Bersama Tripatra, Pekerja dan Masyarakat Sehat

SuaraBanyuurip.comD Suko Nugroho

Kesehatan menjadi salah satu perhatian utama Tripatra dalam melaksanakan proyek EPC-1 Banyuurip. Program rutin mulai senam pagi, mengontrol makanan, donor darah hingga layanan kesehatan gratis bagi warga telah diberikan kontraktor asal Jakarta itu.

Berbagai kegiatan di bidang kesehatan telah dilakukan Tripatra Engineer & Constructors, sejak melaksanakan proyek engineering, procurement and constructions (EPC) – 1 Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.  Baik kegiatan kesehatan untuk para tenaga kerja maupun masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Untuk kegiatan kesehatan bagi pekerja yang dilakukan meliputi senam pagi yang dilaksanakan setiap hari Senin selama 30 menit sebelum mereka memulai pekerjaannya. Senam pagi ini dilaksanakan setelah mass meeting dan wajib diikuti para pekerja untuk menjaga kebugaran.

Selain itu, juga senantiasa mengontrol semua makanan yang dikonsumsi para pekerja melalui perusahaan katering yang digandeng Tripatra. Ada 14 perusahaan katering lokal Bojonegoro yang mensuplai kebutuhan makan para pekerja yang sudah memiliki sertifikasi uji higienis dari Dinas Kesehatan Bojonegoro. Namun demikian, Tripatra secara kontinyu mengontrol para perusahaan katering mulai dari bahan-bahan yang digunakan, cara mengolah hingga lokasi memasak.

“Kita ingin memastikan agar apa yang dikonsumsi para pekerja aman. Tidak menyebabkan sakit atau keracunan,” tegas Community Affairs Tripatra & Engineers, Budi Karyawan kepada Suara Banyuurip di ruang kerjanya, pekan ke tiga Juni lalu.

“Dengan terjaganya kesehatan para pekerja tentunya akan meningkatkan produktifitas mereka dalam bekerja pula,” lanjut Budi, menerangkan.

Bukan hanya itu, perusahaan nasional asal Jakarta itu juga menyiapkan klinik kesehatan di dalam lokasi proyek. Klinik tersebut dilengkapi peralatan dan tenaga medis untuk memberikan pertolongan kepada pekerja yang sewaktu-waktu mengalami sakit maupun kecelakaan kerja  pada saat bekerja.

“Ada 6 dokter dan 20 perawat di klinik itu. Mereka setiap hari stanby di situ,” kata Budi.

Bahkan untuk mengetahui kesehatan bagi calon tenaga kerja, Tripatra mewajibkan kepada semua subkontraktornya untuk melakukan medical chek up (MCU) bagi para pekerjanya. Tujuannya agar diketahui kesehatan para pekerja sebelum mereka melakukan aktifitasnya.

Baca Juga :   Ada yang Malu-malu hingga Tak Mau Mencalonkan Lagi

“Ini menjadi salah satu syarat utama bagi pekerja maupun subkontraktor yang terlibat di sini,” tandas Budi.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan darah di Bojonegoro, Tripatra juga menggelar donor darah setiap tiga bulan sekali bagi karyawannya. Sudah empat kali kegiatan sosial itu dilaksanakan Tripatra. Kegiatan itu disambut antusias para pekerja karena mereka merasa dapat membantu menyumbangkan darahnya untuk sesama.

Hingga awal Juni lalu, jumlah karyawan yang mengikuti donor darah rutin sebanyak185 orang. Ratusan orang itu dari karyawan Tripatra, subkontraktor dan operator migas Blok Cepu, Mobil Cepu Limited (MCL). Hasil dari donor darah itu disumbangkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro.

“Apa yang dilakukan Tripatra ini sangat membantu masyarakat Bojonegoro yang membutuhkan darah. Apalagi Bojonegoro selalu kekurangan darah,” sambung Sekretaris Umum PMI Cabang Bojonegoro, Sukohawidodo.

“Semoga apa yang dilakukan Tripatra ini ditiru oleh perusahaan lainnya di Bojonegoro,” lanjut pria yang pernah mencalonkan sebagai anggota DPRD Bojonegoro itu.   

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi Tripatra melaksanakan kegiatan donor darah. Yakni masih kurangnya kebutuhan darah di Bojonegoro. Yang mana dari 1,4 juta jiwa penduduk Bojonegoro jumlah kebutuhan darah setiap tahunnya mencapai 28 ribu kantong, namun baru dapat terpenuhi sekira 10 ribu kantong.

“Itulah yang menggerakkan kami untuk membantu mencukupi 2% kebutuhan darah di sini,” sambung Budi kembali.

Dalam donor darah ini Tripatra tak mengharuskan para karyawan maupun pekerjauntuk ikut serta dalam kegiatan sosial tersebut. Namun, dengan adanya program rutin donor darah ini para karyawan yang memiliki rasa kepedulian terpanggil untuk menyumbangkan darahnya untuk sesama.

“Jadi sisi kemanusiaan ini muncul bukan dari Tripatra, namun dari karyawan sendiri,” tegas putra asli Malang, Jawa Timur.

Baca Juga :   Rela Menunggu Sehari Demi Seteguk Air di Musim Kering

Program donor darah ini dapat menepis anggapan bahwa tidak semua program coorporate social (CSR) berorientasi pada jumlah anggaran yang diberikan, tentang apa yang dihasilkan dan apa nilai tambah bagi perusahaan. Melainkan menumbuhkan kebanggan bagi para pekerja dan karyawan karena dapat memberikan sesuatu atau nyumbangkan darahnya kepada sesama.

“Inilah yang selama ini tidak terpikirkan. Karena dengan lahirnya kebanggan terhadap perusahaan, tentunya akan menumbuhkan semangat  karyawan dalam bekerja dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan,” kata Budi, menerangkan.

“Inilah yang sebenarnya merupakan kontribusi besar yang diterima perusahaan,” lanjut Budi.

Bahkan dengan donor darah rutin yang dilaksanakan Tripatra selama ini, saat ini sudah ada kelompok donor darah yang terbentuk di lingkungan pekerja. Bahkan, ada pekerja Tripatra asal Desa Gayam yang sebelumnya mengikuti donor darah telah membentuk persatuan donor darah Indonesia (PPDI) Kabupaten Bojonegoro di desanya.

“Terbentuknya PPDI di Gayam itu embrionya dari kegiatan yang kita lakukan selama ini. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan uang. Karena, ini merupakan rasa kemanusian,” tegas Budi.

Jika rasa kepedulian dan kemanusian ini muncul dalam diri para karyawan dan pekerja, tentunya akan ada kelompok-kelompok pendonor darah di masing-masing desa atau daerah.

Sedangkan bidang kesehatan yang dilaksanakan Tripatra bagi masyarakat sekitar lokasi proyek adalah layanan kesehatan gratis bagi balita dan lansia. Kegiatan ini memberikan pelayanan kesehatan secara rutin dengan melibatkan perangkat desa, bidan desa, dokter puskesmas dan kader yang ada di desa-desa sasaran.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendeteksi penyakit yang diderita warga akibat adanya proyek,” tandas Budi.

Semua yang dilakukan Tripatra di bidang kesehatan itu sebagai bentuk kepedulian dan tanggungjawabnya kepada pekerja, karyawan maupun masyarakat agar tetap sehat dan produktif. (suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *