Dirajam Hujan Penjual Nasi Boranan Menjerit

boiran

TINGGINYA curah hujan yang menerpa wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur  berdampak pada nasib penjual Nasi Boranan di tepian jalan kota setempat. Pelaku bisnis kuliner khas Lamongan ini mengeluhkan menurunnya omset hingga 50 persen lebih.

Hujan rupanya menjadikan orang malas melangkahkan kaki ke sentra penjual Nasi Boranan di Lamongan. Terbukti para perempuan desa yang menggelar lapak mereka di sekitar Alun-alun kota, maupun sejumlah ruas jalan di kawasan Jalur Tuban-Surabaya, di sekitar Lamongan Plaza terlihat sepi pembeli.  

Seorang penjual Nasi Boranan, Ny Iib (43), menyatakan, sebelum musim penghujan turun mampu menghabiskan dagangan sebanyak 7 Kg nasi dalam waktu tak sampai 4 jam.  Namun, belakangan rata-rata hanya mampu menjual 3 hingga 4 Kg, itupun memakan waktu sampai sore hari.

“Biasanya daya dasaran (membuka tikar untuk jualan) mulai jam 10 pagi, jam satu siang sudah pulang,” kata perempuan asal Desa Made, Lamongan tersebut saat ditemui di lapak dagangannya di sekitar Alun-alun kota Lamongan, Selasa (29/1/2013) siang.

Baca Juga :   Berkat Proyek EPC-1, Bisa Lunasi Cicilan Motor Baru

Bagi perempuan paruh baya ini, Nasi Boranan, semacam kuliner nasi yang disajikan dalam pincuk daun pisang dengan lauk ikan sili, bandeng, telur dadar, dan ikan gabus yang dipadu dengan bumbu pedas ini, berjualan makanan di trotoar jalan adalah profesi. Bahkan, nasi yang disebut Boranan karena wadah (bakul) nasinya dari anyaman bambu seukuran rangkulan lengan orang dewasa ini yang disebut Boran ini, telah menjadi gantungan hidup.

Apalagi rata-rata untuk ukuran nasi seberat 7 Kg, tersebt bisa diraih laba bersih hingga Rp100 ribu. Namun, setelah musim tak bersahabat seperti saat ini mereka hanya bisa membawa pulang paling banyak Rp50 ribu. Itupun mulai pagi berjualan hingga sore.  

Para penjual Nasi Boranan pun akhirnya menyiasati dengan mengurangi memasak nasi hingga separo dari biasanya. Mengurangi nasi, secara otomatis juga mengurangi pula lauk pauknya.

“Belakangan terkadang berjam-jam menunggu hanya ada satu dua orang yang beli. Maklum sekarang kan sedang musim hujan, Mas,” ungkap penjual Nasi Boranan lain saat ditemui secara terpisah, di kawasan jalan di depan Stasiun Kereta Api, Lamongan.

Baca Juga :   Letda Soecipto Gugur di Ladang Tapen

Kendati kondisi dagangan sepi pembeli, para penjual Nasi Boranan tak patah semangat. Mereka tetap berjualan, karena memang hanya itu profesi yang selama ini dilakoni dan telah menjadi bagian hidupnya. Mereka pun menerima berapapun hasil yang bisa diraih setiap hari, dari berdagang nasi sepincuk dengan harga berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu tersebut.

Pemandangan deretan penjual Nasi Boranan, memang hanya tampak di kota Lamongan. Mereka berjejer di trotoar jalan seputar Alun-alun kota maupun di sentra keramaian. Ada belasan perempuan berkain jarik, duduk di kursi dingklik  di depannya tergelar Boran yang berisi nasi, ada pula wadah lauk pauk dari plastik, tampak pula gendhok dari tembikar untuk wadah sambal.

Jika ingin mencoba, dan membuktikan kelezatannya datanglah ke kota Lamongan. Lidah penggemar rasa pedas akan dimanjakan oleh Nasi Boranan. (totok martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *