SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Petani disekitaran proyek migas Blok Cepu kembali mengeluhkan sulitnya air untuk mengairi sawahnya. Sebab sudah sekira sebulan ini hujan tak mengguyur sawah mereka yang tadah hujan (menggantungkan air dari hujan). Padahal sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur diguyur hujan deras. Â
Seperti yang dirasakan seorang petani asal warga Dusun Sukorejo (puduk), Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Sadiman. Dia mengaku satu bulan ini kesulitan air untuk mengairi sawahnya karena hujan tak kunjung turun.
“Padahal seharusnya saat ini cuacanya cukup tepat karena memasuki musim hujan,” kata dia kepada Suarabanyuurip.com Rabu (30/1/2013) petang.
Menurut dia, rendahnya curah hujan begitu terasa. Turunnya hujan baru bisa dirasakan dua hari terakhir ini. Itupun kurang bisa diharapkan karena tak terlalu deras. Artinya, air hujan yang turun belum dapat mencukupi kebutuhan pengairan untuk lahan seluas 3600 m2 miliknya.
“Baru kemarin sama sekarang ini, itupun tidak seberapa deras. Menjelang petang baru turun dan sebentar saja sudah terang (reda),” ungkapnya.
Dia menuturkan, seharusnya saat ini sudah mulai waktunya pemupukan dan pengairan. Namun sulitnya mendapatkan air terpaksa membuatnya harus berpasrah. “Barusan saya tanami padi dan waktunya mengairi,” tuturnya.
Sadiman mengungkapkan, sejumlah petani lain sudah berupaya membuat sumur air sendiri dan disedot dengan menggunakan mesin diesel.
“Airnya masih kurang, padahal sudah ada empat diesel,” akunya.
Sebelumnya kasak-kusuk mengenai “anehnya” curah hujan disekitaran Blok Cepu juga dirasakan salah satu petani di Dusun Sumurpandan, Desa Gayam, Kecamatan Gayam. Mereka menduga ada ’pawang hujan’ di proyek Banyuurip. Hal itu ditandai dengan rendahnya curah hujan di sekitar proyek Blok Cepu.
Kondisi ini membuat petani gelisah. Sebab, Â mereka sudah terlanjur menanam padi atau palawija di sawah atau ladangnya.
“Bisa jadi mas, kegiatan proyek tidak ingin terhambat,” ungkap salah satu pekerja proyek di Dusun Puduk yang enggan disebut namanya kepada SuaraBanyuurip, Rabu (30/1/2013).
Terlebih lagi, menurut pengakuan sumber tersebut, Â sistem unsur keamanan (safety) yang diberlakukan operator atau kontraktor begitu ketat.
“Setiap ada mendung disertai angin kencang saja pengerjaan proyek dilapangan diharuskan berhenti,” ucapnya.
Sementara itu, menanggapi hal ini, salah satu kontraktor proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi/engineering, procurement, and constructions (EPC) 2, Blok Cepu konsorsium PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT) – PT. KELSRI menepis spekulasi tersebut.
“Kalau perusahaan tetap menggunakan cara teknis. Saya kira tidak ada kalau sampai harus menggunakan jasa pawang hujan,” tukas Humas PT.IKPT, Sunarto dikonfirmasi terpisah.(roz)