Tak berbeda dengan siang hari yang lain dalam sepekan terakhir. Suasana sekitar sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu mulai redup seiring masuknya musim penghujan. Awam kelabu bergelantungan di langit. Merangkak perlahan dituntun angin, menjadikan matahari timbul tenggelam diantara gugusan awan.
Beberapa hari ini wilayah sumur minyak yang konon memiliki sumber terbesar se-Asia itu diguyur hujan. Sepertinya musim basah telah singgah di sumur Migas yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL) itu. Anak perusahaan dari Exxon Mobil yang berbasis di negeri Uncle Sam. Â
Kendati hujan di siang itu belum turun, namun aroma tanah basah telah tercium di sana. Awan pun seperti membering ruang untuk pekerja proyek minyak, dan warga setempat mendatangi warung tenda sederhana. Tempat berjualan es Legen, nira dari deresan buah Siwalan, yang sudah dua minggu terakhir muncul di sekitar proyek Engineering Procurement and Cuntructions (EPC) 1 Banyuurip. Â Â Â
Mereka disambut ramah empunya warung, Marpiah. Warung Legen, minuman khas dari bumi Ranggalawe, Tuban ini relatif baru di ladang Blok Cepu di kawasan Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Perempuan bertubuh subur ini mencoba mengais rejeki di tengah proyek minyak berlangsung. Marpiah yang kala itu berkaos lorek yang dipadu dengan celana hitam, berdiri melayani pembeli. Di tenda terpal berukuran 5×6 meter di pinggir jalan jalan masuk lokasi We’ll Pad A itu, dia menggantungkan nasib setelah sekian kali gonta ganti jenis dagangan.
Marpiah bukan asli Mojodelik. Dia berasal dari Desa Deru, Kecamatan Sumberjo, Bojonegoro. Dia membuka warung minum dengan pangsa konsumen jelas. Yakni, pekerja proyek Banyuurip, Blok Cepu.
Hawa panas yang bersekutu dnegan hiruk pikuk proyek minyak, tak menyurutkan semangat ibu dua putra ini menyisir rupiah. Dengan cekatan pula dia melayani pelanggan. Sambil membersihkan debu di botol Legen, sesekali menyuguhkan sebotol Legen kepada pembeli.
Disela melayani pembeli, Marpiah mulai membuka kisah hidupnya menjadi penjual Legen kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (08/11/2013). Terpikatnya membuka usaha jualan Legen di desa ring 1 Banyuurip tersebut ibaratnya mengais rejeki. Para pekerja proyek pun terpuaskan dahaganya, setelah menikmati es Legen dari warung Marpiah.
“Saya jualan Legen hanya siang hari. Mulai pagi jam 06.00 WIB, sorenya pulang ke rumah,” ungkap Marpiah.Â
Wanita yang mengaku pernah gagal dalam usaha pertokoan kain itu menjelaskan, mulai membuka jualan Legen di wilayah Desa Mojodelik baru sekira empat belas hari.
“Saya jualan disini sejak hari Jumat (11/10/2013) lalu, Pak,” ungkapnya.
Usaha jualan Legen ini baru dilakukan sejak sekira dua bulanan. Karena, sebelumnya sebagai penjual kain dan baju. Namun, membuka usaha sudah dilakukan sejak usia muda, sehingga tidak heran jika harus menempuh perjalanan 50 Km dari desanya.
Selama 14 hari berjualan legen, banyak mendapatkan berkah. Karena, mampu menghabiskan 50-70 botol Legen yang dia kulak dari Tuban, Jawa-Timur.
“Alhamdulillah dapat penghasilan lumayan jualan di ladang minyak Banyuurip, Blok Cepu. Cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya anak sekolah,” ujarnya.
Untuk sebotol Legen, Marpiah menjual memasang tarif Rp5.000. Jadi, jika seharinya bisa menghabiskan 70 botol maka hasil yang didapat per harinya bisa meraih penghasilan Rp100.000 lebih. Tentunya belum terpotong biaya lain-lain.
“Ya tidak tentu, Pak hasil yang saya dapat. Tinggal melihat kondisi dagangan laku terjual berapa banyak,†kata Marpiah.
Namun, setiap harinya hampir rata-rata 50 botol habis. Sehingga, bisa dipastikan setiap hari hasil yang saya dapat rata-rata Rp50.000 setelah terpotong setoran. Karena, Legen yang dijual adalah kiriman dari saudaranya di Tuban, dan Marpiah tinggal mengambil keuntungan dari menjualnya.
Dia akui, meski gonta-ganti usaha yang pernah dilakukan tak menjadi soal. Karena, pada prinsipnya membuka usaha adalah merupakan salah satu cara untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Meskipun harus jatuh bangun dalam usaha yang dilakoninya sudah ada kurang lebih 20 tahun digelutinya.
“Saya jualan kain dan baju bangkrut dihutang orang, Pak. Tapi saya tetap semangat tidak putus asa,” terangnya.
Dia tambahkan, guna mewujudkan impiannya untuk bangkit lagi memerlukan tenaga, dan pemikiran kreatif membaca peluang yang ada. Oleh sebab itu, ide-ide dalam menciptakan usaha baru terus dilakukannya. Karena, usaha apapun adalah memiliki peranan besar untuk masa depan keluarga. Yang terpenting harus dilaluinya dengan kesabaran tidak putus asa.
“Saya sudah bersyukur meskipun sekarang sebagai penjual Legen dan makanan kecil disini. Yang terpenting halal tidak merugikan orang lain. Sekalipun saya dulu pernah jadi penjual kain dan baju yang punya pelanggan banyak,” tukas wanita berkulit sawo matang tersebut sambil mengusap air mata yang telah jatuh di pipinya. (Samian Sasongko)Â