Bagai agenda dari musim yang tak kenal kata putus. SD di tepian Sungai Bengawan Solo menjadi langganan banjir.
SELAIN merendam permukiman warga, dan area persawahan, banjir luapan air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini menjamah Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bangunan ekonomi, sosial, dan pendidikan warga pun harus kembali pada titik nadir. Luluh lantak menyisakan derita panjang tak terurai mengikuti datangnya musim.
Tampak di hari Rabu (10/04/2013) siang,  seharusnya kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung di SDN Truni. Namun, karena halaman, dan teras ruang kelas terendam banjir, anak-anak  justru asyik bermain di genangan air.
“Enak, Pak, tidak ada pelajaran,“ kata seorang anak sambil mencipratkan air ke beberapa temannya.
Walau bukan sekali dua kali sekolah mereka kebanjiran, namun genangan air masih menjadi arena permainan yang mengasyikkan bagi anak-anak di sana. Mereka baru akan berhenti ketika guru berteriak menghentikan mereka. Namun dasar anak-anak, begitu sang guru berlalu, mereka kembali meneruskan permainan.
Kepala SDN Truni, Sudarsono, menyatakan, banjir telah menjadi siklus tahunan di sekolah yang dipimpinnya. Akibat genangan banjir, seringkali menghambat kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Bahkan sering sekolah harus diliburkan jika banjir masuk ruang kelas.
“Kalau meliburkan anak harus ijin dulu ke UPT Diknas Babat, Mas,“ kata Sudarsono.
Siang tadi SDN Truni memang tidak diliburkan, tetapi praktis KBM tidak berjalan efektif. Para guru hanya duduk-duduk di kantor. Beberapa guru yang tinggal di Desa Truni, tidak datang ke sekolah karena membersihkan rumahnya. Hal tersebut, agaknya cukup dimaklumi oleh kepala sekolah asli Widang, Tuban ini.
Lembaga pendidikan ini satu-satunya SD di desa tepian Bengawan Solo. Memiliki 12 guru, delapan orang diantaranya berstatus PNS, dan sisanya GTT. Ada 152 siswa yang bersekolah di sini, semuanya anak-anak mayoritas petani dari desa setempat.
Sekolah  ini telah bertahun-tahun menjadi langganan banjir, karena dibangun di dataran rendah. Begitu air datang praktis enam ruang kelas, satu kantor guru, dan satu perpustakaan langsung terendam. Apalagi lokasinya dikelilingi area persawahan.
Sebenarnya, menurut Sudarsono, banjir bisa dicegah jika SDN Truni memiliki pagar keliling. “Kalau ada pagarnya air tidak akan masuk,“ cetusnya. Namun, karena keterbatasan dana, harapan untuk membangun pagar hanya terpenggal sebatas impian.
Sudarsono pernah menggagas menarik iuran dari wali murid, namun terbentur pada ketidakmampuan ekonomi warga.  “Ketika dikumpulkan, dan diajak iuran wali murid saat itu hanya memberikan Rp2 ribu sampai Rp3 ribu,“ ujarnya prihatin.
Sepenggal harapan masih dirajut Sudarsono. Yakni berharap ada kepedulian dari Diknas Pendidikan Lamongan, dengan membantu pembangunan pagar sekolah. Â
“Mudah-mudahan melalui Anda, ada kepedulian dari Pemkab Lamongan membantu pembangunan pagar sekolah,“ kata Sudarsono.
Terik matahari siang mulai meraba dinding-dinding kelas SDN Truni. Riak air bergelombang memenuhi halaman sekolah. Anak-anak masih bermain air. Tak perduli bisa sakit, pun masa bodoh jika ada ular sawah menggigit mereka. Mereka benar-benar menikmati keceriaan di musim banjir. (totok martono)