SuaraBanyuurip.com -Â
Industri migas belum memberi kesejahteraan petani sekitar pemboran. Kehidupam mereka justru terpuruk. Mereka menjadi tukang ngasak.
MATAHARI berada tepat diubun-ubun. Panasnya begitu menyengat kulit. Namun sengatan itu tak dirasakan Samini (58), seorang petani Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia tampak tenang memunguti satu persatu batang padi diareal persawahan dekat ekplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (Migas) Pad B Lapangan Sukowati, Blok Tuban.
Dengan duduk bersimpuh di lumpur persawahan, tangan wanita paruh baya itu cekatan menyibak tumpukan jerami disekelilingnya. Tangannya kokoh menggenggam setumpuk jerami untuk kemudian ditumbuk dan diperas agar mendapatkan ceceran gabah (padi) yang baru saja dipanen pemiliknya. Bulir-bulir padi yang masih tersisa itu Samini kumpulkan dalam sebuah karung (sak) yang sudah dia persiapkan dari rumah.
“Mencari sisa gabah dik, saya tidak punya pekerjaan lain, selain ngasak,†ujar Samini sambil mengusak keringat dengan lengan bajunya yang lusuh.
Menjdai tukang ngasak mulai Samini lakoni sejak suaminya meninggal setahun lalu. Dia harus membanting tulang untuk menopang kehidupan keluarganya. Samini hidup satu rumah dengan anak perempuan dan menantunya yang bekerja sebagai tukang becak.
Sebenarnya Samini memiliki satu petak lahan yang jaraknya sekira 200 meter dari titik pengeboran Pad B. Namun lahannya hanya seluas sekira 10 x 6 centi meter (cm). Lahan itu tak mampu menghidupi keluarganya.
Karena itulah, nenek satu cucu ini rela mencari ceceran gabah dari satu tempat ke tempat lain. Walaupun jaraknya jauh pasti akan ditempuh. Dimana ada dearah panen disitu Samini akan berjuang mengumpulkan sisa bulir padi.
â€Suami saya sudah meninggal setahun lalu. Saya tidak ingin terlalu membebani anak saya,†ujar dia lirih.
Samini sadar, menjadi tukang ngasak (mencari sisa gabah) hasilnya tak bisa diandalkan. Hasil yang dia dapat tergantung hasil panen petani. Artinya, jika hasil pertanian petani bagus, hasil yang diperoleh Samini juga lumayan.
Begitu juga sebaliknya. Bila hasil pertanian petani jelek, maka hasil yang dia peroleh dari ngangsak juga ikut turun. Seperti hasil ngangsak yang dia lakukan di sekitar pengemboran migas Sukowati, Blok Tuban yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOB P-PEJ).
Meski disekitar lokasi pemboran sedang panen raya, namun panen petani sedang jepluk. Banyak bulir padi yang tidak berisi karena lahan pertanian diwilayah tersebut terendam banjir luapan Sungai Bengawan Solo ketika padi baru mulai menguning.
â€Gabahnya banyak yang kopong. Habis terandam banjir,†ungkap Samini sambil menyibak tumpukan jerami disekitarnya.
Dari hasil ngasak seharinya Samini hanya mampu mengumpulkan ceceran gabah sebanyak 3 kilo gram (kg). Namun setelah dikeringkan beratnya menyusut menjadi 1 kg. Untuk itu dia tak jarang menyumbangkan tenaganya membantu petani ketika panen. Samini mengangkati padi sebelum didos (giling). Â Â
â€Kalau bantu-bantu biasanya dapat imbalan gabah. Lumayan lah mas,†tutur wanita berkulit legam ini.
Setiap musim penan seperti ini, memaksa Samini selalu berangkat pagi. Wanita senja itu menyusuri pematang sawah untuk mencari lahan pertanian yang sedang atau baru saja dipanen. Dengan berbekal caping khas petani dan karung tempat padi serta satu buah kayu sekitar 25 cm sebagai senjata pengais sisa padi, dia bersahabat dengan getirnya hidup.
Walaupun tinggal di Ring 1 pemborang Pad Sukowati, Samini belum merasakan kesejahteraan dari adanya emas hitam ditanah kelahirannya. Program-program corporate social responsibility (CSR) dari operator yang seharusnya dapat memberikan keterampilan belum sepenuhnya diterima warga.
Tercatat, dari 1.753 kepala keluarga (KK) di Desa Ngampel, menurut data dari pemerintah desa setempat. Sebanyak 40 persen warga masih hidup dilevel menengah ke bawah.
â€Ada perubahan pastinya, namun belum sepenuhnya,†sambung Kepala Desa Ngampel, Pujiono dikonfrontir terpisah. â€Harus ada program pemberdayaan yang secara berkelanjutan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga,†lanjutnya. Â
Namun antara perubahan ekonomi warga dengan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pemboran itu tak sebanding. Masyarakat sekitar sering merasakan efek dari pemboran. Seperti pertanian yang kekurangan air, suara bising alat-alat pemboran dan suasana udara yang kian hari bertambah panas.
â€Masyarakat utamanya sekitar pemboran harus lebih diberdayakan agar mereka dapat menangkap peluang usaha dari kegiatan yang ada di desanya. Apalagi mereka sudah melepaskan lahan yang menjadi gantungan hidup mereka untuk proyek migas,†sergah Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Abdul Wahid Syamsuri.
Menurut Wahid, terampasnya lahan pertanian untuk proyek migas ini jika tidak segera disikapi oleh operator maupun pemerintah kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bisa menjadi bom waktu yang memicu kerawanan sosial. Sebab, selain masyarakat tak memiliki keterampilan yang memadai, hasil penjualan lahan tak semuanya digunakan untuk membeli sawah lagi. Melainkan habis untuk kebutuhan konsumtif.
â€Hilangnya lahan pertanian ini akan memberikan ekses sosial luar biasa bagi masyarakat. Untuk itu kami di dewan telah menyiapkan raperda tentang perlindungan lahan pertanian untuk ketahanan pangan,†tegas Politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.
â€Melalui Perda ini nantinya hak-hak masyarakat petani bisa terlindungi. Karena Perda ini bisa menjadi dasar Pemkab dalam melaksanakan wewenang dan tanggungjawab dalam melindungi lahan pertanian,†tandas Wahid.
Ketidakberdayaan masyarakat dalam beradaptasi dengan kegiatan migas sebenarnya telah diantisipasi operator Blok Tuban. Seringkali perusahaan migas yang 75 persen lebih sahamnya dikuasai Pertamina itu membantu warga sekitar ekplorasi terutama Pad A dan Pad B melalui program-program CSR dan pemberian santunan senilai Rp.85.000 hingga Rp125.000 per KK per bulannya.
“Kami disini kan di wilayah orang (orang sekitar proyek) tentunya kami juga akan terus memerhatikan kondisi warga sekitar,” timpal Field Administration Superentendent JOB PPEJ, Basit.
Namun serangkaian program pengembangan masyarakat yang digulirkan JOBP-PEJ sepertinya belum menyentuh lapisan masyarakat paling bawah. Derita panjang yang dialami Samini menjadi bukti bila industri migas tak mampu mensejahteraan petani di sekitar pemboran migas. (eky nurhadi)