SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, menilai operator Lapangan Banyuurip Blok Cepu,Mobil Cepu Limited (MCL) tertutup dan kurang berkomunikasi. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab dalam menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga proyek Banyuurip mengalami keterlambatan.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Bojonegoro, Soehadi Moelyono, mengaku, dari awal pihaknya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Seperti pada pertemuan-pertemuan yang dilakukan setiap dua minggu sekali pada rapat Tim Optimalisasi Kandungan Lokal di Bojonegoro dan satu bulan sekali di Surabaya.
“Padahal pertamuan itu untuk menunjukkan supaya tidak ada miss komunikasi,” tegasnya.
Karena hal itu, Soehadi  menyarankan, untuk lebih baiknya dilakukan komunikasi secara terbuka agar tidak menjadi fitnah. Salah satu contoh temuan dari MCL bahwa Perda No 23 tahun 2011 yang dinilai menghambat proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu.
“Terkait dengan ini saya ingin tahu substansi mana yang menghambat. Padahal sudah banyak upaya Pemkab untuk membantu kelancaran proyek agar tercapai 165 ribu barel pada puncak produksi nanti,”imbuhnya.
Soehadi menyatakan, salah satu contoh sikap MCL yang tidak sesuai yakni beberapa kali diminta untuk memperbaki secara tekhnis dalam hal perijinan. Namun tidak pernah digubris dengan tidak melakukan perubahan-perubahan yang diminta oleh Pemkab sebagai salah satu syarat.
“Inilah kadang yang perlu dikomunikasikan dengan baik,” tandas mantan Kepala Badan Perencanan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro itu.
Untuk itu, Soehadi meminta, agar MCL maupun kontraktornya meningkatkan komuniksasi secara intens agar dapat menyelesaikan hambatan yang terjadi pada percepatan proyek Blok Cepu. Apalagi Bupati Suyoto telah melakukan pertemuan dengan 11 Kementrian, Pemprov Jatim, Pemkab Blora, K3S, SKK Migas hingga lahir Deklarasi Bojonegoro yang merupakan salah satu cara mengkomunikasikan permasalahan proyek Blok Cepu.
“Jangan sampai ada miss komunikasi. Karena sangat disayangkan sekali dari awal kita sudah membangun komunikasi dengan baik tapi masih dianggap jelek terus oleh MCL,” gerutu Soehadi.
Terpisah, Public and Government Affairs Manager MCL, Rexy Mawardijaya, belum memberikan tanggapannya mengenai hal ini. Â Hingga berita ini diturunkan suarabanyuurip.com masih berupaya untuk meminta keterangan.(rien)