Ghiroh Penggurat Kaligrafi Dari Ladang Minyak

muhadi-2

Memanfaatkan waktu luang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Seni kaligrafi dari kulit telur pun mewarnai karya lukisnya.   

Terik mentari di area ladang Migas Blok Cepu, tak membuat, Muhadi (24), surut dalam melakoni profesi lamanya sebagai petani. Alam yang gersang tak menjadikan pemuda asal warga RT 01 RW 01 Desa Beged, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini mengeluh. Dia pun tak bergeming pada pekerjaan warisan leluhurnya.

Memang hanya tersisa beberapa hektar ladang yang bisa ditanami padi. Kemarau panjang benar-benar petaka bagi petani di desa sekitar ladang minyak Banyuurip tersebut. Asupan air hujan yang sempat beberapa kali datang tak menjadikan sawah ladang basah. Justru musim terik seperti ini sebagian besar tanaman terancam mati karena kekurangan air.

Usai bercocok tanam, pria yang juga guru mengaji itu mengambil beberapa kulit telur. Kulit telur  sisa memasak di dapur, dan simpanan lainnya hasil dari meminta teman di warung makan. Diletakkannya kulit-kulit telur ayam tersebut di sebuah wadah plastik.

Baca Juga :   Berdiri di Atas Lahan Perhutani, Rumah Striker Timnas U-16 Asal Bojonegoro Tak Layak Huni

Dengan menggelar kain terpal di lantai yang belum berubin itu, diambilnya beberapa papan triplek berbagai ukuran. Perlahan-lahan tapi pasti, satu per satu remukan kulit telur diletakkan di atas papan triplek yang sudah didesain berbentuk wajah. Nampak beberapa hasil karya indahnya yang sudah jadi berupa kaligrafi.

Menggeluti kerajinan dari kerak telur ini sudah hampir satu tahun dia lakoni. Dengan modal yang pas-pasan, dan ilmu sekedarnya, dia mampu membuat sebuah gambar dengan bahan dasar kulit telur ayam.

“Awalnya coba-coba tapi hasilnya bagus,” tukas pemuda yang juga ketua RT di desanya tersebut.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini menyatakan, dengan menggunakan lem kayu, dia menempelkan serpihan-serpihan kulit telur tersebut sesuai desain yang dibuat. Seperti wajah-wajah tokoh agama, tokoh pemerintahan, pemandangan, maupun kaligrafi berbagai kalimat dari huruf hijaiyah.

“Untuk mengerjakan karya berukuran kecil cukup satu hari, kalau yang besar yang njelimet bisa lima sampai tujuh hari,” tukas Muhadi.

Pria lajang itu menyatakan, harga yang dipatok untuk karya-karyanya mulai dari Rp70.000 sampai Rp300.000. Pemasarannya dari tetangga sekitar, dan melalui jejaring sosial Facebook.

Alhamdulilah dapat pemasukan satu juta tiap bulannya,” tukasnya.

Baca Juga :   Tuban Terlahir Dari Jiwa Kepahlawanan

Kendala yang dialami selama ini, diantaranya, masalah pemasaran. Selama ini hanya mengandalkan dari mulut ke mulut, dan belum merambah ke pangsa konsumen besar. Tidak itu saja modal untuk mengembangkan karya ini juga dinilai kurang.

“Saya ingin membuka galery sendiri,” ucap Muhadi yang memiliki niat mengajari santri-santrinya membuat karya dari kulit telur ini. (ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *