MENEMUKAN candi menjadi kebanggaan tersendiri bagi, Warsian (47). Setiap hari dirinya harus melayani ratusan pengunjung yang datang ke lokasi candi.
Sejak dua bulan terakhir, kesibukan Warsian semakin bertambah. Selain harus bekerja di kantor Desa Siser, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mengingat jabatannya sebagai kepala dusun (Kasun), setiap hari dia juga harus datang ke lokasi candi sebagai juru kunci. Setidaknya, sebagai pemilik lahan sekaligus penemu candi dia harus melayani pengunjung yang ingin tahu bagaimana awal mula diketemukan candi tersebut.
“Saya juga harus gatek, selalu mengingatkan pengunjung agar menjaga perilaku dan tutur kata, karena lokasi Candi Slumpang itu wingit (angker) jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa pengunjung , “ kata Warsian kepada SuaraBanyuurip, Rabu (12/12/2012).
Dimusim penghujan seperti sekarang, kesibukan Warsian juga bertambah dengan menguras air hujan yang menggenangi galian kompleks candi. Dengan menggunakan desel, air yang menggenang di lubang galian candi disedot dan dialirkan ke sawah. Bahkan, kemarin dia harus menata kembali atap candi yang dibuat dari terpal karena keterjang hujan badai.
Lokasi tempat candi ini sebenarnya merupakan tanah bengkok untuk Kasun. Tanah bengkok seluas 4.500 meter persegi itu, merupakan tukar guling dari tanah bengkoknya yang lama karena digunakan untuk lapangan desa.
“Padahal tanah ini angker  tidak pernah dijamah (didatangi) orang,“ ujar Warsian.Â
Keangkeran tempat tersebut sudah dikenal sejak tahun 1960-an. Banyak kejadian warga yang kesurupan setelah coba-coba mendatangi tempat tersebut. Konon di sekitar tempat itu juga digunakan orang sebagai tempat mencari pesugihan.
Di sisi Candi Slumpang terdapat makam yang dikeramatkan oleh warga setempat. Bangunan makan dikelilingi pagar bambu, dan dipasang atap genteng mirip cungkup. Tidak ada data pasti tentang siapa yang dimakamkan di tempat tersebut. Hanya warga setempat menyebut makam tersebut makam Mbah Modin.
Sejak mulai menggarap tanah bengkok wingit tahun 2008, Warsian mengaku tidak pernah mengalami kejadian aneh. Hanya dirinya selalu berusaha untuk menjaga sikap dan tindakannya selama menggarap bengkoknya.
“Saya hanya pasrah kepada Allah. Tanah bengkok ini ya harus saya garap karena disini sandang pangan (sumber penghasilan ) saya,† terang warsian yang sempat nyantri di beberapa pondok pesantren saat mudanya itu.
Dirinya bersyukur, karena bengkoknya terhitung subur. Tidak pernah gagal panen dan bisa panen hingga 4 kali setiap tahunnya.
Saat menemukan candi, Warsian tidak pernah mendapatkan firasat apapun. Justru istrinya, Kumaiyah, yang beberapa kali mimpi bertemu dua orang pemuda bersurban  dan berjubah putih.Â
“Kata istri saya dua orang tersebut wajahnya tampan. Namun tidak bicara apa-apa, “ tutur Warsian.
Sebagai orang yang pertama kali menemukan candi, Warsian belum mendapatkan tali asih atau bentuk penghargaan apapun dari Pemkab Lamongan. Padahal dengan penemuan candi tersebut, selain dapat digali sejarah masa lalu, juga mengangkat nama Lamongan. Setiap hari, dirinya juga setia menjaga Candi Slumpang.
“Barangkali ada semacam penghargaan dari Bapak Bupati. Soalnya saya dengar kabar, umumnya orang yang menemukan prasasti, candi atau apapun ada bentuk penghargaan dari pemerintah,“ harap Warsian. ( totok martono/habis)