SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pemerataan lahan untuk pipanisasi minyak mentah Banyuurip, Blok Cepu, dihentikan pemerintah desa dan warga. Penghentian itu dikarenakan warga merasa kesal dengan sikap Konsorsium PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT) – PT. Kelsri yang sudah mengerjakan proyek tersebut tanpa mengadakan sosialisasi lebih dulu. Namun, pihak PT. IKPT mengaku telah mensosialisasikan proyek tersebut jauh hari sebelum pemerataan lahan dimulai.
Pantauan SuaraBanyuurip, sejumlah desa yang memprotes dan menghentikan proyek pipanisasi darat berdiameter 20 inci itu adalah warga Desa Jelu Bareng, Jampet, Wadang dan Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Desa-desa itu adalah desa yang dilintasi jalur pipa Blok Cepu sepanjang 72 kilo meter mulai Lapangan Minyak Banyuurip hingga bibir Pantai Palang, Tuban, Jawa Timur.
Penghentian proyek pipa oleh warga itu sejak Minggu (18/11/2012) hingga Senin (19/11/2012). Warga meminta kepada semua pekerja yang sedang mengerjakan pemerataan lahan untuk berhenti bekerja. Sebab, PT. IKPT, kontraktor Mobil Cepu Limited (MCL), operator migas Blok Cepu, untuk engineering procurement and construction (EPC)- 2 Banyuurip, belum mensosialisasikan proyek tersebut kepada warga.
“Selain itu, warga di desa yang terlintasi juga tidak dilibatkan, Mas,” kata Suyanto salah satu warga Bareng kepada SuaraBanyuurip, Senin (19/11/2012).
Dia menjelaskan, total lahan di Desa Tengger yang terkena proyek pipa itu seluas kurang lebih 32 meter. Rinciannya, lahan seluas 12 meter dibebaskan. Sedangkan lahan dikanan dan kiri masing-masing 10 meter dikontrak. Dari 12 meter lahan yang dibebaskan itu 8 meter untuk penanaman pipa sedalam dua meter dan 2 meter di kanan dan kiri untuk saluran air.
“Sudah dua hari proyek tidak kita ijinkan untuk diteruskan. Kami bersama desa-desa di kecamatan Ngasem yang dilintasi jalur pipa ini sudah sepakat untuk menghentikan proyek ini sebelum kontraktor melaksanakan sosialisasi,†ungkap Suyanto.
Dia juga mengancam akan melakukan pemblokiran besar-besaran jika IKPT tidak segera melaksanakan sosialisasi pelaksanaan proyek tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa (Kades) Tengger, Moh. Shofwan, membenarkan aksi yang dilakukan warganya. Bahkan, dia mengatakan, meski pengerjaan pipa baru sampai wilayah Desa Bareng, namun baik warga Tengger, Jampet dan Wadang sudah bersiap-siap menghadang pekerjaan pipa tersebut jika PT. IKPT tidak segera melakukan penyelesaian. Sebab sikap yang dilakukan kontraktor sudah memicu kemarahan warga.
“Intinya, segera dilakukan sosialisasi yang mengundang Pemdes yang terlewati di wilayah Kecamatan Ngasem. Sehingga, warga dapat menyampaikan usulannya,” sambung Shofwan ketika ditemui di Kecamatan Ngasem, Senin (19/11/2012).
Terpisah, hubungan masyarakat (Humas) IKPT, Soenarto, dihubungi melalui pesan pendek Senin (19/11/2012) terkait protes warga dari warga dan pemdes di wilayah Ngasem, mengatakan, tidak ada penghentian terhadap proyek yang sedang dilaksanakan. Sebab sosialisasi sudah dilakukan kepada semua desa yang dilalui jalur pipa baik di wilayah Bojonegoro maupun Tuban sebelum proyek dimulai.
“Hingga hari ini tidak ada masalah, tidak ada yang menghentikan,” elak Soenarto. (sam/suko)