Proyek EPC 5 Dinilai Paling Lelet

SuaraBanyuurip.com – Ririn W

Bojonegoro – Dari lima paket proyek engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip, Blok Cepu yang dilaksanakan saat ini, pelaksanaan proyek EPC -5 dinilai paling lambat. Proyek yang dilaksanakan PT. Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK) itu kekurangan tenaga ahli.

“Yang paling lambat adalah EPC 5 yang mengerjakan infrastruktur. Sesuai target proyek itu selesai pada Maret 2014. Tapi kemajuannya masih sekitar 29 persen,” kata Vice President ExxonMobil, Erwin Maryoto.

Dia menjelaskan, kendala yang dialami oleh kontraktor EPC 5 hingga mengalami hambatan tersebut terjadi pada sebagian besar proyek-proyek di Indonesia. Karena dengan banyak beralngsungnya proyek migas di Indonesia menjadikan kebutuhan tenaga tekhnis itu menjadi sangat terbatas.

“Ini dialami oleh para kontraktor MCL untuk  mendapatkan tenaga tekhnis yang bisa mengerjakan pekerjaan yang sesuai harapannya,” ungkap pria asli Solo ini.

Karena itu pihaknya terus mendorong supaya kontraktor, khususnya EPC-D lebih keras lagi mencari tenaga ahli yang bisa dipekerjakan di proyek ini.

“Harapanya rencana-rencana yang dibuat untuk recovery itu bisa dilaksanakan dengan baik sehingga target bisa tercapai,” tegas Erwin.

Baca Juga :   Bensin di SPBU Jalur Pantura Habis

Dia menerangkan, sesuai skenario, proyek pembangunan fasilitas produksi puncak minyak Banyuurip ini dibagi menjadi lima paket. Yakni fasilitas produksi utama (Central Processing Facility/CPF), pipa darat (offshore) 20 inci sepanjang 23 km, menara tambat (mooring tower) dan floating storage of loading (FSO).

Erwin mengungkapkan, untuk EPC 1 yang mengerjakan fasilitas produksi dan ditargetkan selesai pada Agustus 2014, saat ini kemajuan proyek mencapai sekira 54 persen. EPC 2 yang mengerjakan pipa darat dan ditarfetkan selesai pada Agustus 2013,  kemajuannya saat ini sudah 58 persen.

Sedangkan untuk EPC 3, lanjut dia, yang mengerjakan pipa laut dan menara tambat dan ditargetkan selesai pada Pebruari 2014 saat ini pekerjaannya mencapai sekira 33 persen, EPC 4 yang mengerjakan FSO dan ditargetkan selesai pada Januari 2014, saat ini kemajuan proyek mencapai 60 persen.

“Total perkembangan pelaksanaan kelima paket proyek itu telah mencapai 50 persen,” tandas Erwin.

Menanggapi hal itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini, mengungkapkan, dari pengalaman sebelumnya ada beberapa ijin yang memang agak lama dan sebagainya. 

Baca Juga :   Peningkatan Produksi Blok Cepu Butuh Kajian

“Khususnya ijin ditingkat daerah yang membuat proyek ini sempat terlambat pelaksanaannya,” sambung Rudi. (Rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *