SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan- Jumlah nelayan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tinggal 30 persen. Dari sekira 2000 nelayan, saat ini tinggal tersisa sebanyak 400.
Menurunnya jumlah nelayan itu diantaranya dikarenakan mahalnya harga bahan bakar (BBM) jenis solar dan sepinya hasil tangkapan. Akibatnya sebagian besar nelayan bating setir memilih beralih profesi. Seperti buruh, tukang becak dan bahkan TKI di Malaysia.
“Masa kejayaan nelayan bisa dibilang sudah redup. Kini hanya sekitar 30 persen nelayan yang bertahan melaut,” kata Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lamongan, Samiaji kepada SuaraBanyuurip.com, Minggu (16/11/2013).
Samiaji mengungkapkan, sejak lima tahun terakhir nelayan merasakan kondisi cuaca begitu ekstrem. Akibat pemanasan bumi badai terus menerus menerjang lautan sehingga nelayan jarang melaut.
“Kalau tetap nekad melaut taruhannya nyawa. Jadi nelayan memilih untuk prei miyang (berhenti melaut),†kata pria yang pernah meraih Tokoh Nelayan Teladan Jawa Timur tahun 2009 ini.
Parahnya lagi akibat alam yang tidak ramah tersebut hasil tangkapan nelayan susut hingga 50 persen.
“Hasil tangkapan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, “ paparnya.
Kehidupan nelayan kian terhimpit tatkala harga solar naik setahun lalu. Nelayan bahkan sering tekor untuk menutupi biaya melaut yang cukup besar. Mereka pun akhirnya memuruskan untuk beralih profesi.
“Banyak nelayan yang alih profesi menjadi buruh, tukang becak dan pekerja kasar lainnya. Sebagian besar memilih menjadi TKI di Malaysia,” tutur Samiaji dengan nada prihatin.
Masa-masa kejayaan nelayan diwilayah Paciran dan Brondong diantara tahun 1985-2002. Semua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) didua kecamatan tersebut selalu ramai oleh para tengkulak ikan.
Pada waktu itulah, menurut Samiaji, jumlah nelayan mencapai ribuan. Sepanjang tepi pesisir Pantai Brondong hingga Paciran Lamongan penuh sesak oleh ratusan perahu kecil dan besar milik nelayan.
Di desa labuhan saja, kata dia, dulu ada sekitar 1500 perahu kecil dan 120 perahu besar. Namun kini jumlah perahu kecil tinggal 400 dan perahu besar 25.
“Penyusutan jumlah nelayan ini terjadi disemua TPI tempat bersandar perahu,” tegas Samiaji.
Dia menambahkan, hasil tangkapan ikan nelayan yang banyak diburu tengkulak yaitu ikan tongkol, tengiri dan udang. Para tengkulak menjualnya ke Jakarta, Surabaya, Semarang hingga Bali.
“Masa-masa kejayaan nelayan itu kini hanya tinggal kenangan,” tandas Samiaji. (tok)