Mereka Bertahan di Tengah Gerusan Jaman

Profesi lawas, Pande, ternyata masih bisa ditemui di Lamongan. Mereka tertatih bertahan disaat jaman mulai menggerus.

SUARA bertalu-talu dari hempasan martil di atas lapak besi terdengar, di sudut Desa Moropelang, Kecamatan babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Siang mulai merangkak ketika empat lelaki bermandikan peluh, silih berganti menempa besi membara.

Besi bercampur baja yang baru saja diambil dari pembakaran bersuhu 150 derajat celcius itu, terus ditempa bergantian hingga membentuk sebatang sabit. Selain empat orang yang bertugas menempa besi, dua orang pekerja lainnya sibuk dengan job masing-masing. Satu orang bertugas membakar besi dengan menggunakan mesin blower, dan seorang lainnya mengukir hasil Pande dengan grenda.

Mesin blower dengan tenaga listrik digunakan perajin sejak 10 tahun terakhir. Piranti ini menggantikan perangkat tradisional berbahan baku arang, oleh mereka disebut ubub (memompa angin).

“Sudah 25 tahun usaha Pande ini berdiri, namun tidak ada perubahan ekonomi bagi para perajinnya,“ kata pemilik usaha pande besi,  Ali Rofik,  kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (21/4/2015).

Selama ini para Pande besi yang tetap memilih bertahan, karena tak ada pilihan lain untuk mengepulkan asap dapurnya. Rata-rata mereka yang menekuni usaha membuat perkakas pertanian itu berusia di atas 45 tahun.

Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan 20 tahun lalu. Kala itu banyak pemuda di Moropelang, dan desa-desa tetangga bekerja sebagai penempa besi di bengkel Pande besi. Saat itu belasan pengusaha Pande besi, masing-masing pengusaha, mempekerjakan lima sampai 10 pekerja.

Bahkan tak sedikit dari Pande asal Moropelang membuka cabang usaha hingga ke Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Bojonegoro.

“Saya dulu juga punya Pande besi di Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. Tapi sudah lima tahun ini kembali ke desa,“ terang pria bertubuh kerempeng ini.

Baca Juga :   Pangkah Wetan Menjelma Jadi Wisata Mangrove Muara Bengawan Solo

Saking banyaknya perajin Pande besi, Desa Moropelang populer sebagai sentra Pande di Lamongan. Kini hanya menyisakan tak lebih dari lima orang.

Pada medio sebelum tahun 1990-an, menurut Kaur Umum  Desa Moropelang, Tamin, merupakan masa kejayaan para Pande di desanya. Mereka yang tergabung dalam kelompok perajin Pande besi, mendapat binaan langsung dari Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan Lamongan.

“Kalau tidak salah di tahun 1990 sampai 1995-an, para Pande besi mendapat bantuan rehab bengkel (tempat usaha pande besi) dari Pemkab Lamongan,“ kata Tamin.

Surutnya usaha Pande besi akibat kesulitan mengangkat harga jual perkakas pertanian yang dihasilkan. Selanjutnya secara perlahan satu demi satu para Pande menutup bengkel. Tak sedikit diantaranya banting stir dengan membuka peluang usaha baru.

“Meski harga BBM (Bahan Bakar Minyak) berulang kali naik, namun harga pacul, arit, dan bendo sulit untuk bisa naik. Kondisi ini menjadikan banyak orang yang enggan melirik usaha Pande besi,“ ungkap Ali Rofik.

Harga jual barang yang dihasilkan tidak nyucuk dengan harga besi, dan baja yang setiap tahun naik. Seingat Rofik harga bendo, arit, pacul, caluk, dan gaman (pisau) yang diproduksi para pande besi, selama lima tahun terakhir sulit terdongkrak.

Rofik lalu merinci harga caluk Rp60 ribu perbiji, arit Rp25 ribu perbiji, bendo Rp35 ribu perbiji, pacul Rp60 ribu perbiji, dan pisau Rp5.000 perbiji. Padahal saat ini untuk harga bahan baku yang dibeli dari pengepul barang bekas terus melambung naik. Harga besi Rp7.500 perkilogram, dan baja sudah sampai Rp14 ribu perkilogram.

Baca Juga :   Berburu Ular Demi Menjaga Ekosistem Alam

Untuk setiap barang pertanian tersebut, pembuatannya dilakukan perjenis perkakas. Semisal hari ini mengkhususkan memproduksi arit. Besok memproduksi bendo atau caluk.  Untuk arit bisa diproduksi 80 biji perhari, caluk 25 biji perhari, bendo 35 biji perhari, gaman 100-150 biji perhari, dan produksi pacul jika ada pesanan.

Akar dari persoalan rendahnya harga barang, tidak lepas dari permainan bakul yang mengkulak produksi para Pande besi. Mereka enggan menaikkan harga beli dengan berbagai alasan.

“Nasib Pande besi sepenuhnya di tangan para pengepul (tengkulak). Kami terpaksa menjual dengan harga murah karena tidak punya pilihan. Khawatirnya bakul tidak mau membeli lagi, imbasnya usaha kami gulung tikar,“ keluh Ali.

Sesuai penelusuran Pande besi yang masih bertahan, para pengepul menjual produksi Pande besi di pasar-pasar di Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Gresik hingga Surabaya sampai tiga hingga empat kali lipat.

Pande besi pun akhirnya menekan upah pekerja. Bahkan sistem pengupahannya pun disesuaikan dengan pasang surutnya produksi.

“Upahnya sistem borongan. Rata-rata perorang mendapatkan upah 60 ribu  sampai 80 ribu rupiah perhari. Upah tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan, dan risiko yang harus dihadapi,“ ungkap Ali.

Kini para Pande besi di Mortopelang berharap pada empati dari Pemkab Lamongan. Mereka berharap pemerintah mengangkat nasib mereka, sehingga usaha Pande besi yang sudah melekat di Desa Moropelang tidak hilang tergerus jaman.

Hempasan martil terhadap besi dan baja menganga, masih sanggup mencabik-cabik gendang telinga. Bagai teriakan ketidakberdayaan para Pande besi. Mereka masih bertahan menguri-nguri profesi warisan nenek moyang. Entah sampai kapan. (totok Martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *