SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Beberapa nelayan yang berada di kawasan desa pesisir, yang ada di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menyebut kalau semua bentuk sosialisasi aktivitas minyak dan gas bumi (migas) sangat jarang melibatkan kalangan bawah.
Selama ini, sebagian nelayan mengatakan kalau sosialisasi hanya melibatkan sebagian pengurus dari organisasi nelayan. Serta lebih banyak melibatkan perangkat desa, kecamatan, ataupun dari Pemkab Tuban.
Untuk itu, mereka tidak tahu ketika ditanya bagaimana kelanjutan pengerjaan penanaman pipa menuju laut lepas milik anak perusahaan Exxon Mobile, Mobile Cepu Limited (MCL). Serta apa saja realisasi Coorporate Social Responsibilty (CSR) yang kabarnya telah banyak dilakukan di wilayah setempat dan sekitarnya.
“Kita tidak akan pernah diajak, soalnya hanya nelayan biasa,†kata salah satu sumber Suarabanyuurip.com yang meminta identitasnya tidak disebut dalam Bahasa Jawa, Selasa (1/4/2014).
“Kalau ada yang tahu siapa saya. Malah nanti kena marah sana-sini, Mas. Dianggapnya kok kebanyakan protes,†tambah nelayan tersebut ketika Suarabanyuurip.com menawar supaya namanya disebut.
Menurut sumber tersebut, seharusnya perusahaan ataupun Pemkab Tuban memastikan kalau sosialisasi benar-benar dilakukan hingga tingkat ke bawah. Karena, selama ini warga yang benar-benar menjadi nelayan yang merasakan dampak langsung keberadaan proyek.
“Kalau para juragan (pemilik perahu), pengepul ikan, pengurus organisasi, perangkat desa, ataupun orang-orang yang di atas sana masa tahu dampak langsung adanya proyek itu. Padahal mereka yang diajak untuk sosialisasi,†kata orang tersebut diamini beberapa nelayan lain.
“Kita juga ingin tahu, sampai kapan penanaman pipa itu dilaksanakan?†lanjut nelayan lain masih menggunakan bahasa jawa.
Sementara itu, Surabanyuurip.com belum mendapatkan jawaban dari Communications Relations (Comrel) PT Rekaya Industri (Rekind), Erik Kristiawan, selaku kontraktor penanaman pipa MCL ketika melakukan konfirmasi untuk mengetahui sudah berapa persen rangkaian pekerjaan yang disebut Engineering Procurement and Constructions (EPC) – 3 Banyuurip.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Camat Palang, Sugeng Winoto, juga pernah mengingatkan kepada perusahaan ataupun kontraktor yang terlibat dalam pekerjaan migas di wilayah Palang supaya melakukan sosialisai hingga tingkat bawah. Hal ini untuk mengantisipasi adanya gesekan ketika pekerjaan tengah berlangsung dan masyarakat melakukan protes.
“Kan kasihan kontraktornya, kalau proyek sudah mulai dilakukan dan mendapatkan protes dari masyarakat,†kata Sugeng, seperti ditulis Suarabanyuurip.com (18/1/2014) lalu. (edp)