Warung Disekitar Proyek Banyuurip Menjamur

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Proyek minyak Banyuurip telah memunculkan keinginan warga untuk berwirausaha. Mereka ramai-ramai membuka warung kecil-kecilan disekitar proyek untuk melayani para pekerja. Usaha itu sebagai upaya warga mempertahankan hidup untuk menggantikan lahan mereka yang telah terampas kepentingan proyek Negara.

Dari pantauan, seiring meningkatnya aktifitas proyek Banyuurip, banyak dijumpi warung berdinding kepang (anyaman bambu) berdiri berderet disekitar lokasi proyek. Itu terlihat dibeberapa pusat lokasi proyek. Mereka berlomba-lomba menjala rupiah dari peluh para pekerja pemboran.

Salah satunya disekitar lokasi proyek Kampung Tunnel yang masuk wilayah proyek Engineering Procuremen and Construktion (EPC)-1 Banyuurip di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dilokasi ini sedikitnya terdapat tujuh warung sederhana.  Mereka menjajakan makanan dan meniuman alakadarnya.

Sarni, salah satu pemilik warung, mengungkapkan, sengaja membuka warung untuk mencari tambahan pendapatan. Dia menjual makanan dan minuman seadanya untuk melayani para pekerja di proyek Kampung Tunel.

Dari menjual dagangannnya itu, dalam sehari Sarni mengaku, dapat mengantongi uang sekira Rp. 600 ribu jika kondisi warung ramai pembeli. Namun bila sepi masih memperoleh sekira Rp350 ribu. Pendapatan itu dia peroleh mulai membuka warung pukul 07.00 WIB hingga 01.00 WIB.

Baca Juga :   Pertamina EP Tak Hiraukan Badan Perijinan

“Alhamdulillah dapat rejeki lumayan pak, cukup untuk kebutuhan keluarga,” ujar Sarni.

Sebelum membuka warung, warga Dukuh Puduk, Desa Bonorejo, itu mengeluti pekerjaan sebagai penjual sayur keliling. Namun seiring berjalannya waktu, dan menurunya fisik karena bertambahnya usia, Sarni memutuskan untuk membuka warung.

Dari hasilnya membuka warung itu, Sarni mampu menyekolahkan ketiga putrinya. Anaknya yang pertama telah lulus SMA dan sekarang di Medan. Sedangkan anak keduanya masih kelas III SMP dan putrinya yang terakhir masih duduk di kelas satu SMP.  

“Saya bersyukur sekali sebagai penjual kopi bisa membiayai sekolah anak-anak,” tutur perempuan paruh baya itu sambil melayani pekerja proyek yang sedang pesan makanan dan kopi.

Untuk menjalankan warungnya ini, Sarni setiap harinya dibantu suaminya, Tarno. Suamianya yang saban hari pulang pergi mengambil dagangannya yang diolah dari rumah.

“Saya tetap mendukung saja. Karena selain sudah biasa berjualan, sejak dulu juga tidak punya garapan pertanian,” sambung Tono. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Penjualan Solar Terus Melonjak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *