SuaraBanyuurip.com -Â
Pegunungan di Bojonegoro menyimpan panorama alam yang eksotik. Sehingga sangat menarik sekali dijadikan obyek wisata dan pusat agrobis.
 UDARA sejuk serasa meresap di pori-pori kulit. Daun pohon jati yang hijau lebat membuat segar pandangan. Sejauh mata memandang terlihat hamparan bebukitan nan indah di lereng Gunung Pandan.
Sejumlah petani berjalan menyusuri pematang sawah yang bertingkat. Kaki telanjang mereka lincah menyibak embun yang menempel di rerumputan. Senyum dan sapa mereka selalu terpecah jika saling berpasan. ramah.
Begitulah sekilas pemandangan dan kehidupan warga di Desa Klino dan Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dua desa di lereng Gunung Pandan itu mayoritas sebagai petani. Petani tadah hujan yang hanya bisa menggarap lahannya saat musim hujan seperti ini.
Saat ini, lahan mereka maupun lahan perhutani yang digarap rata-rata di tanami padi. Meskipun ada sebagian yang ditanami bawang merah. Dua komiditi itu saat ini menjadi tumpuan harapan mereka untuk bekal hidup ketika musim kemarau tiba.
Sebab jika musim kemarau datang, warga disana tak dapat mengandalkan lahan pertanian maupun tanah perhutani. Tanah mereka sebagian besar dibiarkan bero (tidak ditanami) karena sulitnya pengairan. Kalaupun ada yang ditanami hanyalah tanaman yang memiliki nilai jual rendah seperti ketela dan singkong. Praktis produktifitas mereka menurun drastis.
“Petani di sini hanya tanam padi setahun sekali,†ujar Muryanto, salah satu petani Desa Klino kepada suarabanyuurip.com.
Namun, dibalik keterbatasan itu, sebenanya wilayah Kecamatan Sekar, menyimpan potensi wisata yang prospek untuk dikembangkan. Di Desa Klino dan Deling, Kecmatan Sekar, misalnya. Dua desa itu memiliki banyak potensi wisata yang layak dijadikan tempat rekreasi.
Sebut saja, Sendang Malaikat dan Sendang Prodo di Desa Klino. Dua sendang ini memiliki lahan yang cukup luas dan sumber mata air yang besar dan tak pernah kering. Meskipun musim kemarau panjang.
Ditempat itu, bisa dibangun sarana dan prasarana seperti kolam renang, bumi perkemahan, atau tempat out bon serta fasilitas lain yang membuat pengunjung nyaman dan betah.
“Sampai sekarang ini ke dua sendang itu hanya berfungsi untuk mencukupi kebutuhan air bagi warga sekitar, terutama saat musim kemarau,†sergah Muryanto.
Selain dua Sendang itu, potensi wisata yang menjanjikan adalah di Desa Deling. Di desa ini, memiliki panorama alam yang sangat indah dan menarik. Namun untuk menikmatinya diperlukan sarana berupa kereta gantung yang menghubungkan dua bukit di dua desa tersebut.
“Saya optimis jika di sini dibangun kereta gantung akan lebih menrik ketimbang wisata di Waduk Gajah Mungkur,†timpal Camat Sekar, Ahmad Gunawan.
Untuk mendukung obyek wisata di wilayah bagian paling selatan Kota Bojonegoro ini sangat tepat pula jika dirikan vila sebagai tempat berlibur. Sebab lokasi ini didukung udara pegunungan yang sejuk dan jauh dari keramaian.
Selain Sekar, ada wilayah paling selatan Bojonegoro yang layak dikembangkan sebagai agrowisata pertanian. Yakni Kecamatan Gondang. Wilayah ini merupakan salah satu sentra bawang merah di Bumi Angling Dharma. Selain itu, wilayah ini juga subur dan cocok untuk jenis tanaman apapun, baik pertanian, sayur-sayuran maupun hortikultura.
“Rencananya kami ingin membuat lahan demplot (percontohan) seluas satu hektar di wilayah Gondang. Lahan itu akan ditanami beraneka jenis tanaman, namun terpusat menjadi satu tempat. Mulai dari tanaman pertanian, hortikultura, sayur-sayuran hingga buah-buahan,†sambung Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Gondang, M Sucahyo.
“Target kami kedepan, Gondang bisa menjadi agrowisata pertanian. Sehingga masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro, selain bisa membeli oleh-oleh produksi pertanian dan hortikultura, juga bisa menanam,†papar dia.
“Apalagi dengan wisata alam disini, sangat mendukung sekali itu diwujudkan,†lanjut Sucahyo. Â
Dua potensi itu dapat menjadi wisata yang saling mendukung. Artinya, selain dapat menikmati pemandangan alam yang eksotik, wisatawan juga dapat mendapati agrowisata pertanian dengan hasil tanaman segar.
Butuh Gandeng Investor
Namun untuk merealisasikan impian itu diperlukan biaya yang tak sedikit. Karena diperlukan sejumlah fasilitas yang membutuhkan biaya yang bisa mencapai ratusan milyar bahkan sampai triliunan. Jika hanya menggandalkan duit APBD, maka akan tersedot untuk pembangunan agrowisata. Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah dengan menggandeng investor.
“Ini yang sedang kita tawarkan pada investor. Kita sedang menawarkan beberapa potensi wisata yang ada di Bojonegoro,†sergah Bupati Bojonegoro Suyoto menanggapi wacana pembangunan obyek wisata di Desa Klino dan Deling.
Meski demikian, Pemerintah Kabuaten (Pemkab) Bojonegoro tidak hanya berpangku tangan melihat potensi tersebut. Perencanaan pembangunan pusat agrobisnis mulai dikembangkan di wilayah itu. Salah satunya adalah budidaya buah durian dan rambutan.
Saat ini, sekitar satu hektar lahan telah ditanami durian dan rambutan. Bibit buah-buahan itu ditanaman di lahan milik warga dan dikelola masyarakat. Rencananya, bukan hanya dua jenis buah-buahan yang akan dikembangkan disana. Beberapa jenis buah-buahan seperti apokat, matoa, pete, dan kemiri juga akan dikembangkan.Karenakondisi udara pegunungan (lebih dingin) akan sangat mendukung pertumbuhan buah-buahan tersebut.
â€Saya ingin nantinya wilayah itui menjadi obyek wisata dan pusat agribisnis. Sehingga bisa menjadi jujukan (tujuan) masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro,†harap Kang Yoto.
Bahkan, untuk mendukung rencana tersebut, Pemkab Bojonegoro telah membangun jalan menuju Kecamatan Sekar. Jalan-jalan di kasawan hutan itu sebagian besar sudah mulus. Sehingga dengan begitu akan memudahkan masyarakat dari dalam maupun luar Bojonegoro untuk menjangkaunya.
“Dengan tanaman buah-buahan ini akan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat. Sekaligus juga bisa mengendalikan bencana alam, khususnya di daerah kawasan hutan,†terang Suyoto.
Jika rencana tersebut terealiasi, maka dipastikan akan membuka akses perekonimian bagi warga di selatan kota. Banyak peluang dan kesempatan usaha yang bisa dimanfaatkan masyarakat, seperti jasa. Tentunya juga akan berimbas pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Bojonegoro dari sektor pariwisata, terutama dengan adanya industrialisasi migas. (d suko nugroho)