SuaraBanyuurip.com -Â Samian Sasongko
Bojonegoro – Malam itu, Jumat (21/02/2014), lambaian tangan puluhan warga di Jalan Dewi Sartika Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengiringi keberangkatan logistik bantuan dari warga Bojonegoro untuk korban erupsi Gunung Kelud. Logistik itu diangkut menggunakan satu unit drum truk, dua unit mobil ranger, empat unit  mobil lainnya 2 xenia dan panter. Diantara iring-iringan kendaraan itu turut serta 15 relawan di satu unit elf.
Logistik yang dibawa meliputi 400 paket mie instan dari Tripatra, pelaksana proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip, Blok Cepu. Kemudian 1500 paket alat tulis, sembako dan 300 doz air mineral dari relasi Landrock. Juga 200 paket sembako dari relasi Pemerintah Desa (Pemdes) Mojodelik, Kecamatan Gayam.
Warga yang turut melepas keberangkatan para relawan yang menamakan diri sebagai Navigator Gerakan Kemanusiaan Land Rock Peduli Kelud yang dikoordinir oleh Heru Sugiharto itu berpesan agar jangan keliru mendistribusikan logistik bantuan kepada korban erupsi Kelud.
Karena sesuai informasi yang diperoleh dari posko di Kediri bantuan melimpah ruah. Dengan penuh semangat rombongan relawan melaju berlahan meninggalkan ruas jalan menuju arah Kabupaten Kediri. Ikut serta dalam rombongan lima warga Blok Cepu yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Mojodelik, Sandoyo. Juga, empat anggota Persatuan Wartawan Bojonegoro yang dikoordinir oleh Reinno Pareno.
Sepanjang jalan, rombongan diaplaus warga sejak meninggalkan Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Bojonegoro – Jetak – Dander – Temayang  hingga masuk Desa Pajeng Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Tidak lama kemudian perjalanan masuk di Kabupaten Nganjuk dan sampai di Kabupaten Kediri.
Rombongan berhenti untuk koordinasi persiapan sambil minum kopi di lesehan trotoar jalan yang masuk wilayah Kecamatan Purwosari Kabupaten Kediri, Jawa-Timur.
Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 22.30 WIB. Rombongan melaju kembali dan ditengah jalan bertemu rombongan relawan lainnya yang spanduk didepannya berasal dari Surabaya. Kelik salah satu relawan Land Rock, sambil meneteng tasnya di dalam mobil elf menyampaikan salam sambil tegas mengatakan, “Ayo ke Kelud bantu sesama.”
Di sepanjang jalanan dan genteng rumah warga masih tersisa tumpukan pasir erupsi Gunung Kelud. Hitam kelam dan sesekli beterbangan dicelah terang rembulan dihempas roda-roda kendaran. Relawan pun menggunakan masker yang sebelumnya dipersiapkan. Nampak juga pengungsi meninggalkan lokasi penampungan menuju rumah mereka.
Unit ranger yang dikendarai Sandoyo berhenti di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kecamatan Papar. Rombongan sepakat untuk istirahat sebelum membagikan logistik dipagi sampai sore hari.
Namun belum sempat niat itu terlaksana, salah seorang teman di Desa Judeg, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, yang hanya berjarak 8 Kilo Meter (Km) dari Gunung Kelud, menelepon dan meminta agar rombongan Bojonegoro beristirahat di lokasi yang sudah disediakan. Rombongan pun melaju kembali menyusuri ruas jalan Kecamatan Plemahan – Kota Pare, Kecamatan Kepung dan sampai di lokasi istirahat.
Dua rumah yang halaman disekitarnya dipenuhi batu kerikil akibat erupsi Gunung Kelud itu disediakan sebagai tempat istirahat. Dingin menyergap menembus tulang. Kondisi itu membuat relawan tidak bisa tidur, hanya merebahkan diri. Sebagian malah berkumpul diteras rumah. Suroso dan Ahmad, pemilik dua rumah menyediakan kopi kental.
Keesokan paginya, Sabtu (22/02/2014), melalui Ketua RW setempat, Sutiyono, bersama warga lainnya menerima sebagian bantuan. “Salam kami untuk semua warga Bojonegoro yang telah capek capek datang kesini untuk membantu kami dan kami mohon maaf selama semalam hingga pagi ini tidak bisa maksimal menfasilitasi teman teman dari Bojonegoro untuk tidur. Maklum rumah kami masih kotor dan rusak akibat letusan Kelud,“ kata Sutiyono, ramah.
Rombongan kemudian berpamitan menuju lokasi desa di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri lainnya yang kawasannya juga hancur tertindih batu bercampur pasir. Terhitung 6 kali rombongan berhenti membagikan bantuan langsung ke rumah rumah warga di Kecamatan Ngancar yang menjadi korban.
“Mohon kepada kalian untuk menuju lokasi lahar dingin di Desa Puncu dan Laharpan Kecamatan Puncu, disana lebih membutuhkan bantuan,” kata Umar, Tim SAR dari Jakarta yang bertemu di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngancar.
Diinformasikan dua desa itu lokasinya hanya berjarak 3 KM dari Gunung Kelud. Untuk menjangkaunya harus melintasi lahar dingin yang mengalir deras. Tanpa menolak, rombongan berangkat melewati lahan pertanian dan hutan yang dikelola Perhutani setempat. Semuanya luluh lantak disapun tumpahan batu dan pasir panas.
Di tempat itu banyak rumah warga yang sudah tidak beratap. Rombongan sesekali berhenti untuk membagikan paket logistik. Setiba di bahu sungai yang di dasarnya mengalir deras lahar dingin, rombongan mobil melaju pelan menyebarangi sungai lahar dingin tersebut.
“Mirip banjir bandang, wes terus ae gak popo (sudah terus saja tidak apa-apa),“ teriak Parmani salah satu relawan dari Desa Brabowan Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, bersemangat.
Satu persatu unit mobil pengangkut logistik warga Bojonegoro berhasil menyeberangi sungai lahar dingin. Dipandu oleh warga disana, rombongan dibagi dua kelompok. Sebagian relawan menunggu di seberang lahar dingin Desa Puncu, Kecamatan Puncu. Warga bersuka cita dibalik kesedihan mereka, logistikpun dibagi rata kepada semua warga. Bahkan, Mbah Warti, salah satu warga disana yang rumahnya hancur, tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Air matanya mentes dipipinya yang keriput.
Melihat hal itu, Nukidin, bersama Land Rock lainnya yang menggunakan kaos putih lengan panjang yang dipunggunggya bertuliskan Navigator Peduli Kelud mengibur perempuan tua itu. 1 doz Mie diturunkan dan dimasak untuk santapan makan siang.
“Loh mienya terasa pasir, mosok kecampuran rontokan pasir dari genteng rumah Mbah Warti,“ canda Nukidin sesepuh Land Rock Bojonegoro ini.
Sontak saja para relawan terpingkal pingkal, Nukidin pun merangkul Mbah Warti dan memberikan satu lembar uang kertas bernilai Rp 50 ribu. “Alhamdulillah, mienya tadi mungkin ada pasirnya. Suwun nak saya diberi uang, bisa untuk beli bumbu selama seminggu,” sambung Mbah Warti yang mengaku masih bingung akan perbaikan kerusakan rumahnya.
Setelah selesai makan Mie dan membagiakan logistik di dua desa terparah dan masih teraliri lahar dingin, rombongan meluncur ke Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Sepanjang jalan juga menurunkan logistik yang diamini oleh warga penerima bantuan. Di sebuah jalan tikungan, anak-anak Desa Beji, Kecamatan Kepung, berteriak sambil mengacungkan jempolnya,“Bojonegoro hebat, terima kasih.“
Mereka seolah berharap logistik Bojonegoro datang lagi. Rombongan meluncur kembali ke Bojonegoro melintasi Kabupaten Nganjuk hingga masuk di Jetak Bojonegoro, masuk Pos Land Rock di Jalan Dewi Sartika pada Pukul 19:20 WIB.