SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Perwakilan Rukun Nelayan (RN) Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jatim, melakukan pertemuan dengan Joint Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOBP-PEJ), Operator Lapangan Migas Sukowati Blok Tuban, dengan difasilitasi Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Husein dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda), Senin (11/06/2012).
Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari unjuk rasa ratusan nelayan yang menuntut JOBP-PEJ segera membangun tambat labuh barat, Jum’at (08/06/2012).  Â
Dalam pertemuan itu, Kepala Bappeda Tuban, Budi Wiyana, meminta kepada Camat Palang, Sugeng Winoto, untuk lebih dulu menceritakan kronologis unjuk rasa ratusan nelayan. Menurut Winoto, bahwa aksi tersbeut sebenarnya berawal dari permasalahan rencana pemasangan pipa kedua ditengah laut 10 inci sepanjang sekitar 35 kilo meter yang akan dilakukan oleh JOBP-PEJ. Namun rencana operator itu telah disosialisasikan kepada masyarakat nelayan pada 9 April 2012 lalu. Bashkan, dalam sosialisasi tersebut operator juga membuka ruang seluas-luasnya untuk menerima aspirasi dari masyarakat.
Namun sebelum itu terlaksana dan terkomunikasi dengan baik, lanjut Winoto, tanpa sepengetahuan masyarakat tiba-tiba ada kapal besar milik operator melakukan aktifitas dan mengakibatkan 5 jaring milik nelayan tersangkut dan rusak.
“Jadi begitulah awal mula unjuk rasa itu terjadi,†ujar Sugeng.
Shokib Ahmadi, perwakilan Rukun Nelayan, mengungkapkan, jauh sebelum sosialisai tersebut, yaitu pada Oktober 2011 lalu telah ada rapat koordinasi antara para nelayan dengan Perwakilan JOBP-PEJ dan beberapa perangkat desa dan kecamatan yang menyepakati bahwa tambat labuh barat adalah prioritas yang akan dibangun oleh operator. Alasanya, tambat labuh yang ada sudah tidak dapat difungsikan lagi apalagi saat air pasang.
Untuk membangun tambat labuh itu, lanjut Shokib, beberapa bulan lalu Rukun Nelayan meminta sumbangan kepada Pertamina sebesar Rp. 300 juta. Namun tidak dipenuhi dan disarankan untuk mencari rekanan lain. Justeru untuk pembangunan tambat labuh barat para nelayan dapat sumbangan dari pemerintah sebesar Rp. 200 juta.
“JOBP-PEJ hanya bersikukuh memberi dana sebesar 50 jt. Karena itu kami merasa diremehkan. Sebab selama 18 Tahun masyarakat belum pernah mengajukan sumbangan apapun,†ungkap Shokib.
Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Huisein yang mengaku pertama kali mendengar masalah ini dari media meminta kepada pihak JOBP-PEJ untuk segera memberikan insentif dana sebesar Rp. Rp. 225 juta untuk pembangunan tambat labuh.
“Saya minta masyarakat juga bersikap tenang dan tidak represif lagi saat menghadapi permasalahan,†himbau Noor Nahar.
Sementara itu, perwakilan JOBP-PEJ, Hananto Aji, yang hadir dalam pertemuan tersebut tidak banyak berkomentar. Meski demikian dia menegaskan, akan memberikan insentif sebesar Rp. 225 juta kepada para nelayan untuk kepentingan tambat labuh. (suko)