PERGESERAN musim mulai dirasakan warga sekitar wilayah ladang minyak dan gas bumi (Migas) Banyuurip, Blok Cepu. Penghujan sudah mulai purna beralih ke musim kemarau.
Terik yang dijilatkan matahari pun kian menampar-nampar kaki langit area Engineering Procurement and Construction (EPC)-1, sumur minyak Banyuurip. Tanah tempat berpijak pun kian panas, hingga para petani pun menunggu sore datang untuk meneruskan aktivitas.
Pula dengan Mbah Kaseni. Warga Dukuh Kapol, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-Timur ini selepas siang, memilih sore untuk meneruskan kegiatan bertaninya. Dia tampak bergeming menggali tempat penimbunan kotoran hewan yang berada di samping rumahnya.
Kotoran sapi dan kambing, warga menyebut tletong, yang dikumpulkan setiap hari itu sedianya dibawa ke ladang. Untuk persiapan masa pemupukan nanti di saat hujan kembali datang.
Petani tua dengan tubuh kerempeng tak berbalut selembar baju itu tampak cekatan. Lengannya yang keriput terampil menggali mengayunkan cangkul untuk mengangkat timbunan pupuk kandang. Â
Sesekali terlihat celana kusam warna putih yang sudah lapuk di kakinya, terkena cipratan tanah yang akan difungsikan untuk pupuk. Sekalipun masa pemupukan menunggu musim sarat air langit kembali datang. Â Â
“Kotoran sapi ini mau saya bawa ke ladang untuk persiapan menjelang musim hujan nanti,†kata Mbah Kaseni saat ditemui SuaraBanyuurip.com di sela-sela mengangkat pupuk kandang.
Bagi Kaseni, maupun warga Katur lainnya, pupuk kandang menjadi bagian terpenting dalam pranata bercocok tanam yang sudah turun temurun mereka lakoni. Beban biaya produksi mengolah ladang dengan irigasi tadah hujan bakal ringan. Â Meski mereka masih menggunakan pupuk kimiawi, namun pupuk kandang bisa mengurangi beban biaya mereka.Â
Sambil mengisi karung warna putih dengan pupuk kandang, pria bergigi ompong ini menceritakan, kotoran hewan yang diambilnya itu hasil penimbunan yang dilakukan setiap hari semenjak musim hujan masih berlangsung. Kemudian, setelah mulai kering terkena sinar matahari mulai diambil untuk dibawa ke ladang, dan sawah sebagai lahan pertanian yang sejak awal ditekuninya.
“Dua minggu ini cuaca panasnya bukan main, Pak. Jadi kotoran sapi cepat kering. Sehingga, mudah untuk dimanfaatkan sebagai pupuk,†kata Mbah Kaseni seraya mengangkat karung yang telah terisi ke atas sepeda onthel bututnya.
Warga Rukun Tetangga (RT) 25 ini mengaku, langkah memanfaatkan pupuk kandang karena keberatan untuk mencukupi kebutuhan pupuk pabrikan setiap musim tanam. Apalagi saban tahun pada musim tanam padi pupuk buatan pabrik sulit dicari, harganya pun mahal.
“Per karung isi 50 kilo pupuk urea terkadang harganya melonjak sampai Rp90 ribu lebih. Sedangkan, untuk pupuk hitam (pupuk TSP-Red) harganya kadang-kadang mencapai Rp100 ribu lebih,†kata Mbah Kaseni.
Fenomena harga pupuk yang demikian tinggi, menjadikan petani setempat mulai belajar pada pengalaman sebelumnya. Kemudian mereka memanfaatkan kotoran sapi untuk mengurangi jatah kebutuhan pupuk.
Untungnya para petani di sekitar ladang minyak Banyuurip tersebut sudah terbiasa dengan panasnya kemarau. Mereka yang sebagian besar menggantungkan hidup dari bertani, tak begitu kaget dengan perubahan musim.
Terhitung sejak tiga tahun terakhir, tingkat kebutuhan pupuk kimia di kampung Migas Blok Cepu ini telah berkurang. Tak sekadang karena kelangkaan pupuk, namun lebih dari itu akibat tipiskan kantong sehingga tak hanya pupuk yang harus mereka beli.
“Meskipun saya menggunakan pupuk kandang, alhamdulillah hasil panennya juga lumayan memuaskan tidak kalah dengan yang memakai pupuk kimia,†ujar Mbah Kaseni.
Sedangkan Solikin, petani lain dari Desa Gayam menyatakan, penderitaan petani sekitar sumur minyak Banyuurip akibat kesulitan pupuk sudah berlangsung tahunan. Mereka tak tahu kenapa tata niaga pupuk tak menguntungkan kaumnya. Â
“Saya tidak menyalahkan siapapun yang terpenting pihak terkait segera mengambil tindakan agar pupuk tak sulit didapat,†kata Solikin, saat ditemui di ladangnya secara terpisah.
Di samping berharap kebutuhan pupuk terpenuhi disaat musim pemupukan tiba, obat-obatan pertanian pun diinginkan tak melambung harganya. Paling tidak mereka meminta pemerintah mengatur harga obat-obatan tak melambung.
“Cukupilah kebutuhan pupuk untuk kami, dan harga obat-obatan pertanian juga jangan dibiarkan naik,†demikian kata Solikin. (samian sasongko)Â