Menunggu Setetes Embun di Ladang Pengharapan

demo TBR-Bjn-sam

SENJA masih belum berlalu meremas rembang petang. Berjejer awan redupkan mentari yang tampak pelan mulai beranjak ke peraduan. Semilir angin menggendong mendung ke arah barat kian menutup wajah sang surya di celah daun jati.

Sorot sang digdaya hari menjelang sore seperti tak berarti apa-apa di lokasi pemboran sumur minyak dan gas (Migas) Tiung Biru (TBR), Blok Gundih. Sekalipun aktivitas alat berat tak lelah memuntahkan emas hitam dari perut bumi. Namun, cerita tentang ladang migas berikut gelegak emosi warga tak pernah padam. Mungkin hingga Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, Jawa-Timur sirna ditelan bumi.

Desa yang berada di tepian hutan jati milik Perhutani KPH Padangan, Kabupaten Bojonegoro itu semula katagori desa yang sepi. Tak ada aktivitas apapun kecuali bertani, berternak kambing dan sapi, meladang di lahan persil Perhutani atau menebang jati tatkala panen dilaksanakan oleh perusahaan negara tersebut. Kendati, kini Desa Kalisumber memiliki cerita. Seiring dengan dimulainya proyek migas sekira tahun 2005 silam.

“Semula, warga sini tak mengira bila ada sumur migas,” kata Rawuh, warga Desa Kalisumber memulai membuka kisah saat ditemui SuaraBanyuurip.com di bawah pohon mangga tak jauh dari lokasi TBR akhir pekan lalu.

Warga Desa Kalisumber pun kala itu menganggap aktivitas kedatangan alat berat meratakan tanah dilahan milik Perhutani, sekira tiga hektar itu, untuk membangun kompleks perumahan karyawan Perhutani. Mereka baru tahu bila lokasi yang dipadatkan dengan tanah urug itu sebagai tempat mengebor tanah untuk dibuat menyedot minyak, setelah berdatangan warga luar daerah ke desa mereka.

Baca Juga :   Terkesan Saat Menyisir Korban Tenggelam Bengawan Solo

Terlebih, sekira tahun 2008 silam perusahaan tengah mendatangkan peralatan rig untuk eksplorasi pertama sumur TBR-A. Warga yang semula adem ayem menjalankan aktivitasnya sebagai petani mulai terusik. Karena, mereka merasa ditilap. Apalagi, setelah pekerja dari luar daerah mulai berdatangan disentra kegiatan migas TBR.

Tak dipungkiri, upaya ingin bekerja di sumur minyak yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) terus dilakukan oleh warga. Namun, tak mendapatkan tanggapan sesuai harapan mereka. Akhirnya, warga dari enam desa dari dua wilayah  Kecamatan bergabung menyatukan tekat dan tujuan melakukan aksi demo besar-besaran dilokasi TBR.

Enam desa itu adalah, Desa Purwosari, Gapluk, Kuniran, Kecamatan Purwosari dan Desa Kalisumber, Tambakrejo, Malingmati, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro. Hingga, alat untuk pengeboran berhenti total tidak beraktivitas.

“Dulu demone mengerikan, Mas. Sebab, setiap ada mobil perusahaan lewat akses menuju lokasi TBR terjadi insiden dilempari oleh orang tak dikenal,” sambung Suyati istri Rawuh sambil mengemasi peralatan taninya. 

Akibat aksi masa massa kala itu, hampir sekitar satu hari satu malam eksplorasi sumur TBR-A harus berhenti total. Kemudian, semua tokoh masyarakat dipertemukan di Balai Desa Kalisumber. Dalam pertemuan antara warga dengan Pertamina EP dikawal ketat oleh pihak keamanan. Yakni, gabungan dari Kepolisian tiap Polsek dan Polres Bojonegoro.

Baca Juga :   Harga Gaplek Naik Petani Tersenyum

Musyawarah berlangsung panas nyaris menemui jalan buntu. Namun, setelah tuntutan warga yaitu perekrutan tenaga Security disepakati Pertamina EP, aksi demo bisa reda dan aktifitas kembali berjalan lancar.

“Kala itu demone sangat keras ada pekerja Pertamina EP malam-malam didatangi warga dilokasi untuk mematikan mesin pengeboran,” ungkap Rawuh.

Akhirnya, tuntutan warga agar dilibatkan sebagai tenaga kerja disepakati. Apalagi, saat itu tenaga kerja semua dikuasi oleh warga dari luar daerah. Baik tenaga Security maupun tenaga kasar lainnya.

Tak hanya itu, lanjut pria paruh baya ini, kala itu juga sempat terjadi aksi massa lagi. Ketika dampak eksplorasi TBR-A mengancam tanaman padi. Air luberan dari lokasi pemboran yang dibawa hujan ternyata bercampur limbah. Sehingga, menyebabkan tanaman padi disekitarnya mati.

“Warga menutup lagi eksplorasi TBR-A, Pak. Karena, tanaman padinya mati teraliri air hujan yang bercampur limbah dari lokasi. Kemudian, aksi massa itu kembali reda setelah petani yang tanaman padinya mati diberi ganti untung aktivitas Pertamina EP kembali lancar,” tutur Rawuh. (Samian Sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *