SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Fajar Yudi, menyatakan, lifting Migas Kabupaten Bojonegoro sampai dengan Triwulan III tahun 2013 mengalami perubahan. Meski begitu ada tiga poin penting yang menjadi catatan untuk diketahui masyarakat.
Poin pertama, terdapat penyesuaian prognosa Migas berdasar APBN-P 2013. Yakni, adanya pengurangan prognosa minyak bumi 2013 sebesar 1,066 juta barel. Prognosa APBN 2013 sebesar 22,931 juta barel menjadi 21,865 juta barel pada APBN-P 2013.
“Sedangkan prognosa gas mengalami penambahan 589,8 ribu MMBTU. Â Prognosa APBN 2013 sebesar 4,023 juta MMBTU menjadi 4,613 juta MMBTU pada APBN-P 2013,” jelas pria berkacamata minus ini.
Poin kedua, secara umum hasil lifting diantaranya minyak bumi mencapai 5,58 juta barel atau atau 60,65 Ribu BOPD. Dengan demikian terealisasi sedikit di bawah target, yaitu hanya mencapai 16,17 juta barel atau capaian 73,99 persen dari prognosa APBN-P 2013 sebesar 21,86 juta barel.
“Sementara untuk lifting gas bumi mencapai 1,21 Juta MMBTU. Dengan demikian, terealisasi on target, yaitu mencapai 3,63 Juta MMBTU atau capaian 78,76 persen dari prognosa APBN-P 2013 sebesar 4,61 Juta MMBTU,” paparnya.
Sedangkan poni ke tiga, tambah dia, dari hasil lifting adalah rata-rata harga minyak mentah pada Triwulan III 2013 mencapai 99,67 US$ per Barel dari rata-rata seluruh jenis minyak mentah yang dihasilkan PT Pertamina EP, JOB P-PEJ, maupun Mobil Cepu Ltd (MCL). Sedangkan rata-rata kumulatif sampai dengan triwulan III 2013 masih cukup baik, yaitu mencapai 101,05 US$ per Barel.
“Dengan demikian total tingkat produksi akumulatif sampai dengan Triwulan III 2013Â mencapai rata-rata 59,047 BOPD,” tandasnya.
Fajar mengatakan, rincian per KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama) untuk JOB P-PPEJ dari unitisasi Sukowati mengalami penurunan produksi. Itu terjadi karena kenaikan kadar air pada sumur existing Sukowati akibat channeling, produksi dari pemboran sumur Mudi-22ST, dan Mudi-25 lebih kecil dari target. Pula adanya reparasi atau reperforasi pada SKW-01 dan SKW-03.
Selain itu, produksi minyak bumi Lapangan Tiung Biru pada Triwulan III 2013 telah berproduksi antara rata-rata 390 BOPD tanpa memberikan data rinci. Produksi tersebut masih tertampung di Mudi belum masuk lifting.Â
Mengingat produksi minyak bumi Lapangan Tiung Biru belum masuk prognosa nasional 2013, maka dalam konteks dimaksud Pemkab Bojonegoro menekankan, agar seluruh kalkulasi produksi Lapangan Tiung Biru sampai akhir Triwulan IV 2013 nanti tetap harus masuk dalam realisasi lifting.
“Karena dalam prediksi kami dari Lapangan Tiung Biru nantinya mencapai lebih dari 150 ribu barel dengan hitungan 350-500 BOPD selama 365 hari,” tukasnya.
Dalam setiap rapat koordinasi lifting triwulanan, Pertamina harus melaporkan produksi BOPD Lapangan Tiung Biru. Melalui cara itu Pemkab Bojonegoro dapat terus memantau perkembangan produksinya. (rien)