Penderita HIV/AIDS di Blora Meningkat

SuaraBanyuurip.comAli Musthofa

Blora – Mendeteksi  penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Blora, Jawa Tengah memerlukan waktu dan pendekatan. Dikarenakan tidak semua penderita penyakit yang hingga kini belum diketemukan obatnya tersebut mau mengaku kalau sedang terjangkit.

Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Blora, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora, Henny Indriyanti melalui Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2PLP), Lilik Hernanto, harus diwaspadai.

“Apalagi berdasar data yang ada penyebarannya telah merata hampir di semua kecamatan di Blora,” kata Lilik kepada SuaraBanyuurip.com pada Selasa,(3/12/2013).

Meski ada kecamatan yang  tidak ada warganya yang mengidap HIV/AIDS, Lilik menegaskan, bukan berarti di wilayah itu tidak ada yang terjangkit. Namun untuk kecamatan yang jauh dari kota dan ada warganya yang terjangkitdiperlukan pemantauan yang sinergi agar penyebarannya bisa diminimalkan.

Menurut Lilik, warga desa yang terjangkit HIV/AIDS bisa terjadi karena tertular ketika dia bekerja di kota-kota besar.

“Umumnya warga di pedesaan. Setelah pulang ke Blora, mereka memeriksakan diri ke VCT dan ternyata positif HIV/AIDS,” ujar Lilik.

Baca Juga :   Dump Truk EPC 5 Dihadang Sopir Tuban

Meski disebutkan penyebaran penyakit ini terus meningkat, Lilik menjelaskan bahwa hal itu bukan untuk menakut-nakuti.

“Upaya pencegahan dan antisipasi penyebaran itu yang terpenting. Bisa dengan peningkatan keimanan dan jangan sampai berganti-ganti pasangan dalam berhubungan badan,” pesan Lilik.

Meski belum ditemukan obatnya, penderita disarankan mengikuti terapi pengobatan untuk meningkatkan pertahanan tubuh. Yakni dengan antiretroviral (ART) dan highly active antiretroviral treatment (HAART).

Untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS Dinkes Blora gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat, seperti dalam kegiatan seminar peduli AIDS di aula Rumah Sakit Umum (RSU) Dr R Soeprapto, Cepu, yang digelar pada Senin (2/12/2013) lalu.

Sesuai data di Dinkes Blora, penemuan  kasus HIV/AIDS di Blora diawali pada tahun 2002 yang baru ada  penderitanya berjumlah tiga orang. Yakni penderita  HIV satu orang dan AIDS dua orang.

“Seiring perkembangan waktu, jumlah kasusnya bertambah,” kata Lilik.

Dia merinci, untuk jumlah penderita HIV/AIDS pada tahun 2010 sejumlah 17 kasus dan  menjadi 27 kasus atau penderita di tahun 2011. Jumlah itu diperkirakan bisa jadi lebih banyak lagi sebab yang muncul kepermukaan memang sedikit.

Baca Juga :   Wabup Bojonegoro Beri Kesaksian Dugaan TPPU PI Blok Cepu ke Polda Jatim

“Bisa jadi jumlah penderitanya lebih banyak, mengingat fenomena kasus HIV/AIDS itu ibarat gunung es,” terangnya.(ali)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *