SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Jajaran PNS di lingkungan Pemkab Lamongan, Jawa Timur merasa resah dengan bakal dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Mereka gelisah jika harga BBM naik bakal memperpuruk perekonomian keluarganya.
“Tidak hanya orang miskin, dampak kenaikan BBM juga dirasa sangat memberatkan PNS, “ ujar seorang PNS di Kantor Camat Pucuk yang keberatan menyebutkan namanya, Senin (17/6/2013).
Kenaikan BBM selalu didahului dengan naiknya harga sembako, dan kebutuhan lainnya. Padahal sebagai PNS mereka hanya mengandalkan penghasilan tetap dari gaji bulanan.
“Gaji saya sekitar Rp2 jutaan, jika harga-harga naik tentu harus lebih mengencangkan ikat pinggang agar gaji cukup sebulan, “ ujarnya lagi. Apalagi dia harus membiayai anak kuliah di salah satu PTS di Surabaya.
Beberapa nara sumber lain di Sekretariat Pemkab Lamongan maupun dari kantor camat lain mengaku cemas dengan akan dinaiknnya harga BBM.  “Sekarang belum naik saja, semua harga-harga sudah naik, Mas. Apalagi jika betul-betul naik, pasti harga di pasaran lebih melonjak lagi, “ ujar seorang staf di Dinas Pertanian Lamongan, secara terpisah.
Yang lebih menderita dengan kenaikan harga BBM adalah PNS yang tempat bekerjanya jauh dari rumah. Banyak PNS yang setiap harinya harus mbajak (berangkat dan pulang kerja setiap hari) hingga jaraknya dari rumah puluhan kilometer.
Seperti para staf di Kantor Camat Babat, Kedungpring, Modo, dan Kantor Camat Sukorame banyak yang rumahnya di Lamongan kota. Jarak tempuh perjalanan 20-30 kilometer sekali jalan. Â Karena tidak memungkinkan harus tinggal di tempat kerja, para PNS tersebut setiap hari harus pulang pergi.
Jika setiap hari mereka harus mengeluarkan biaya Rp10 ribu untuk membeli bensin, dengan kenaikan BBM mereka harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk bekerja.
“Kenaikan BBM bikin pusing pokoknya, Mas, “ ujarnya.
Walau gaji PNS telah dinaikkan hingga 7 persen per Januari 2013, dan baru saja dirapel minggu ini, namun kenaikan tersebut dianggap tidak banyak membantu. Itu jika dibandingkan dengan kenaikan harga barang-barang di pasaran yang mencapai 20-30 persen. (tok)