SuaraBanyuurip.com -Â
Setiap tahun Sungai Bengawan Solo meluap. Turun temurun warga di sepanjang aliran Bengawan Solo dihantam banjir. Mereka pun mandiri dalam mengatasi bencana tahunan itu.
BAGI warga Bojonegoro, Jawa Timur, yang jauh dari lokasi Bengawan Solo, banjir masih menjadi momok menakutkan. Terlebih, Bojonegoro pernah dilanda banjir hebat pada medio 2007. Banjir yang datang di ujung tahun itu bukan hanya menghantam desa-desa di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Solo. Namun sempat nyaris menenggelamkan wilayah perkotaan.
Aktifitas masyarakat, kala itu, lumpuh total. Jalan-jalan protokol tergenangi air, infrastruktur, sarana publik, dan areal persawahan rusak parah diterjang air bengawan. Ribuan anak tak bisa bersekolah. Hewan ternak dan nyawa manusia pun hilang terseret arus air. Kerugian ditaksir mencapai hingga Rp598.326.509.050.
Bilur hitam musibah yang terjadi pasca pemilu kepala daerah (Pilkada) Bojonegoro yang dimenangi Suyoto – Setyo Hartono (To-To), itu masih terekam jelas di ingatan warga perkotaan. Memori itu kembali mengundang kecemasan warga karena sungai terpanjang di Pulau Jawa itu kembali meluap, Sabtu (14/12/2013).
Tercatat saat ini, sejumlah desa di beberapa kecamatan di Bojonegoro sudah mulai tergenangi. Diantaranya Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Pilang, Kecamatan kalitidu, Sumbangtimun, Kecamatan Trucuk, Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro, Bogo, Kecamatan Kapas dan Desa Piyak, Kecamatan Kanor. Air mulai masuk ke pekarangan dan pemukiman warga. Tinggi air antara 40 centi meter sampai 60 centi meter.
Sedangkan menurut hasil pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, ada sebanyak 109 desa yang ada di 15 kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro menjadi sasaran banjir luapan air Sungai Bengawan Solo. Ratusan desa itu selalu menjadi langganan banjir.
“Rasa cemas ya ada mas. Apalagi banjir tahun akhir 2007 lalu menjelang pergantian tahun seperti ini,” kata Yeni, warga Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota Bojonegoro.
Diakui, banjir Bengawan Solo yang melanda wilayah Bojonegoro setiap tahun ini lebih dikarenakan kiriman dari wilayah hulu yaitu Wonogiri, Solo, Sragen, Ngawi, Ponorogo dan Madiun. Ketingian air di papan duga karang nongko berada di titik 29.34 di atas permukaan laut (dpl) naik 44 cm. Sedangkan di papan duga Bojonegoro, Jawa Timur pada pukul 10 WIB berada di titik 15.11 dpl atau naik 10 centi meter (cm). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menetapkan wilayahnya siaga III.
“Sejak semalam pemerintah, TNI, Polri bersama kekuatan masyarakat mulai menyambut banjir,†kata Bupati Bojonegoro, Suyoto kepada suarabanyuurip.com Minggu (15/12/2013).
Pemkab Bojonegoro juga memberlakukan prosedur kedaruratan untuk wilayah Kota Bojonegoro pada pukul 9.00 Wib. Diantaranya memasang doorlat  dan menginformasikan perkembangan banjir kepada masyarakat. Cara ini dilakukan untuk mengantisipasi dan menekan kerugian agar banjir besar sepanjang sejarah pada 2007 silam tidak terulang lagi.
“Kita tidak bisa melawan musibah ini. Salah satunya jalan adalah menggaulinya dan bersahabat dengan banjir,” tegas Suyoto.
Berbeda dengan masyarakt di wilayah Kota Bojonegoro, bagi sebagian warga di tepian sungai Bengawan Solo, banjir bukan bencana yang musti ditakuti, ditangisi dan diratapi. Karena petaka tahunan itu acapkali mendera mereka. Terlebih saban musim penghujan seperti ini sudah dipastikan mereka tak bisa mengelak dari musibah tersebut.
Justru musibah itu membuat mereka jauh lebih mandiri dalam menangani dan mengatasi permasalahan banjir. Baik tentang cara menyelamatakan barang-barang berharaganya maupun menentukan kapan waktunya untuk mengungsi.
Hal itu dapat dilihat dari bentuk bangunan rumah warga yang ada di sepanjang DAS Solo. Rata-rata rumah di tepian Bengawan Solo terbuat dari papan dan ukurannya jauh lebih tinggi dibanding rumah-rumah yang jauh dari bibir bengawan. Ini dilakukan agar mereka bisa mendirikan entrak ( kayu yang di susun tinggi) di dalam rumah sebagai kesiapan menghadapi banjir. entrak dari papan dan bambu itu ditata dan disusun setinggi dua hingga tiga meter untuk memindahkan barang-barang berharga milik mereka tatkala banjir melanda.
“Cara ini telah turun temurun dilakukan warga disini sebagai pertahanan dalam menghadapi banjir,†kata Sadimo, Warga Desa Ngablak, Kecamatan Dander dikonfirmasi terpisah. Â
“Saya dan warga disini sudah biasa dengan banjir. Tiap tahun pasti rumah kami selalu kebanjiran. Jadi tidak begitu kuatir dan panik bila banjir datang lagi,†lanjutnya.
Tidak hanya itu. Warga di tepian sungai yang membelah pulau jawa itu juga telah menentukan kapan waktunya untuk meninggalkan rumah ketika banjir datang. Biasanya, pilihan mengungsi akan dilakukan pada saat air yang menggenani rumah mereka sudah setinggi 1 meter.
â€Kalau masih dibawahnya, saya dan warga disini masih bertahan dirumah,†sahut warga RT.08 RW.02 ini.
Disisi lain, banjir sungai bengawan solo tidak serta merta hanya dianggap sebagi musibah. Oleh sebagian warga sekitar bengawan, banjir justru merupakan berkah alam. Sebab, setelah sawah direndam air banjir biasanya makin subur. Air bengawan yang meluber ke lahan persawahan membawa mineral, untuk memperbaiki hara tanah yang jenuh karena pemakaian pupuk kimiai.
Begitu pun bagi sebagian penguasaha batu bata. Banjir dianggap sebagi berkah karena dapat mengembalikan bahan baku bata untuk kelangsungan usaha mereka.
“Biasanya kalau habis kebanjiran sawah makin subur, tak perlu pupuk banyak,†sambung Hartono salah satu warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk, dikonfirmasi terpisah.
Terlepas itu semua, bencana banjir tetap harus diwaspadai. Beragam faktor telah tercatat jika banjir tak sekadar meluapnya badan bengawan karena tak mampu menampung beban deposit air. Akan tetapi perut bengawan seperti tak mampu lagi menampung hara dan limbah.
Logika sederhananya, pendangkalan bengawan tak bisa dihindari badan sungai. Tanggul yang dibangun di kanan kiri bengawan juga tak mampu menahan amuk air. Bahkan air bah bisa kian liar kesana kemari.
Salah satu faktornya disebabkan gejala alam yang juga diakibatkan maraknya illegal logging (pembalakan liar) di hutan-hutan sekitar Bengawan Solo. Untuk meminimalisasi dampak banjir ini pemerintah pusat bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan daerah harus bergerak cepat melakukan perbaikan tanggul-tanggul yang jebol. Masyarakat pun harus tanggap dan sigap secara terpadu menanangi masalah banjir secara bersama-sama. (d suko nugroho)