Tradisi Medi Menjelang Lebaran di Makam Leluhur

penjual pasir

SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo

Tuban – Tradisi membersihkan makam leluhur kemudian menaburinya dengan pasir, masih kental di kalangan masyarakat pedesaan di wilayah Kabupaten Tuban. Tradisi masyarakat pesisir pantai ini dari tahun ke tahun kian lekat dan tak lekang di kalangan warga, terlebih disaat mendekati perayaan hari raya Idul Fitri.

Bagi warga menabur pasir laut, sebagian warga menyebut pasir mati, sama halnya bentuk penghormatan terhadap kerabat yang telah wafat. Paling tidak setahun sekali mereka merawat pusara leluhurnya sekaligus menguri-uri kebajikan dari almarhum.    

“Saban tahun saya selalu datang membersihkan makam nenek,” kata Nursalim (38), saat ditemui di kompleks pemakaman Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Senin (13/8/2012).

Tak hanya Nursalim, sejumlah warga Gedongombo maupun desa-desa lain di sekitar pantai utara Tuban mulai mendatangi makam kerabat merekanya. Mereka membersihkan makam, setelah itu menutup makam dengan pasir yang diambil dari pantai setempat. Pasirnya pun dipilih yang bersih berwarna keputihan.

Tradisi turun temurun ini mereka sebut Medi.  Dengan tradisi ini, diyakini sebagian warga, agar makam leluhur setelah di-Medi akan terlihat benderang. Tidak suwung (angker dan keramat). Warga yang melakukan tradisi ini pun bakal menerima berkah dengan dilapangkan rejeki dan kehidupannya akan bersih, terang benderang seperti performa makam leluhurnya yang bersih.

Baca Juga :   1.961 Penari Semaphore Bakal Meriahkan Hari Jadi Bojonegoro ke-348

Dulu ahli waris maupun orang yang memiliki ikatan darah dengan sang makam, akan mengambil pasir di pantai. Sehingga, keluarga yang masih hidup memiliki tanggung jawab secara moral untuk mengambilnya. Namun saat ini terjadi pergeseran, karena banyaknya jasa pengambil pasir untuk kepentingan Medi.  

Bahkan, kalangan pemuda desa menangkap tradisi ini sebagai peluang untuk meraup rupiyah. Secara kelompok mereka menyiapkan pasir yang hasilnya dipakai untuk kegiatan Karang Taruna desa.

Tak sedikit pemuda anggota komunitas desa menyiapkan pasir di sejumlah titik lokasi, tak jauh dari kompleks makam. Hasil penjualan pasir ini diperuntukkan mengisi kas organisasi mereka. Salah satunya untuk menopang keuangan beberapa kegiatan menjelang perayaan bulan Agustus yang akan diadakan setelah lebaran nanti.

“Ya hasilnya untuk kas Karang Taruna,” ujar Tera (23), pengurus Karang Taruna Dusun Jarkali, Kelurahan Gedongombo.

Tera mengatakan, penjualan pasir ini sudah lakukan sejak lima hari lalu. Pasir dijual dengan harga Rp 6 ribu untuk sekali angkut atau sekali pikul. Biasanya mereka bisa menjual hingga omset Rp 90 ribu atau sekitar 15 pikul dalam seharinya.

Baca Juga :   Wisata Kracakan Desa Payaman, Pesona Sungai Bengawan Solo saat Kemarau

“Biasanya kalau lebaran kurang tiga hari bisa mencapai lebih dari 25 pikul,” tambah Tera memprediksikan penjualan pasir yang akan meningkat saat H-3 lebaran.

Tugas penjual pasir tidaklah berat, karena mereka hanya bertugas untuk menunggu, mencatat dan menerima uang saja. Karena biasanya pembelilah yang akan mengambil dan mengangkat sendiri pasir tersebut, untuk ditaburkan ke pemakaman sanak keluarga masing-masing.

Meskipun jaman terus berkembang dnegan perubahannya, warga berharap tradisi Medi yang orientasi religinya sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur ini tidak punah. “Biar makam kita tidak suwung,” harap Lasidin (80), salah satu tetua masyarakat desa setempat. (edp/tbu)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *