SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan-Banjir luapan Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mulai surut. Namun demikian warga korban banjir mengeluhkan minimnya bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Karena tidak ada posko kesehatan dan dapur umum yang didirikan untuk penanganan korban banjir.
Di Kecamatan Babat, misalnya. Di wilayah ini terdapat lima wilayah yang dilanda banjir yaitu kelurahan Babat, Banaran dan Desa Truni, Bedahan dan Trepan.
Data dari Posko Bencana Alam Kecamatan Babat, di Desa Truni yang paling parah dilanda banjir mulai Rabu hinggaJumat (18-20/12/2013) lalu sebanyak 250 rumah yang tergenang. Â Di Kelurahan Babat jumlah rumah warga yang tergenang sebanyak 218 rumah dan di Kelurahan Banaran sekira 359 rumah. Sedang di Desa Trepan dan Bedahan kurang dari 10 rumah yang tergenang.
“Laporan yang masuk sejak siang tadi genangan air di rumah warga sudah menyusut, “ kata Kepala Posko Bencana Alam Babat, Khasmin kepada Suarabanyuurip.com,  Minggu (22/12/2013).
Dari pantauan, di Desa Truni ketinggian air yang semula mencapai pinggang orang dewasa kini tinggal selutut. Namun ratusan hektar pertanian masih tergenang banjir. Sejauh pandangan mata hanya lautan air yang terlihat diarea persawahan.
Sejak banjir menerjang desa Truni  Minggu (15/12/2013) sore, warga mengaku hanya mendapatkan bantuan paket sembako berisi mie instan dan makanan dalam kaleng yang diterima, Rabu (18/12/2013).
“Bukan makanan seperti ini yang kami butuhkan, tidak mencukupi dan tidak membuat kenyang,†kata Tumi, warga Desa Truni. Tumi dan warga lainnya mengharapkan bantuan beras yang bisa dimakan sekeluarga.
Sementara itu, BPBD Lamongan  telah mengirimkan dua kali bantuan untuk korban banjir di Kecamatan Babat. Bantuan pertama berupa paket sembako berisi mie instan dan makanan dalam kaleng yang dikirim pada Rabu (18/12/2013). Sedang bantuan kedua Kamis (19/12/2013) berupa 5.106 kilogram beras yang dikemas dalam karung berisi 15 kg beras per karung. Bantuan sudah didistribusikan ke desa yang dilanda banjir.
Namun oleh perangkat desa bantuan tidak langsung dibagikan ke warga karena tidak mencukupi. Pemerintah Desa (Pemdes) harus pontang-panting pergi ke BPBD Lamongan untuk mendapatkan tambahan bantuan beras. Baru Sabtu (21/12/2103) kemarin bantuan dibagikan kewarga setelah kekurangannya dikirimkan BPBD.
“Itupun harus dikemas ulang agar bisa memenuhi jumlah warga,†kata Sekretaris Desa (Sekdes) Truni Sundoko kepada SuaraBanyuurip.com, Minggu (22/12/2013).
Menurut Sundoko, warga Truni masih sangat mengharapkan bantuan lainnya dari BPBD atau pihak luar.
“Meski banjir surut, warga tidak bisa bekerja karena sawah terendam banjir,” tandasnya.
Selama banjir berlangsung seminggu, Â di Desa Truni tidak ada satupun dapur umum atau pos kesehatan yang didirikan. Juga tidak ada petugas dari BPBD atau tim relawan yang terlihat didesa Truni. (tok)