Mereka Bertaruh Nyawa Demi Menuntut Ilmu

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo tak membuat surut niat para pelajar di Desa Banjar, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur untuk tetap bersekolah. Semangat mereka menuntut ilmu kalahkan derasnya aliran sungai yang mereka seberangi saban hari.

Angin kencang menggoyang-goyang daun pisang di sepanjang jalan Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Senin (18/2/2013) siang kemarin. Di kanan kiri jalan itu tak terlihat areal persawahan. Semuanya terendam air dan berubah seperti danau.

Begitupun Jalan Desa Truni. Air luapan Sungai Bengawan Solo yang merendam areal persawahan itu telah menggenangi jalan. Sesekali genangan air diareal persawahan yang meluber ke jalan itu terhempas sang bayu dan membentuk ombak kecil.

Diantara genangan air terlihat belasan pelajar berseragam putih biru tengah menuntun sepedah pancal. Sambil mencangklong tas rangsel dan menenteng sepatu, mereka menerjang genangan air setinggi sekira 20 centi meter.

Kaki telanjang mereka lincah menyibak air. Tak ada rasa canggung dan takut yang tersirat di wajah bocah berusia belasan itu. Meskipun harus berjibaku menyeberangi sungai sedalam punggung mereka dan menerjang arus yang cukup deras.

Baca Juga :   Menggantungkan Asa dari Tanah Rawa

Bagi mereka banjir seperti sekarang ini bukanlah hal baru. Karena itu, meski jalan menuju sekolahnya digenangi air, para pelajar itu tetap masuk sekolah untuk menuntut ilmu. Mereka seakan tak mempedulikan derasnya aliran air yang mengancam keselamatannya.

“Sudah biasa, pak. Sejak dulu kalau banjir ya tetap masuk (sekolah),” kata Andik salah satu pelajar SMPN 2 Widang saat melintas di jalan Desa Truni usai pulang sekolah, Senin (18/2/2013).

Sebenarnya, para siswa dari Desa Banjar itu dapat mencari jalan lain yang lebih aman untuk menuju SMPN 2 Widang. Tidak melewati jalan Desa Truni yang tergenang air hampir selutut mereka. Namun jarak yang musti mereka tempuh bertambah lumayan jauh apabila melewati jalan raya yakni sekira lima kilo meter.

“Lebih cepat lewat sini (Desa Truni). Jaraknya cuman satu kilo,” sergah Andik diamini pelajar lainnya.

Menurut warga Truni, anak dari Desa Banjar yang bersekolah di SMPN 2 Widang setiap harinya selalu nekad menyeberangi sungai kendati sedang banjir. Dipilihnya jalan Truni ini karena lebih dekat dengan sekolah mereka.   

Baca Juga :   Kematian Khoirul Anam Masih Sisakan Misteri

“Setiap hari pergi dan pulang mereka lewat sini, mas,” sambung salah seorang Warga Truni, Darmi.(tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *