SuaraBanyuurip.com -Â
Objek wisata “Bukit Cinta†Atas Angin memiliki ketinggian 853 meter dari permukaan air laut. Di tempat ini pengunjung bisa menikmati sunrise dan sunset.
Desa Deling, Kecamatan Sekar, berada di ujung selatan Bojonegoro, Jawa Timur, tepatnya berada di lereng Gunung Pandan. Untuk menjangkau desa ini harus melewati pegunungan dan kawasan hutan dengan medan menantang, karena banyak tikungan terjal. Jarak dengan pusat Kota Bojonegoro sekira hampir 60 Kilo Meter (KM).
Dengan kondisi itu, tak mengherankan jika Desa Deling jarang menjadi tujuan, bahkan pilihan bagi pejabat maupun pegawai negeri sipil (PNS) sebagai tempat tugasnya. Karena selain lokasinya yang jauh dari Kota Bojonegoro dan minim sarana maupun prasarana, untuk menjangkau desa ini harus melewati medan terjal yang menantang. Â
Namun, di balik keterbatasan itu, Desa Deling menyimpan potensi wisata yang menakjubkan. Pemandangan alam yang eksotik, sendang yang tak pernah kering, perbukitan yang melegenda. Potensi itulah yang sekarang ini sedang digarap maksimal oleh pemerintah desa bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Beragam fasilitas pun mulai dilengkapi untuk mendukung potensi tersebut. Mulai akses jalan yang menjadi bagian penting agar mudah dijangkau, promosi di media maupun sosial media dengan meng- upload pemandangan di atas angin menjadikan wisata alam baru ini mulai dikenal masyarakat luas.Â
Desa Deling pun menjelma menjadi obyek wisata andalan Bojonegoro. Negeri atas angin yang dulunya tak banyak dikenal masyarakat luas berubah seperti magnet. Menyedot perhatian wisatawan lokal dari dalam dan luar Bojonegoro. Mereka ingin menyaksikan keindahan alam atas angin.
Di bukti cinta dengan ketinggian 853 meter dari permukaan air laut, wisatawan dapat menikmati sunset dan sunrise. Ketika pagi, pengunjung dapat menikmati indahnya cahaya sinar matahari di ufuk timur. Semarak langit timur dengan sinar terang berpendar merekah dari balik deretan pegunungan Kendeng Tengah, lembah Gibal dan Gunung Lawang. Suara kicau burung bersahut-sahutan di dahan pohon jati serasa menjadi pelengkap mengantarkan bola putih keemasan bergerak naik ke atas dari balik bumi. Â
Begitu pun ketika senja menyapa warna jingga di angkasa. Wisatawan bisa melihat siluet-siluet cahaya menyembur warna-warni hingga mengantarkan matahari keperedauannya.
“Begitu mengesankan saat melihat matahari terbit dan terbenam dari atas bukit,†kata Nova Wijaya, salah satu pengunjung Bukit Cinta menceritakan kepada suarabanyuurip.com pekan keempat Januari lalu.
Bukit yang merupakan puncak tertinggi di Kabupaten Bojonegoro, itu dapat dijangkau dari Kota Bojonegoro melalui Kecamatan Dander kemudian ke arah barat menuju ke Kecamatan Bubulan selanjutnya menuju Pal Daplang dan terakhir mengambil arah ke kiri ke Atas Angin.
Sedangkan jika ditempuh dari arah selatan dari jalan raya yang menghubungkan Kota Madiun dengan Kota Surabaya, tepatnya dari pertigaan Lemah Abang, Kecamatan Saradan, bukit Atas Angin berjarak kurang lebih sekitar 20 Km dari Lemah Abang.
Mendaki perbukitan dan melalui hutan serta sungai kecil, menjadi petualangan tersendiri yang sangat mengasyikkan. Semua perjuangan akan terbayar saat sampai di atas bukit. Di tempat ini, dapat dilihat betapa indahnya pemandangan yang disajikan Sang Pemilik Alam.
“Sudah beberapa kali ke sana, tapi rasanya ingin sering-sering ke sana. Pemandangannya menakjubkan sekali,†sergah lajang asal Kedungadem yang aktif di berbagai komunitas seperti Blogger dan Relawan Teknologi dan Informatika Kabupaten (RTIK) itu.
Selain menikmati keindahan alam dari Bukit Cinta, di obyek Wisata Atas Angin ini, wisatawan juga dapat menikmati air terjun Jono Puro yang tak pernah mengenal kering, dan playing fox. Untuk menikmati tempat eksotik itu pengunjung dikenakan karcis cukup murah. Karcis masuk di Bukit cinta, misalnya, pengunjung hanya dikenakan tariff karcis masuk Rp 3 ribu, untuk renang di Dusun Jonopuro atau arah ke barat lokasi hanya Rp 5 ribu, dan disiapkan Playing Foox untuk sekali terbang Rp40 ribu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Amir Sahid, menjelaskan, Wisata Atas Angin ini mulai menyedot pengunjung pasca di-launching Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Setiap hari libur jumlah pengunjung mencapai 500 sampai 700 orang. Sebagian besar mereka adalah muda-mudi.
“Setiap liburan di sana kita beri hiburan,†sergah Amir dikonfirmasi terpisah.
Sekarang ini sejumlah fasilitas seperti MCK dan tempat ibadah di Atas Angin terus dilengkapi untuk memanjakan para wisatawan. Selain itu juga pembangunan jalan menuju lokasi wisata.
“Dengan penambahan fasilitas itu diharapkan akan menambah jumlah pengunjung dan kenyamanan dalam menikmati wisata alam Negeri Atas Angin,” imbuhnya.
Dikelola Desa
Obyek wisata alam “Atas Angin” sekarang ini dikelola secara mandiri oleh enam desa di Kecamatan Sekar melalui kelompok usaha bersama (KUB). Yakni Desa Deling, Bareng, Bobol, Klino, Miyono dan Sekar. Enam desa itu telah membentuk kepengurusan yang mengelola wisata tersebut.  Â
“Pemkab ikut meluncurkan dibukanya objek wisata dan sekaligus mendorong terbentuknya lembaga yang mengelolanya,†kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Agropolitan Disbudpar Bojonegoro Dyah Enggar Rini Mukti.
Dengan dikelola desa masyarakat bisa ikut berpartisipasi di berbagai bidang, mulai kuliner, menyewakan kendaraan jeep, juga membuka usaha lainnya.
Ketua KUB, Didik Prioman yang juga Kepala Desa Deling menjelaskan, pengembangan objek wisata “Atas Angin” ini diprakarsai oleh enam kepala desa yakni kepala desa (Kades) Bareng Suprapto; Kades Bobol Hermanto; Kades Klino Maryono; Kades Miyono Parid; dan Kades Sekar Suyono. Selain itu juga dua tokoh masyarakat Sekar yaitu Kepala UPT Puskesmas Sekar, dr Andik dan Kepala BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo yang merupakan asli warga Desa Sekar.
“Pengunjung semakin meningkat, bisa ratusan pengunjung dari Bojonegoro, juga Ngawi, Nganjuk dan Madiun,” jelas dia.
Di obyek wisata ini, pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan dari atas bukit “Cinta”. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat sumber air di atas batu yang panjangnya ratusan meter di Desa Deling. Untuk mencapai lokasi setempat dari bukit “cinta”, pengunjung harus naik kendaraan jeep dengan rute yang “ekstrem”, seperti perjalanan di Gunung Merapi.
“Lama perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi bukit ccinta ini,” ucap Didik.
Sekarang ini, enam desa tengah membangun kolam renang di lokasi dekat sumber mata air dengan biaya Rp75 juta. Sedangkan di lokasi olahraga paralayang sekarang ini pengunjung bisa melihat pemandangan indah ke segala penjuru 180 derajat.
“Kami ingin tempat ini menjadi salah satu ikon wisata Bojonegoro,†tandasnya.
Kepala Badan Pengembangan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bojonegoro Moch. Subeckhi, berharap kepada pemkab untuk membangun jalan menuju lokasi kawasan objek wisata “Atas Angin”. Lokasi “Atas Angin”, bisa bisa ditempuh dari Kecamatan Dander, Bubulan, atau lewat Kecamatan Temayang. Bahkan dari arah Ngawi, yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer.  Â
“Jalan mendekati lokasi wisata masih sempit dan butuh dilebarkan,†sarannya.(dwi suko nugroho)