Di tengah riuh anak-anak yang berebut perhatian Wakil Bupati Bojonegoro, seorang bocah justru memilih diam dan menjauh. Daffa Ardian Pratama, menunjukkan bahwa kecerdasan tak selalu hadir dalam keramaian melainkan dalam keberanian menentukan cara sendiri untuk didengar dan dipahami.
SUASANA PAGI di sekolah dasar negeri (SDN) 1 Dander, Kabupaten Bojonegoro, mendadak riuh. Tawa anak-anak pecah, langkah-langkah kecil berlarian, dan tangan-tangan mungil terulur membawa kertas serta pulpen. Mereka berharap satu hal, tanda tangan dari Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Nurul Azizah, yang dikenal ramah dan dekat dengan masyarakat.
Namun di tengah kerumunan itu, ada satu sosok yang justru memilih menjauh. Namanya Daffa Ardian Pratama. Bocah 9 tahun itu alih-alih ikut berdesakan bersama teman-temannya, Daffa, sapaan akrabnya, tampak santai di teras kelas. Ia rebahan di pangkuan ayahnya, Andik Sujianto, seolah hiruk-pikuk di sekitarnya bukan bagian dari dunianya.
Daffa memang bukan anak yang mudah diarahkan. Ia juga bukan tipe yang mengikuti arus. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Bocah asal RT 6, RW 2, Desa Growok, Kecamatan Dander ini belakangan dikenal luas karena kejeniusannya dalam memahami mesin dan perangkat elektronik. Namun lebih dari itu, ia menunjukkan sesuatu yang jarang dimiliki anak seusianya, karakter kuat dan keberanian untuk menentukan pilihan.
Ketika Wabup Nurul Azizah mendekat, Daffa tidak menolak dipangku. Namun ekspresinya datar. Tak ada antusiasme. Tak lama kemudian, ia melepaskan diri, beranjak, dan kembali memeluk ayahnya, mencari rasa aman dengan caranya sendiri.
Situasi itu sempat membuat suasana canggung. Namun Nurul Azizah memilih tidak memaksa. Ia tersenyum, memberi ruang, dan mencoba memahami.

Tak berhenti di situ, Daffa tiba-tiba berlari menjauh dari keramaian. Ia menyusuri halaman sekolah, bahkan berusaha bersembunyi saat beberapa staf mencoba mendekat. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sebagai penolakan. Namun sesungguhnya, ini adalah cara Daffa menyampaikan batasnya.
“Daffa waktu itu sudah tidak mau dipaksa. Kalau mau bertemu, ya di rumah. Dia janji akan bersikap baik,” ujar sang ayah.
Ucapan itu bukan sekadar penolakan, melainkan sebuah kesepakatan. Dan Nurul Azizah menangkap pesan itu. Tak lama berselang, ia mendatangi rumah Daffa. Di sana, suasana berubah sepenuhnya.
Begitu pintu terbuka, Daffa menyambut dengan sopan. Ia mencium tangan sang tamu dan berkata lirih, “Maaf, Ibu.”
Senyum pun mengembang. Sekat yang sebelumnya terasa kaku, mencair seketika.
Di dalam rumah sederhana itu, percakapan berlangsung hangat. Daffa kembali ke dunianya mengutak-atik komponen komputer rakitannya. Jemarinya bergerak lincah, pikirannya fokus. Pertanyaan demi pertanyaan dari sang wakil bupati dijawab santai, tanpa beban.
Di sinilah terlihat jelas, Daffa bukan menolak, ia hanya memilih waktu dan cara.
Saat ditanya tentang mimpinya, jawabannya sederhana namun bermakna besar, ia ingin merakit sepeda listrik.

Sebuah mimpi yang mungkin terdengar tinggi untuk anak kelas 3 SD. Namun bagi Daffa, itu adalah bentuk rasa ingin tahu yang tak terbendung. Sayangnya, keinginan itu terbentur keterbatasan biaya.
“Saya tidak punya uang, tidak cukup,” ujarnya jujur.
Mendengar itu, Nurul Azizah langsung merespons.
“Kalau begitu nanti Pak Bupati bantu biaya untuk beli bahan. Nanti saya yang serahkan. Kalau sudah jadi, ditunjukkan ya,” katanya.
“Mau,” jawab Daffa sambil menerima tas berwarna coklat diserahkan Nurul Azizah. Satu kata sederhana, namun menyimpan harapan panjang.
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Susmiati, melihat Daffa dari sudut yang lebih dalam. Menurutnya, karakter kuat seperti yang dimiliki Daffa memang membutuhkan pendekatan khusus.
“Daffa ini punya prinsip kuat, tidak mudah diarahkan atau diatur. Itu yang membuat orang tua juga perlu pendekatan berbeda,” jelasnya.
Namun di balik itu, tersimpan potensi besar yang tidak boleh diabaikan.
Karena itu, langkah lanjutan akan dilakukan. Pemerintah daerah berencana melakukan asesmen menyeluruh, tidak hanya dari sisi kecerdasan, tetapi juga psikologis dan tumbuh kembangnya.
Hasilnya nanti akan disinergikan dengan pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan, guna memastikan Daffa mendapatkan pendampingan yang tepat.
Kisah Daffa adalah pengingat sederhana, kecerdasan tidak selalu tampil dalam bentuk kepatuhan. Terkadang, ia hadir dalam keberanian seorang anak untuk menjadi dirinya sendiri dengan cara yang mungkin tidak selalu mudah dipahami, tetapi layak untuk didengar.(Arifin Jauhari)



