SuaraBanyuurip.com -Â
Tuban – Proses eksploitasi keberadaan minyak mentah yang berada di Kawengan tak lepas dari peran warga pribumi. Konon, warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dipaksa oleh belanda untuk menyingkir dari tanah leluhur mereka.
Pengusiran warga pribumi dari tanah leluhurnya itu dikarenakan belanda mencium banyaknya sumber minyak mentah yang ada ditempat tersebut. Dengan maksud untuk menjadikan tempat tersebut sebagai penghasil minyak mentah. Sehingga warga pribumi yang tanahnya mempunyai potensi mengahasilkan minyak, serta merta diminta dengan paksa. Selain itu, pembangunan banyak bangsal dan loji menjadikan penduduk pribumi semakin tersingkir.
“Karena ketakutan, orang-orang tua kemudian melarikan diri ke luar Desa Banyuurip,†kata Sudarno (63), pensiunan pekerja minyak yang ada di Desa Banyuurip ketika ditemui dirumahnya.
Mereka melarikan diri kebanyak tempat. Beberapa diantaranya ke sejumlah desa lain yang ada di Kecamatan Senori. Terbanyak, warga pribumi berkumpul dan bersembunyi ke suatu tempat yang sekarang bernama Dusun Ngebrak, yang masuk wilayah Desa Wangklu Kulon, Kecamatan Senori.
Pada masa pelarian inilah, banyak kaum pribumi yang ketakutan. Bahkan ada yang sampai tidak kembali lagi ke desa semula. Sampai sekarang dikabarkan ada orang yang tetap bertahan ditempat pelarian. Seperti hal nya penduduk yang saat ini bermukim di Dusun Ngebrak, Wangklu Kulon.
Selain pengusiran, penderitaan pribumi pada jaman penjajahan belanda selama ratusan tahun ini juga membuat sengsara penduduk setempat. Mereka dipaksa untuk melakukan penggalian sumur dengan tenaga manusia. Setelah sumur tersebut mengeluarkan minyak mentah, semua proses dari penambangan secara tradisional hingga pemisahan minyak mentah mereka lakukan selama siang dan malam.
Sumber daya alam dan tenaga manusia di desa ini dan sekitarnya benar-benar dikuras habis. Bahkan, jika warga warga melawan, penjajah tidak segan-segan untuk menyiksa, hingga membunuh mereka. Kondisi inilah yang menjadikan banyak warga pribumi melarikan diri dan memilih untuk tidak kembali hingga saat ini.
“Sampai sekarang ada yang tidak kembali. Kita juga tidak tahu tanah-tanah mereka sekarang yang mana,†kata Sudarno, yang menjadi pengabdi Migas secara turun temurun dari kakeknya tersebut.
Proses panjang dan melelahkan ini menjadikan Desa Banyuurip ramai dikunjungi orang belanda. Mereka kemudian membangun beberapa perumahan untuk bermukim. Saat itu, desa ini benar-benar disulap menjadi kota kecil dengan ratusan lampu penerang. Kota kecil yang berada diantara hutan belantara.
Pendudukan Jepang pada kisaran tahun 1942 hingga 1945, konon memiliki cerita lain lagi. Meski tidak terlalu melakukan eksploitasi minyak mentah seperti yang dilakukan Belanda, tapi negeri Matahari Terbit tidak lebih ramah dari penjajah sebelumnya.
“Pada saat Jepang, kalau ada orang yang tidak mau bekerja ya disiksa, bisa-bisa dibedil,†kata Sudarno.
Keberuntungan pribumi saat itu adalah mendapatkan pendidikan dari Jepang tentang cara berperang. Pada akhirnya kesalahhan Jepang tersebut menjadi bomerang. Sejak pribumi mulai sadar dan mengetahui cara berperang, justru mereka berbalik melakukan perlawanan kepada Jepang. Bahkan teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 juga cepat tersiar dikalangan pribumi. Melalui radio bekas milik Belanda yang ada dikantor pengelolaan minyak mentah.
“Radio-radio itu masih ada sampai sekarang. Bentuknya besar. Bekas peninggalan belanda,†katanya.
Sementara itu, tetua Desa Banyuurip lainnya, Rusdi (78), menceritakan setelah Jepang hengkang dari desa tersebut, pribumi kemudian melakukan pembakaran-pembakaran bangsal dan loji yang digunakan para pekerja Migas pada tahun 1948 hingga 1950. Pembakaran tersebut, dimungkinkan karena mereka mendengar kabar kalau Belanda akan kembali datang ketempat tersebut.
Kabar tersebut benar. Belanda datang untuk kedua kalinya. Tapi semangat warga pribumi untuk melakukan perlawanan mulai tumbuh. Banyak pribumi yang menolak ikut bekerja dengan Belanda. Mereka lebih suka melakoni pekerjaan lain, seperti hal nya bertani.
Seperti pada tulisan sebelumnya, Belanda pun datang dengan cara yang lebih ramah. Mereka kerap melakukan perundingan dengan pribumi untuk melakukan penggalian sumber minyak mentah yang baru. Selain mengupah pribumi yang mau bekerja kepada mereka, juga memberi ganti rugi apabila sumber minyak mentah tersebut berada di lahan milik pribumi.
Belanda juga kerap memberikan bahan makanan kepada pribumi. Memberikan tempat tinggal berupa bangsal dengan catatan apabila pribumi mau bekerja untuk mereka dalam melakukan pengolahan sumur minyak mentah.
“Kalau mau ikut belanda, makan semua dicukupi,†kata kakek yang berkaca mata ini.
Kebaikan Belanda tidak serta merta bisa diterima pribumi. Mereka ada yang tetap berpendirian tidak akan mengabdi kepada kompeni. Memilih bekerja lain. Meski dengan kondisi yang serba sulit.
Warga pribumi banyak beranggapan, kalau mereka tidak mau lagi bekerja kepada bangsa lain lagi. Mereka hanya mau dipimpin ataupun bekerja kepada bangsanya sendiri. Seperti yang dilakukan Rusdi dan beberapa penduduk lain.
“Kalau saya waktu itu tetap tidak mau bekerja ikut orang lain, kecuali kalau sama-sama Indonesia,†katanya berapi-api.
Sumur Kawengan, merupakan salah satu sumur tertua yang ada di Indonesia. Hanya sedikit tulisan yang mencatat peran lapangan penunjang produksi Cepu ini. Tapi yang jelas, masyarakat yang ada di Desa Banyuurip (Tuban) dan Desa Kawengan (Bojonegoro) ini pernah menjadi sejarah penting dalam proses industri perminyakan nasional.
Ada baiknya, apabila keringat leluhur mereka bisa diberikan kepada anak cucu mereka yang saat ini bermukim di desa-desa tersebut. Karena saat ini, hampir semua pemuda usia produktif desa tersebut memilih untuk merantau dan bekerja di kota-kota besar di Indonesia. Apakah mereka akan terusir kembali dari tanah kelahirannya seperti nenek moyang mereka? (edi purnomo)