SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro- Wacana pembentukan tim optimalisasi kandungan lokal tingkat desa mulai menyeruak di desa Ring 1 Â lapangan migas Banyuurip – Jambaran, Â Blok Cepu maupun Tiung Biru (TBR), Blok Gundih. Sebelumnya, Desa Campurejo, Kecamatan Kota Bojenonegoro, desa ring 1 lapangan migas Sukowati, Blok Tuban, telah mebentuk tim optimalisasi kandungan lokal tingkat desa.
Suwarji, Direktur, CV Bumi Tirta Jaya yang beralamatkan di Desa Gayam, Kecamatan Ngasem menegaskan, perlunya dibentuk  timm optimalisasi kandungan lokal tingkat desa. Tujuannya untuk membantu kinerja tim optimalisasi kandungan lokal tingkat kabupaten dalam melakukan pengawasan Peraturan Daerah (Perda) No.23/2011 tentang konten lokal dilapangan untuk memberdayakan warga lokal sekitar pemboran.
“Tim ini bisa terdiri dari beberapa unsur. Mulai perwakilan perangkat desa, tokoh masyarakat, pengusa lokal, dan pemuda,” kata Suwarji.
Menurut dia, selama ini kinerja tim optimalisasi kandungan lokal yang ada di Kabupaten belum maksimal dalam melakukan pengawasan dan memaksimalkan kandungan lokal. Baik dalam perekrutan tenaga kerja maupun pelibatan pengusaha lokal yang dilakukan oleh operator maupun kontraktornya.
“Jika tim tingkat desa ini terbentuk kita bisa dengan mudah melakukan pengawasan dan memberikan laporan update kepada tim kabupaten. Sehingga jika ada pelanggaran bisa segera diambil tindakan,” paparnya.
Senada juga disampaikan, wahyudi, salah satu tokoh masyarakkat Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, ring 1 sumur migas TBR. Menurut dia, dengan adanya tim optimalisasi kandungan lokal tingkat desa ini akan jauh lebih memaksimalkan kandungan lokal.
“Lain itu perekrutan tenaga kerja lokal dan peluang usaha akan lebih transparan,” sambung Wahyudi, dikonfirmasi terpisah.
Dia mengungkapkan, proyek migas TBR yang dikelola Pertamina EP belum melibatkan warga sekitar secara maksimal karena peluang usaha maupun kerja yang disampaikan operator maupun kontraktornya tidak transparan.
Wahyudi mencontohkan, seperti proyek pipanisasi dari lokasi TBR-B ke A tidak dilakukan penenderan secara terbuka.
“Tahu-tahu sudah ada PT yang mengerjakan. Jika itu diumumkan terbuka bisa jadi ada PT dan CV di Bojonegoro yang mampu mengerjakannya,” paparnya.
Menurut Wahyudi, jika kontraktor lokal yangmengerjakan tentunya banyak pekerja lokal yang terakomodir dalam proyek tersebut. Begitupun kontraktor lokal juga akan banyak terlibat sebagai subkontraktor.
“Karena itu tim tingkat desa ini perlu segera dibentuk. Selain dapat melakukan pengawasan juga bisa menjadi jembatan antara masyarakat dengan operator maupun kontraktornya,” pungkasnya.