Hasil Panen Sekitar Ladang Blok Cepu Jeblok

panen Jelu-Bjn-sam

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Di saat panen raya padi petani di sejumlah desa kawasan sekitar ladang migas Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur saat ini menjerit. Hal itu terjadi lantaran hasil panen mereka di musim panen saat ini merosot tajam dari musim panen tahun 2012 lalu.

Benjutnya hasil panenan itu terjadi setelah hamparan lahan sawah mereka diserang berbagai hama penyakit. Mulai dari serangan hama potong leher, walang sangit, hingga serbuan kresek. Hama tersebut berturut-turut hingga hasil panenan tak maksimal, pula menambah biaya untuk insektisida untuk memerangi hama bertubi-tubi tersebut.   

Dalam kondisi tersebut, petani dipaksa menerima harga gabah berkisar Rp2.800 hingga Rp2.900 per Kg. Harga paling tinggi di tingkat petani Rp3.000 per Kg untuk kualitas gabah yang benar-benar bagus. Saat panen sebelumnya mereka masih bisa menikmati harga Rp3.000 hingga Rp4.000 per Kg.

Sejumlah petani yang ditemui SuaraBanyuurip.com di sawah mereka menyatakan, jika lahan sawah tadah hujan seluas 1 hektar sebelumnya bisa memetik hasil hingga 4-5 ton, kini paling banyak hanya bisa menuai 3 ton gabah kering sawah. Sedangkan biaya yang dikeluarkan mulai bibit, perawatan, pupuk, dan obat-obatan (insektisida) per hektar sekitar Rp6 juta.

Baca Juga :   Menhub : Arus Mudik dan Balik Berjalan dengan Baik

“Tahun ini hasil panen petani utamanya padi sangat merosot dibandingkan dengan tahun 2012 silam. Jangankan kembali modalnya tidak punya hutang pupuk saja sudah beruntung,” kata Kepala Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Guntur, saat ditemui di lahan bengkoknya, Minggu (31/3/2013).

Luas bengkok yang digarap, jelas Guntur, sekira empat hektar. Yang semuanya berupa lahan tadah hujan. Biasanya jika tanamannya baik per hektarnya bisa mencapai sekira enam ton. Dengan biaya total penggarapan hingga panin berkisar kurang lebih Rp25 juta.

“Tahun yang lalu meski hasil paninnya tidak maksimal masih mampu memperoleh sekitar empat sampai lima ton per hektarnya. Tapi sekarang, bisa sampai tiga ton saja sudah sulit, Mas,” jelas orang nomor satu di jajaran Pemdes Jelu yang wilayahnya juga sebagai jalur pipa milik Pertamina EP Cepu untuk mengalirkan minyak dari sumur Banyuurip, Blok Cepu menuju Mudi, Tuban, Jawa-Timur tersebut.

Menurut para petani di Desa Jelu, dan desa lain di sekitarnya kemerosotan hasil panen yang didapatnya tahun ini lebih banyak disebabkan kurang baiknya curah hujan. Lain itu  juga seringnya terjadi serangan hama penyakit pada tanaman padi. Semisal, potong leher, kresek dan walang sangit. Sehingga, membuat kondisi pertemubuhan tanaman padi tidak maksimal atau terganggu.

Baca Juga :   Akses Menuju J-TB Longsor

“Kondisi panen padi kami saat ini memang tak bagus, semoga saja masih bisa menutup utang pupuk dan obat-obatan,” kata sejumlah petani saat ditemui memanen padinya.

 
Buruknya kualitas gabah sebenarnya masih bisa dipahami petani, karena memang lagi tidak beruntung. Akan tetapi mereka sangat menyesalkan karena jatuhnya panenan diikuti dengan menurunnya harga gabah. Hal ini sangat berakibat pada kerugian yang sudah menunggu di depan kaum tani.

“Harga gabah dulu bisa stabil dengan kisaran Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilonya. Tapi sekarang tidak seperti itu,” kata Marji, petani lain asal Desa Dukoh Kidul, Kecamatan Ngasem.  Dia ungkapkan, harga gabah saat ini di pasaran tingkat petani berkisar Rp2.800 hingga Rp2.900 per Kg. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *