SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Komisi C DPRD Kabupaten Bojonegoro mempertanyakan keberadaan nasib puluhan jiwa asal Bojonegoro peserta transmigrasi di wilayah Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Apalagi dikabarkan lima kepala keluarga (KK) transmigran tersebut dikabarkan menghilang. Â
Untuk itu pula Komisi C melakukan hearing dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro di gedung Dewan, Selasa (22/1/2013). Dalam pertemuan yang dihadiri Kepala Disnakertransos Bojonegoro, Iskandar, tersebut Dewan meminta kejelasan terhadap nasib mereka. Â
Anggota Komisi C DPRD, Supaat, mengatakan, pihaknya mengetahui ada lima dari 10 KK transmigran asal Bojonegoro yang menghilang dari Kabupaten Mamasa, Provinsi  Sulawesi Barat  yang diberangkatkan beberapa tahun lalu. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat tidak lagi mengetahui keberadaan mereka.
“Oleh sebab itu, kami memanggil Disnakertransos untuk mencari tahu kondisi para transmigran di luar sana, karena bagimanapun mereka adalah saudara kita,†tandasnya.
Tidak hanya itu, Supaat menambahkan, jika pihaknya akan berusaha bagaimana caranya agar masyarakat Bojonegoro yang ikut transmigrasi ini mendapatkan bantuan tidak hanya dari anggaran APBN saja. Namun, juga dari APBD Bojonegoro.
“Selama ini mereka mendapat tunjangan hidup hanya dari APBN selama 1,5 tahun, seandainya bisa kan Pemkab juga memberikan bantuan. Jangan hanya doa saja,†tegasnya.
Sementara itu, Iskandar, menyatakan, pihaknya sangat prihatin dengan kondisi para transmigran dari Bojonegoro tersebut. Karena kebanyakan mereka yang tinggal di wilayah hutan harus diusir oleh penduduk pribumi.
“Mungkin karena faktor iri sehingga ketika transmigran kita membuka lahan dan bercocok tanam diusir oleh penduduk asli. Inilah yang membuat mereka harus berpindah tempat,†jelasnya.
Iskandar mencontohkan kondisi para transmigran di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah yang sangat menyedihkan. Dimana harus melawan cuaca yang tidak sama dengan Bojonegoro, sikap penduduk asli yang tidak bersahabat, dan juga sering terjadi konflik yang kadang mengancam keselamatan jiwa mereka.
“Kami sudah berusaha untuk bagaimana transmigran di Bojonegoro ini bisa mendapatkan bantuan dari Pemkab, dan kami berencana dengan anggaran yang diajukan pada APBD 2013 sebesar Rp50 juta bisa membelikan peralatan seperti traktor, genset, dan lain sebagainya,†imbuhnya.
Oleh sebab itu, Disnakertransos pada tahun 2013 ini akan lebih memperhatikan nasib para transmigran dengan mengetahui secara pasti lokasi yang dituju, bagaimana situasi keamanannya, cuacanya, dan lebih mempersiapkan lagi kebutuhan mereka saat akan diberangkatkan. (rien)