dari Tripatra sehingga tidak ada titik temu. Â
“Justru dengan kita ( PT BBS) mengundurkan diri dari dua paket proyek itu maka akan memperlancar jalannya proyek,†sergah mantan External Relations Manager Mobil Cepu Limited (MCL) ini.
Dengan alotnya proses negoisasi ini, bukan tidak mungkin 3 paket penawaran pekerjaan yang masih tersisa bakal dibatalkan lagi oleh BBS. Sehingga bisa dipastikan keikut sertaan BUMD dalam proyek migas ini akan semakin kecil. Akibatnya peluang usaha bagi pengusaha lokal yang bakal dijadikan mitra BBS dalam proyek Blok Cepu juga akan kian tertutup. Padahal, dari pendataan yang sudah dilakukan BUMD ada sedikitnya 100 lebih perusahaan lokal Bojonegoro yang menyerahkan company profil.
“Tidak semua perusahaan mempunyai kualifikasi yang tepat seperi yang diharapkan sehingga masih perlu data base lagi untuk dipilih mana perusahaan local yang benar-benar bisa dipakai,†pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Community Affairs PT. Tripatra Engineers & Constructor, Budi Karyawan mengaku, belum mengetahui surat pencabutan penawaran dua paket pekerjaan oleh PT. BBS.
“Saya dengar juga begitu. Tapi belum bisa memastikan,” sambung Budi.
Untuk diketahui, penawaran harga terakhir yang diajukan PT. BBS untuk pekerjaan kantor lapangan sementara lebih tinggi 75 persen dari owener estimasi (OE) Tripatra. Begitu juga untuk penawaran harga penyiapan lahan juga 20 persen lebih tinggi dari OE.