SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Tuban – Penderes tuak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sejak sebulan terakhir ini mengalami masa paceklik. Datangnya musim hujan membuat tanaman bogor milik mereka tidak produktif karena wolo (batang dimana keluar air tuak) sudah habis diiris.
“Sudah mampir sebulan ngganggur mas. Wolonya sudah habis,†kata Kandim (30) penderes Tuak asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding kepada SuaraBanyuurip, Sabtu (15/12/2012).
Dia menerangkan, pohon bogor memiliki masa-masa produktif yaitu bulan April-Nopember. Dimana saat itu wolo masih panjang dan dapat diiris untuk mengambil tetesan tuak. Di masa produktif, kandim bisa memetik 5-6 liter tuak.
Wolo, kata Kandim, merupakan batang yang tumbuh diatas pohon bogor tempat tumbuhnya buah siwalan. Dari wolo itu bila diiris akan keluar tetesan tuak yang ditampung dengan bumbung bambu.
“Tergantung pengin dijadikan legen atau tuak,†sergah Kandim.
Jika untuk legen biasanya bumbung bambu pagi dipasang diatas bogor dan sorenya sudah diambil. Sedang untuk tuak, pagi dipasang dan diambil keesokan paginya.
“Untuk legen kalau diambilnya kelamaan rasanya bisa kecut. Bisa menjadi tuak,†terang Kandim.
Bagi para penderas ada cara khusus membuat tuak agar rasanya kecut biasanya digunakan kulit pohon juwet atau pohon jamu mete. “Kulitnya itu di hancurkan hingga halus, kemudian dimasukkan kedalam bumbung tempat penampungan tuak,†ucap Kandim menerangkan.
Kandim mengaku memiliki 15 batang pohon bogor yang tumbuh disawahnya. Saat masa produktif belasan pohon bogornya itu rata-rata perhari bisa memberinya penghasilan Rp80 ribu hingga Rp100 ribu dari tuak yang ia produksi sebanyak 15-20 liter dengan harga jual Rp5 ribu perbotol air minum kemasan literan.
“Kalau pas sepi begini ya kerja serabutan mas, “ keluh Kandim.
Kondisi serupa juga dialami Basar, penderas tuak lalinya. Warga Desa Ngrayung, Kecamatan Plumpang, itu mengaku sudah dua minggu tidak memanjat pohon bogornya karena produksinya menurun akibat tingginya curah hujan.
Biasanya saat pohon bogor produktif, Basar lebih suka melayani pembeli yang langsung datang kerumahnya. Harganya Rp 5 ribu perliter.
“Sebenarnya bisa saja saya membuat tuak oplosan ( tuak tidak asli-red) tapi kuatir mengecewakan langganan. Sekarang ya terpaksa jualan makanan saja,†sambung Basar.
Untuk diketahui, tuak telah menjadi minuman khas Kabupaten Tuban. Hampir disetiap penjuru daerah di Bumi Ronggolawe itu terdapat tanaman bogor. Beberapa kecamatan yang menjadi sentra penghasil tuak diantaranya yaitu Semanding dan Plumpang.
Dari dua kecamatan tersebut, nama beberapa desa cukup populer dikalangan penghoby minum tuak. Seperti dusun Dempel, (Plumpang), Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon, Tegalagung (Semanding). Tidak hanya masyarakat tuban, namun peminum tuak dari luar daerah juga banyak yang berburu tuak ditempat tersebut.
Sebagian besar masyarakat bahkan menjadi penderes dan penjual tuak sebagai mata pencarian. Selain dijual ditempat, biasanya tuak hasil deresan ( mengambil dari batang pohon bogor) dikirim kewarung-warung dan bahkan dipasarkan keluar daerah Tuban.(tok)