SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan-Anggota Trantip seringkali harus dihadapkan pada pekerjaan beresiko berat. Namun dengan mengedepankan ketulusan dan kesabaran, pekerjaan itu terasa ringan.
Itulah yang dirasakan Kasi Trantip Kebersihan Babat, Teguh Budi Utomo,S.Sos. Dia merasa tak ada beban dalam menjalankan tugasnya.
“Pekerjaan merupakan bagian dari tanggung jawab dan amanah lahir batin. Tidak ada alasan untuk tidak suka, “ kata Teguh kepada SuaraBanyuurip.com kamis (19/12/2013).
Ditempatkan di Kelurahan Babat diakuinya beban pekerjaan yang ditanggung sama beratnya dengan petugas transtip yang ditugaskan di kecamatan atau di kabupaten. Persoalan dikelurahan Babat juga tidak kalah kompleks. Apalagi Kelurahan Babat merupakan jantung kota kecamatan yang juga kota kedua setelah Lamongan.
Pengalaman paling berkesan bagi lelaki kelahiran 6-september 2013 ini adalah saat pembongkaran pasar lama Babat yang akan direvitalisasi menjadi pasar modern tahun 2011. Kala itu ribuan pedagang melakukan demo besar-besaran.
Saat petugas hendak melakukan evakuasi para pedagang melakukan perlawanan. Anggota trantib tak terkecuali Teguh Budi Utomo berada digarda terdepan menekan aksi demo para pedagang. Andai kata terjadi aksi anarkis tak bisa dihindari, Teguh dan anggota trantib lainnya yang pertama menjadi korban.
Teguh mengakui sebelum dan paska pembangunan pasar modern Babat, berbagai bentuk intimidasi menjadi makanan kesehariannya. Namun dirinya memilih berpasrah pada Sang Maha Kuasa.
“Alhamdulillah karena disikapi dengan kepala dingin, tidak sampai terjadi kress fisik. Walau berjalan alot pembangunan pasar modern babat bisa terlaksana,†terang bapak satu anak bernama Achmad Yoso Adinegara buah pernikahannya dengan Is Khairiati ini.
Sebagai petugas penegak Peraturan Daerah (Perda) Teguh pantang bersikap arogan. Dirinya lebih banyak mengedepankan pendekatan persuatif setiap menghadapi masyarakat yang melanggar aturan.
Hal itu diakui Kepala Kelurahan Babat, Nur Wachit. Dia mengungkapkan, Teguh dikenal dengan pribadinya yang sabar.
“ Selama bertugas disini (Kelurahan Babat) Pak Teguh tidak pernah bersikap keras. Beliau selalu sigap menjalankan tugas,†sambung Nur Wachit.
Selain sabar, Teguh juga dikenal ringan kaki. Hal itu dia buktikan saat bencana banjir melanda Kelurahan Babat, setiap hari Teguh selalu berkeliling memantau daerah banjir, walaupun dalam kondisi hujan deras.
“Disaat bencana banjir sekarang, pak teguh bersiaga 24 jam di kelurahan. Dirinya rela meninggalkan keluarga demi tugas, “ kata rekan kerja Teguh, Nastain.
Lelaki berkumis tebal ini mengawali perjalan karier dari nol. Pada tahun 1987 dirinya bertugas di Dinas Kepegawaian Pemkab Lamongan menjadi staf pribadi Bupati Syafiâ€i. Kemudian menjadi staff Bupati Faried selama lima tahun. Perjalanan kariernya berlanjut sebagai staf Dinas Kesehatan, kemudian di Kantor Lingkungan Hidup, staf kecamatan Sukodadi dan kemudian pindah di Kecamatan Babat.
Karena kinerjanya yang bagus, pada tahun 2011 lalu, Teguh diangkat sebagai Kasi Trantip dan Kebersihan Kelurahan Babat.
“ Saya ingin total mengabdi pada pekerjaan. Tidak ingin ngoyo. Saya ingat betul pesan Pak Nuroso (mantan camat Babat) hidup jangan ngoyo-ngoyo karena hidup sudah diatur gusti Allah,†ucap Teguh, mengakhiri ceritanya. (tok/adv)