SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Hasil produksi gas dalam Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) melalui Central Processing Plan (CPP) Area Gundih oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah  Kabupaten Blora akan dilairkan untuk suplai bahan bakar project Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Tambaklorok, Semarang.
Dengan pemanfaatan Gas Sumber itu, Pemerintah kabupaten (Pemkab) Blora berharap ada perhatian dari PLN untuk turut berperan serta dalam penanggulangan listrik di puluhan dusun di wilayahnya yang belum teraliri listrik.
Bupati Blora, Djoko Nugroho, mengatakan, Kabupaten Blora selama ini dikenal kaya sumber daya energi seperti minyak dan gas (migas). Namun ironisnya masih banyak rumah tangga di Blora yang belum menikmati aliran listrik. Itu terjadi karena belum ada jaringan listrik yang tersambung di pemukiman mereka.
“Oleh karena itu, saya berharap PLN memberikan kontribusi dalam pembangunan jaringan listrik di daerah terpencil di Blora,†kata Kokok sapaan akrab Bupati Blora saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrembang) Blora 2015 di Aula Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora.
Mantan Dandim Rembang itu, mengungkapkan tidak lama lagi gas yang diproduksi Pertamina EP dalam  Program Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) di Desa Sumber,  akan dialirkan ke pembangkit listrik Tambaklorok di Semarang. Dengan penggunaan gas yang diproduksi dari wilayah Blora tersebut, PLN akan bisa melakukan penghematan pembelian bahan bakar pembangkit listrik hingga mencapai triliunan rupiah setiap tahun.
”Dari adanya penghematan itu kami berharap PLN memberikan kontribusi membangun jaringan listrik di dusun-dusun terpencil di Blora,” tegasnya.
Mayoritas dusun-dusun yang belum teraliri listrik tersebut, Â 49 persen adalah kawasan hutan. ”Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan gas untuk pembangkit listrik Tambaklorok tidak akan berkurang banyak jika dipakai untuk membangun jaringan listrik di pelosok kawasan Blora,” ujar Kokok.
Sementara itu, keberadaan dusun yang belum teraliri listri itu seperti disampakan oleh Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora, Setyo Edy, Â memang mayoritas berada di pelosok kawasan hutan jati. ”Ada sekitar 36 dusun yang wilayahnya belum ada jaringan listrik,” ujarnya.
Kemampuan APBD Blora yang minim dibandingkan kebutuhan pengadaan pembangunan jaringan listrik di dusun-dusun tersebut mengakibatkan kesulitan untuk memenuhinya.”Kami juga sedang mengusahakan  bantuan dana ke pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” ungkap Setyo Edy.(ali)