Mengais Sampah di Tengah Massa Menengadah

setu

Ribetnya menuntut hak sebagai warga sekitar industri menjadikan warga pasrah. Tak sedikit dari mereka mengais rejeki sebagai pemulung, setelah hak yang diharapkan tak kunjung diberikan.  

TERASA masih di pelupuk mata ketika warga Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, unjuk rasa menuntut kompensasi kepada Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ). Sebagai warga desa ring 1 lokasi ladang migas Mudi, Blok Tuban yang dikelola JOB P-PEJ, mereka terdampak beroperasinya sumur migas tersebut.

Oleh karena itu pula, pada satu pagi di pekan lalu, masyarakat Bulurejo berkumpul memadati pertigaan jalan desa. Mereka bersama-sama menuju arah lokasi Well Pad C, sumur Mudi.

Tidak lama kemudian, segerombolan warga berdatangan dari arah utara. Sebagian berjalan kaki dan ada yang berkonvoi serta berarak-arakan menggunakan motor sambil membetangkan poster bertuliskan; “Tuku Iwak neng pasar sore, duwe tambang minyak kok disiyo-siyo dewe.” Tulisan bermaknakan protes itu ditujukan kepada JOB P-PEJ.

Massa kemudian mendatangi lokasi well pad C, Sumur Mudi untuk berorasi dan menyampaikan beberapa tuntutan. Diantaranya pemberian kompensasi Rp50 ribu per kepala setiap bulan, pengobatan gratis, dan pengadaan air bersih.

Orasi itu berlangsung cukup lama karena beberapa perwakilan dari setiap dusun bergantian menyampaikan aspirasinya.Tanpa terasa panas cuaca mulai membalut kulit. Kegerahan telah terasa di sekujur tubuh. Mesti begitu semangat warga terus berkobar. Semua bersatu padu menuntut haknya.

Baca Juga :   Cerita Bu Siti, Puluhan Tahun Bertahan Usaha Kios Koran di Bojonegoro (1)

Sejumlah pedagang keliling memanfaatkan moment itu. Satu per satu berdatangan menjajakan dagangannya. Jalanan pun  menjadi padat pedagang yang berbaur dnegan massa.

Melihat  kondisi itu, seorang laki-laki berbaju putih berbadan agak bungkuk datang. Kemudian memunguti satu-persatu bekas gelas air mineral dan barang sekiranya masih dapat didaur ulang. Sosok lelaki itu diketahui bernama, Setu, kesehariannya bekerja sebagai pemulung.

“Saking pengene angsal koyo (begitu ingin memperoleh uang),” ucap dia dalam bahasa Jawa.

Wajahnya terlihat hitam dan kusam. Berhias tetesan keringat pekat. Sekuat mungkin panas sinar matahari dia tahan demi sesuap nasi. Pekerjaan itu dia jalani sudah tahun-tahun. Setu tidak mengingat kapan mulai menjalani pekerjaan itu. Bahkan usianya sendiripun penyandang buta aksara ini tak tahu.

Dengan mengendarai sepeda onta-nya setiap hari dia berkeliling dari tempat satu ke tempat lain. Termasuk sampai Kabupaten Bojonegoro. Mencari sampah yang bisa dia setorkan ke salah satu tempat di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.

“Pokoknya ya kesana kemari kalau mencari sampah,” tambahnya.

Setiap hari, dia mengaku mendapat pemasukan Rp5.000 hingga Rp12.000. Tergantung dari perolehan sampah yang dia kais. Untuk bekas air mineral dan kardusnya dihargai Rp1.000 per kilogram.

Baca Juga :   Rela Berhenti Sekolah Demi Mengurus Nenek Tunanetra

Meski penghasilannya terbilang minim, dia adalah tulang punggung keluarga. Dia memiliki satu orang anak yang sekarang bekerja sebagai Satpam di salah satu pasar di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Setu juga memiliki satu anak angkat yang dulunya sebagai keponakan. Anak itu dirawat bersama istrinya di rumah, setealh ibu kandung sang anak meninggal.
 
Tempat tinggal Setu tak jauh dari lokasi sumur Mudi. Namun, dia tak banyak berharap mendapat berkah dari sumber daya alam yang berada di dalam kandungan sekitar rumahnya.

Dia mengaku datang ke kerumunan massa pendemo itu untuk mencari serpihan sampah. Bukan lantas menengadahkan tangan ke pihak perusahaan minyak dan gas bumi yang telah bertahun-tahun menyedot sumber energi tak terbarukan itu.

“Lumayan Mas, iso jumputi siso gelas banyu ngombene wong demo (Lumayan Mas, bisa memungut sisa air  bekas gelas air minum mineral dari pendemo),” ucapnya sambil memasukkan satu persatu hasil pengutannya di beberapa karung yang telah dibawanya.

Waktu terus berjalan memasuki jam 11.16 Wib. Sementara terik sinar matahari kian panas. Tak lama kemudian, dia beranjak pergi meninggalkan kerumunan massa yang masih asyik berorasi. Setu mengayuh sepeda bututnya yang masih terlihat kuat. (Athok Moch Nur Rozaqy)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *