SuaraBanyuurip.com -Â
Bojonegoro dikenal memiliki kandungan migas melimpah. Slogan sebagai lumbung energi negeri pun kian terbukti dengan munculnya gas alam rawa di Desa Nguken.
Suasana Desa Nguken, Kecamatan padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur terlihat biasa. Nuansa khas pedesaan masih begitu melekat. 80 persen warga pribumi di desa ini bekerja sebagai petani. Hari-hari mereka habiskan untuk bergulat dengan lumpur menggarap sawah ladang.
Namun siapa sangka desa Nguken memiliki keistimewaan. Desa yang memiliki luas 179 hektare itu telah dikaruniai berkah sumber energi berupa gas alam yang bermunculan langsung dari dalam perut bumi. Gas liar itu telah dimanfaatkan warga setempat untuk kebutuhan memasak.
Munculnya gas di Desa Nguken, jika dihubungkan dengan keberadaan Lapangan Gas Jambaran di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem – Tiung Biru (TBR) di Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo dan di Desa Sidorejo dan Cendana, Kecamatan Padangan, dimungkinkan sangat berkaitan. Sebab, jarak Nguken dengan Lapangan Gas Jambaran dan TBR tidak begitu jauh. Bahkan dengan Lapangan Candana hanya berjarak kurang lebih 1,5 kilometer. Tiga lapangan gas itu telah diunitisasi dan akan dikembangakan menjadi Gas Cepu.
Adanya potensi gas yang menyembur sendiri itu seolah menyiratkan Kabupaten Bojonegoro merupakan lumbung energi. Dari sekira 2.225 penduduk Nguken, lebih dari puluhan kepala keluarga telah memanfaatkannnya untuk keperluan rumah tangga. Cara mendapatkannya pun tak terlampau sulit.
Cukup menggunakan peralatan sekenanya. Selang dan pipa air yang didesain sedemikian rupa, kemudian disambungkan kesumber gas dengan kompor. Kedalamanya berkisar antara delapan sampai 14 meter kebawah. Gas pun bisa diperoleh langsung secara cuma-cuma.
Sampai saat ini fenomena gas alam Nguken masih tetap menarik. Warga pun sudah terbiasa dengan kedatangan para awak media. Tidak hanya itu, orang asing pun juga telah banyak berkunjung.Â
Gas alam ini ditemukan warga pada kisaran 1980. Namun jika dihubungkan dengan keberadaan tiga lapangan gas disekitarnya, bisa disimpulkan gas tersebut sudah ada  sejak kolonial Belanda bercokol.Â
Salah satu warga setempat, Fahrun termasuk salah satu orang yang tidak ambil pusing dengan penggunaan bahan bakar gas. Sekalipun pada saat harga tabung gas elpiji meroket naik. Sudah tiga tahun terakhir dia memanfaatkan gas alam yang keluar langsung dari perut bumi yang ada di desanya.
Karena sudah terbiasa, Fahrun mengaku sejauh ini tidak mengkhawatirkan akan terjadinya dampak negatif. Seperti halnya mencium bau gas beracun sebagaimana yang terkandung dalam cadangan gas alam.
“Belum pernah ada kejadian yang membahayakan, tetapi kalau musim kemarau mengeluarkan api,†tuturnya sambil menunjuk lubang didapur rumahnya.
Kualitas Gas Diklaim Terbaik di Blok Cepu?
Kepala Desa (Kades) Nguken, Kusnadi, mengungkapkan, warga menyebutnya gas rawa alam karena gas-gas tersebut juga bermunculan di rawa-rawa dilahan milik warga sekitar. Dia pun kemudian menceritakan sejarah singkat mengenai adanya fenomena gas alam itu, diperkirakan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kemudian, terjadi konflik dengan jepang untuk saling berebut.
“Sejak saat itu potensi-potensi gas jadi terbengkalai,†urainya singkat.
Seiring berjalannya waktu, sampai sekarang banyak warga yang memanfaatkan gas tersebut untuk kebutuhan dapur. Kendati begitu, sebagian warga mengaku cemas karena takut terjadi sesuatu.
“Takut kalau ada apa-apa,†sergah Basir, warga setempat ditemui terpisah.
Alasan lain, lanjut dia, sejak dua tiga tahun terakhir tekanan gas lebih tinggi. Setidaknya hal itu dilihat dari desisan suara yang keluar dari mulut sumur. Gas rawa Nguken juga pernah dikunjungi tim Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Propinsi Jawa Timur pada tahun 2011 lalu. Dari kunjungan tersebut, Kades Nguken, Kusnadi mengaku mendapat lampu hijau jika pihak desa memproyeksikannya sebagai lumbung energi dan akan dikembangkan menjadi unit usaha desa.
Kedepan, Gas rawa alam Nguken akan dibikin seperti tandon dan dialirkan kewarga secara massif. Kusnadi meyakini, gas Nguken sejauh ini dinyatakan aman jika dibanding gas tabung.
“Konsepnya seperti sumur air milik PDAM kemudian dialirkan keperumahan warga, ESDM Jatim siap menyediakan anggaran,†akunya.
Kusnadi mengungkapkan, berdasarkan hasil kajian dari tim Pusat Pengembngan Tenaga (PPT) Migas Cepu dan Universitas Gajah Mada (UGM), Gas rawa alam Nguken diklaim memiliki kualitas gas terbaik di seluruh Wilayah Pertambangan (WP) Blok Cepu dibanding Lapangan Kawengan, Nglobo, Ledok, dan Semanggi.
“PPT Migas menyatakan, gas Nguken itu baik dan bersih, tetapi kita juga belum tahu benar tidaknya,†ujar Kusnadi lagi.
Pihaknya tidak menampik jika Gas Nguken juga diperkirakan merupakan resapan-resapan dari Lapangan Cendana, dengan unitisasi Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Kecamatan Ngasem, Purwosari dan Tambakrejo.Â
“berapa jumlah cadangannya saya tidak tahu, namun ada kemungkinan berasal dari resapan Lapangan Cendana,” ucapnya.
Data SuaraBanyuUrip Media, total sumur unitisasi JTB dan terintegrasi Lapangan Cendana ada 14 sumur. Delapan sumur di Lapangan JTB dan enam sumur di Lapangan Cendana. Sedangkan cadangan gas, jumlah kumulatif produksi yang akan dihasilkan kondensat sebesar 18.63 Milion Stock Tank Barrels (MMSTB) dengan laju produksi puncak kondesat 3.082,81 Barrels Oil Per Day (BOPD) pada tahun 2018. Sementara jumlah kumulatif Gas sebesar 1.233,56 Bilion Standard Cubic Feed (BSFC) dengan laju produksi plateau gas sebesar 185.22 Million Standard Cubic Feet Day (MMSCFD) selama 19 tahun. Potensi cadangan ini lah yang tidak lama lagi akan dikelola bersama didalam proyek Gas Cepu, yang melibatkan Pertamina EP Cepu (PEPC) dilapangan JTB, dan Mobil Cepu Ltd (MCL) Lapangan Cendana.Â
Kepala Bidang Pengawasan dan Pemantauan BLH Kabupaten Bojonegoro, Sutanto mengatakan, fenomena gas rawa alam di Nguken tidak berbahaya selama dikelola secara baik. Artinya, selama ada penyaluran dan pembuangan yang tepat gas bisa dimanfaatkan. Namun demikian, bila mana diproyeksikan untuk dijadikan sebuah bidang usaha, maka diperlukan dokumen UKL-UPL.
“Kalau misalnya akan dijadikan usaha seperti dibawah koperasi dan sebagainya harus disertai dokumen Upaya Pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL),†jelasnya.
Sutanto tidak mempersoalkan jika pihak desa berencana menjadikan sebuah unit usaha. Hanya saja, dia menyarankan hendaknya selain menyiapkan kelepngkapan domuken diberikan pelatihan tenaga kerja bagi warga setempat agar lebih memahami dan terlatih. Sedangkan mengenai adanya kemungkinan resapan dari Lapangan Cendana, kata dia, tidak menutup kemungkinan terjadi. Dia menerangkan, sangat mungkin gas alam di Nguken  berasal dari lapisan reservoir yang berada didalam Lapangan Cendana.
“Lapisan reservoir ada yang besar dan kecil, kemudian tekanan gas pada saat terjadinya gesekan ada kalanya tidak seimbang, sehingga menimbulkan resapan-resapan sampai keluar ke permukaan kulit bumi,†paparnya.
Sementara itu, Kasubdin Fasilitasi Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan SKK Migas, Kosario MK menerangkan, fenomena gas alam merupakan kearifan lokal masyarakat yang memanfaatkan kondisi alamnya. Kondisi tak jauh beda juga terjadi diwilayah lain seperti Indramayu, Magelang, dan Cirebon. Menurutnya, gas di Nguken masih relatif aman jika gas yang dimanfaatkan dalam relatif kecil. Sebab, diperkirakan berasal dari cadangan gas yang terjebak dipermukaan. Namun dia belum berani memastikan jika berasal dari lapangan Cendana.
“Tidak bisa dipastikan, karena fenomena cebakan gas ada dimana-mana tapi kalau gas terjebak dipermukaan mungkin banget,†tukasnya.
Diungkapkannya, keterkaitan gas alam Nguken dengan Lapangan Cendana dimungkinkan baru bisa diketahui jika Cendana sudah dilakukan pemboran. Kosario juga belum bisa memastikan berapa lama fenomena gas alam di Nguken bisa bertahan.
“Tapi tidak ada yang memberi garansi, kecuali kalau apinya sudah tidak bisa dinyalakan lagi,†urainya.
Dilirik Investor Â
Bak pepatah ada gula ada semut, fenomena gas rawa alam Nguken pun demikian kiranya. Tidak hanya desa yang ingin mengelolanya menjadi sebuah unit usaha, disinyalir tak sedikit investor telah berdatangan berminat mengelolanya.
Iswahyudi, warga RT/01 RW/01, mengaku, kerap didatangi dari sejumlah orang yang mengatasnamakan dari sebuah perusahaan dan berminat melakukan investasi di Desa Nguken. “Nama perusahaanya apa saya tidak ingat, tetapi banyak yang dari perusahaan ingin mengelola gas disini,†tuturnya. Â
Iswahyudi, pertama kali menemukan gas alam tersebut sejak tahun 1980. Namun menurut dia gas tersebut telah ada sejak masa kolonial Belanda. Di ladang miliknya seluas 9020 meter persegi  pernah muncul sembulan gas dari bawah hingga menyerupai kubangan yang bisa mengeluarkan api. “Sekarang sudah saya tutup dengan tanah.â€
Dirinya juga menyadari gas alam yang berada di Nguken juga bagian dari kekayaan negara. Namun demikian, Iswahyudi tidak ingin masyarakat dirugikan bilamana suatu saat dikelola oleh investor. Persoalan klasik seperti pelibatan tenaga kerja lokal dan pembelian harga lahan diharapakan berpihak kepada masyarakat. Â
“Semua bisa dibicarakan, pada dasarnya kita tidak menolak selama ada kejelasan,†katanya. (Athok moch nur rozaqy)