SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang beberapa hari lagi akan dihelat di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur diprediksi marak dengan money politik (politik uang). Sebab cara itu sudah menjadi budaya pelaksanaan demokrasi ditingkat desa. Akibat budaya itu tak jarang setiap calon harus mengeluarkan biaya hingga mencapai ratusan juta rupiah.
Untuk bisa menjadi pemenang dalam Pilkades berbagai cara dan trik dilakukan para calon kepala desa (Kades). Salah satunya dengan politik uang. Cara itu dilakukan dengan cara terang-terangan (wajar) atau terselubung baik langsung oleh calon kades maupun botoh (tim sukses).
Berkaca pada Pilkades di Lamongan enam tahun lalu, yang paling marak dipertarungan Pilkades adalah permainan money politik. Semakin dekat dengan hari pencoblosan, maka akan semakin banyak uang yang dibagi-bagikan kemasyarakat. Puncaknya pembagian uang itu dilakukan dimalam hari pencoblosan. Mereka membagikan kesetiap rumah dengan pesan agar si penerima mencoblos calon yang memberi uang tersebut.
“Serangan fajar ini sudah biasa mas dipertarungan Pilkades. Nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah,†ujar seorang mantan kepala Desa diwilayah Kecamatan Karanggeneng yang keberatan menyebutkan namanya.Â
Ia mengaku, dulu diapun melakukan serangan fajar agar warga tidak berpaling pada calon lainnya.  “Nilai yang kita berikan harus diatas yang diberikan rival kita sehingga warga yang kita kasih uang mau memilih kita,†ungkap dia.
Karena ada serangan fajar ini, mantan kades yang kembali mencalonkan diri untuk kedua kalinya tersebut mengaku dipencalonan pertama pilkades menghabiskan biaya hingga Rp250 juta.
Kades Besur, Kecamatan Sekaran, Edi mengakui, adanya fenomena serangan fajar tersebut. Apalagi bila dalam pilkades calon lebih dari satu.
“Yang penting masyarakat dalam menentukan pilihan. Memilih yang memberi uang banyak atau memilih calon yang dipandang mampu memimpin desa,†ujar Edy yang juga calon incumbent Desa Besur ini.
Pilkades di Desa Besur sendiri ada 3 calon. Meski begitu, Edy mengaku akan menggunakan cara yang jujur selama berkompetisi dalam pilkades.
“Haram bagi saya bermain money politik,” tegas Edy.
Senada dikatakan Kades Gembong Bahrul Ulum. Calon incumbent ini mengaku maju lagi atas permintaan warga. Walau ada satu rival, Ulum bertekad akan bermain cantik selama Pilkades.
“Saya tidak punya uang untuk hal-hal itu (money politik),†sambung Ulum.
Kabag Pemerintahan Lamongan, Moch Nalikan saat dikonfirmasi tentang fenomena serangan fajar saat Pilkades mengatakan, money politik merupakan larangan selama proses Pilkades.
“Kalau tertangkap tangan bisa dilaporkan polisi karena tindak pidana. Sangsinya menunggu putusan pengadilan,†kata Nalikan melalui short massage service (sms). (tok)