Rela Berhenti Mengajar dan Memilih Jadi Sukarelawan

bunda Wafi

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Menjadi sukarelawan bencana sudah menjadi pilihan hidup Bunda Wafi. Ia pun rela meninggalkan profesinya sebagai guru demi membantu menyelamatkan sesama.

Tak ada rasa canggung dalam diri wanita berjilbab itu. Dia menerjang genangan air banjir untuk mendatangi satu persatu korban banjir di Desa Siser, Kecamatan Leran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Meski tubuhnya agak subur tak membuat langkah kakinya berat berpindah dari satu rumah ke rumah korban banjir.

Dengan ramah wanita berkulit putih dan berkacamata minus itu mendata dan mengevakuasi para korban banjir di wilayah Siser. Sesekali dia mengajak bercanda para korban untuk sejenak menghilangkan rasa panik dan takut akan banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo yang melanda warga.

Wanita itu adalah Wafi. Satu-satunya perempuan yang menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Lamongan yang ikut membantu penangan bencana banjir di wilayah tersebut. Wanita yang akrab dipanggil Bunda Wafi itu terjun langsung kelokasi banjir di wilayah Lamongan seminggu lalu. Dia berbaur dengan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Lamongan,  bersama tim relawan lainnya.

Baca Juga :   Menimba Air di Celah Kemarau Panjang

“Di kelompok  korps sukarelawan PMI Lamongan, saya kebetulan satu-satunya wanita,” kata bunda Wafi kepada www.suarabanyuurip.com disela-sela kesibukannya mendata jumlah korban banjir di Desa Siser.

Meski menjadi satu-satunya perempuan, tak membuat dirinya canggung bergabung dengan 24 rekan-rekan prianya. Justru hal itu menjadi pelecut semangat Bunda Wafi untuk turut mandharma bhkatikan dirinya membantu korban bencana. Apalagi selama ini di kabupaten Lamongan sedikit perempuan yang bertahan untuk menjadi sukarelawan bencana.    

Buktinya, dari sekira 25 perempuan yang tergabung dalam korps sukarelawan (KSR), hanya dia yang masih bertahan. Perempuan lainya satu persatu mrotoli dari kelompok sosial ini. Karena ketangguhannya itulah Bunda Wafi dinobatkan sebagai ketua KSR Lamongan.

“Rata-rata mereka keluar karena menikah, dilarang orang tua atau karena tidak sanggup menghadapi tantangan dimedan bencana yang sangat berat,” ungkap Bunda Wafi.

“Sedangkan di KSR tidak ada gaji. Sifatnya suka rela,” lanjut dia menerengkan.

Kesungguhan dan keteguhan Bunda Wafi untuk bergulat di wadah sosial ini sudah teruji. Terbukti dia rela keluar sebagai guru di SMPN I Sukodadi dan lebih memilih terjun di KSR Lamongan.

Baca Juga :   Mengobati Kegelisahan Anak Petani

“Saya ingin fokus. Tidak ingin setengah-setengah di KSR. Saya disini karena panggilan hati,” tegas Bunda Wafi.

Wanita cantik berjilbab ini kemudian menceritakan, dia bergabung dikegiatan KSR  Lamongan sejak tahun 2005. Awalnya dirinya terjun menjadi tim relawan untuk menghilangkan kesedihan setelah ditinggal meninggal dunia suaminya.

“Saya berpikir, dari pada terus meratapi diri kenapa tidak saya manfaatkan untuk berbagi dengan sesama,” cerita Bunda Wafi.

Ia mengaku, terjun di kegiatan KSR merasakan tantangan yang luar biasa berat. Ujian pertama yang harus dihadapi adalah deraan mental. Kala itu, Wafi bersama 3 orang temannya mengadakan kegiatan penggalangan dana untuk membantu korban gunung merapi yang meletus tahun 2005. Wafi dan timnya menyisir jalan-jalan, perkantoran, pasar dan sudut-sudut kota Lamongan menghimpun dana sumbangan dengan mengangsurkan kardus ke setiap orang.

“ Itu ujian mental pertama bagi saya. Alhamdullilllah, bisa mengumpulkan dana hampir Rp5 juta,” ucap perempuan yang tinggal di Desa Paji, Kecamatan Pucuk, Lamongan ini. (bersambung)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *