TAMPARAN terik matahari siang itu kian memanah setiap sudut di sekitar area sumur minyak Tiung Biru (TBR). Ladang Migas di Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) Asset 4 Fiel Cepu didera panas bertubi-tubi.
Walau telah menjadi agenda tahunan, namun pergantian musim kali ini tetap berbeda. Panas matahari di desa minyak terasa bak kobaran api. Seakan meranggaskan pepohonan di sana.
Bumi tuk berpijak pun kian membawa hingga melahirkan hamparan ladang pertanian tadah hujan mulai retak di sana-sini. Dedaunan yang di musim penghujan terlihat ijo royo-royo, kini mulai menguning dengan kondisi loyo-loyo. Sejak awal bulan September 2013 lalu panas makin digdaya.
Warga di desa sekitar ladang Migas TBR tak menangisi datangnya kemarau. Namun, kini mulai meratapi mengeringnya sumur air yang selama ini mengasup kebutuhan sehari-hari mereka.
Satu fakta menyebut sederet sumur gali warga di Desa Malingmati, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro saat ini telah mengering. Di sana tinggal menyisakan satu sumur yang ditimba 400 kepala keluarga (KK) yang menghuni dukuh setempat. Dukuh Malingmati.
Mereka harus antri untuk mendapatkan air dari sumur tersebut. Berjam-jam warga harus menunggu giliran untuk mendapatkan setimba air untuk memenuhi kebutuhan masak, mandi, dan tentunya juga minum hewan piaraan. Apalagi debit air di sumur dengan kedalaman enam meter tersebut ditaksir tinggal semeter.
“Sejak dulu warga sekitar hanya menggantungkan kebutuhan air dari satu sumur ini, Mas,” kata Endang, salah satu warga setempat kepada Suarabanyuurip.com ketika ditemui saat mengambil air di sumur tersebut.
Wanita paruh baya yang berdomisili di RT 22, RW 06 ini mengatakan, sumur tersebut merupakan satu-satunya penopang kebutuhan air warga sekitar. Baik untuk mandi, memasak, mencuci, dan sebagainya. Warga harus bergantian mengambil air bersih dari sumber air yang berasal dari sumur dengan cara menimba menggunakan kaleng plastik.
“Kalau disedot memakai mesin pompa air tidak bisa naik, soalnya ini kan air tinggal sedikit. Andaikan bisa, airnya juga keruh,” terangnya.
Di bawah sengatan terik matahari, wanita berpakaian baju warna ping itu memasukan timba dengan dikeler temali kusam ke dalam sumur. Tampak tangannya cekatan menarik timba berisikan air dari dalam sumur untuk dimasukan jerigen sekitar 50 liter tersebut.
“Sudah biasa terkena panasnya terik matahari. Jadi sudah tidak kaget lagi, Mas. Lagi pula, jika takut panas ya tidak mungkin dapat air,” terangnya.
Senada diungkapkan Prapto, warga Desa Kalisumber. Dia mengaku, mulai masuk bulan Oktober ini warga Kalisumber sudah mulai terasa sulit mencari air bersih. Sebab, sumur yang dimiliki warga sudah tidak normal lagi sumbernya.
“Kalau bulan September kemarin warga Kalisumber masih bisa mencukupi kebutuhan air bersih. Karena sumber sumurnya masih lumayan mencukupi. Tapi, sekarang sudah mulai telat, Mas,” ungkap Prapto.
Warga Desa ring satu sumur minyak TBR itu berharap, agar para operator Migas yang beroperasi di desanya segara memberikan bantuan air bersih. Sehingga, warga bisa mencukupi kebutuhan air bersih tersebut.
“Semoga saja perusahaan yang mengelola sumur TBR segera memberi bantuan air bersih kepada warga. Dengan begitu, beban warga baik warga Kalisumber, dan Malingmati maupun warga desa lain terkurangi,” kata Prapto dengan nada berharap.
Sedangkan Kepala Dusun Kaliaren, Desa Malingmati, Kardi, menjelaskan, datangnya musim kemarau ini membuat warga sekitar harus menghemat penggunaan air hingga musim hujan tiba. Sebab, hanya dengan cara itu warga bisa bertahan untuk mencukupi kebutuhan air bersih dalam setiap harinya.
“Alhamdulillah kemarin lalu sudah ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah untuk Desa Malingmati. Kalau tidak salah satu unit mobil tanki air bersih, Mas,” ungkap Kardi menerangkan.(samian sasongko)